
HAMIL
Ram menatap benda pipih yang ada di tangannya. Dua garis merah tercetak jelas di sana. Ram menutup mulut dengan binaran bahagia.
Bergegas ia keluar kamar mandi. Bagas yang tengah berbaring di ranjang dan asik dengan ponselnya, dihampiri istrinya.
"Sayang!" panggil Ram.
Bagas menoleh. Ram memberikannya benda pipih itu. Sedikit mengernyit, Bagas mengambil benda yang diberi oleh Ram.
Melihat dua garis di benda itu. Bagas membelalak.
"Apa ini benar, sayang?" tanya Bagas.
Ram mengangguk antusias sambil tersenyum lebar. Bagas langsung memeluk istrinya. Berulang kali mereka berdua mengucap syukur.
Bagas ******* bibir sang istri dengan menggebu. Ram membalas ciuman suaminya.
Semakin lama, ciuman itu semakin dalam. Bagas merebahkan perlahan tubuh Ram ke atas ranjang. Pria itu langsung menindihnya.
Bagas melepas ciumannya. Kening mereka menyatu, napas menderu. Bagas mulai mencumbu Ram.
Minggu pagi, mereka memulai aktivitas dengan penuh gairah. Desahan dan juga hentakan memacu. Mereka saling berlomba mencari kepuasan. Hingga pada satu titik, mereka melepas semua gairah.
Bagas terkulai lemas di sisi Ram. Wanita itu memeluk erat suaminya.
"Ram mencintai Mas Bagas," ungkap Ram.
"Mas juga cinta banget sama istri Mas."
__ADS_1
"Main lagi yuk," goda Bagas lagi.
Ram merona menahan malu. Tapi, kemudian wanita itu mengangguk.
Ram berpikir, jika kehamilannya kali ini ia, sangat mudah sekali bergairah untuk bercinta. Terlebih jika sang suami berada di dekatnya.
Kehamilan Ram disambut antusias oleh seluruh keluarga termasuk Almira, mertua Ram.
Wanita setengah baya itu sudah lama menginginkan seorang cucu. Maka, mendengar Ram hamil. Almira begitu protektif. Bahkan over protektif dari pada Bagas sendiri.
Hal ini membuat Ram sedikit mengeluh. Tapi, dengan sabar. Bagas meminta Ram untuk mengerti. Terlebih kandungan sang istri juga masih muda dan sangat rentan gugur.
Dalam pekerjaan Kenan juga sangat protektif menjaga sahabatnya Ram. Pria itu tidak segan mengancam atasannya jika Ram tidak menurut.
"Hei aku atasan di sini!" teriak Ram tak terima.
Ram hanya merengut kesal, walau hatinya sedikit menghangat. Pamannya Armando juga datang bersama sang istri.
Ram yang mengetahui kedatangan sang paman. Ia segera mendatangi rumah peninggalan sang ayah.
Ram memang sengaja mengosongkan rumah itu. Tujuannya agar jika pamannya datang mereka tidak menginap di tempat lain.
Almira yang mendengar kedatangan Armando dengan sang istri. Ingin sekali berjumpa dengan wanita yang telah menaklukan hati pria yang dulu ia puja itu.
Bersama Ram, menantunya. Almira datang menyambangi wali dari Ram.
Sosok wanita cantik setengah baya mengenakan hijab krem dengan gamis biru. Almira sempat tertegun melihat kecantikan wanita yang menjadi istri dari Armando itu.
"Silahkan diminum, maaf hanya teh manis dan hidangan dari kampung saya," ujar Deana, itulah nama istri dari Armando.
__ADS_1
Almira tersenyum sambil mengucap terima kasih. Sungguh ia merasa kalah telak dengan penampilan sederhana Deana.
Almira yang berdandan begitu elegan dan menawan. Terlihat jika semua baju yang ia kenakan adalah setelan mahal.
Almira lupa, jika ia memiliki menantu berhijab. Ram tak kalah cantik dengan istri pamannya itu.
Almira mengaku jika selera Armando sangat tinggi. Dan wanita itu merasa jika ia bukan tandingan dari istri Armanto itu.
Armando menatap punggung Almira ketika wanita itu pulang bersama ponakannya. Pria itu menghela napas panjang.
"Mas!" sebuah panggilan merdu mengusik lamunannya.
Deana memeluk suaminya. "Apa perasaanmu masih bergetar melihatnya?"
Armando tersenyum, lalu mengecup mesra kening istrinya.
"Hanya melihatmu, hatiku berdetak lebih cepat dari biasanya, sayang," rayu Armando.
"Ih ... malah gombal," ujar Deana manja.
"Hanya kamu. Tidak ada wanita lain," ujar Armando mengeratkan pelukannya.
"Walau aku tidak bisa memberimu keturunan?" tanya Deana.
"Ya sayang. Meski kau tidak memberiku keturunan," jawab Armando tegas.
Deana memeluk suaminya erat. Sungguh ia beruntung mendapatkan pria yang mencintai apa adanya dia.
bersambung.
__ADS_1