PENGANTIN PENGGANTI DADAKAN

PENGANTIN PENGGANTI DADAKAN
Bab 37


__ADS_3

"Mas," panggil Ram lirih pada suaminya yang kini fokus menyetir.


Setelah makan siang bersama Kenan, sahabat istrinya dan kini menjadi sahabatnya. Bagas mengantar pulang sang istri. Sedang mobilnya dikendarai oleh asisten pribadinya.


"Ada apa sayang," jawab Bagas.


"Sebenarnya, berapa banyak sih mantanmu. Kenapa semua tidak jauh dari keluarga mu?" tanya Ram.


Bagas sangat tidak nyaman dengan pertanyaan istrinya. Ia sangat tahu, jika wanita yang kini mengandung buah cintanya itu tidak memiliki mantan.


"Banyak sih. Dan tidak semua saudaraku," jawab Bagas dengan nada tidak enak.


Sesekali ia melirik Ram. Melihat ekspresi wajah istrinya. Tapi, bukan marah atau cemburu, wanita itu hanya manggut-manggut.


"Kau tidak cemburu?" tanya Bagas sedikit heran.


Ram menggeleng, "aku bukan tipe cewe cemburuan."


"Tapi jika ada yang mengusik milikku lebih jauh. Maka aku tidak akan tinggal diam," lanjutnya dengan aura kelam dan dingin.


Bagas bergidik merasakan aura dingin yang istrinya keluar kan. Ia pasti berpikir jika wanita di sebelahnya seperti istri-istri lain akan mengamuk jika sang suami tergoda atau digoda oleh pelakor.


*******


Malam hari Bagas dan Ram menghadiri acara anniversary salah satu kolega Bagas.


Pria itu merangkul posesif pinggang berisi istrinya. Ram sedikit jengah atas perlakuan suaminya. Tapi, ia tak bisa melakukan apapun selain menurut pada Bagas, suaminya.

__ADS_1


Mereka menikmati pesta. Ram tak sadar jika dirinya diperhatikan sangat intens oleh seseorang. Sepasang mata itu tak lepas dari wajah cantik Ram..


"Kau mestinya milikku. Semestinya anak yang dikandunganmu adalah anakku, buah cinta kita. Tapi, kenapa kau malah menikah dengannya?" gumamnya sangat pelan.


"Apa reaksimu, jika ternyata pria yang mestinya menikahimu adalah aku?" tanyanya masih bergumam pelan sekali.


"Apakah kau marah padaku, atau kecewa dan malah berterima kasih padanya?"


Bagas Aditya menyesali dirinya sekarang. Sungguh ia ingin mengulang di mana hari dia tidak terjebak oleh permainan sahabatnya sendiri.


Aditya menatap wajah ayu Ram dari kejauhan. Pandangannya turun menuju bibir wanita itu tersenyum merekah. Seluruh tubuh Aditya merinding ketika mengkhayal bibir merah menggodanya itu menyentuh bibirnya.


Pikiran kotor mulai merasuki otaknya. Ingin membayangkan lebih dari itu. Tiba-tiba pandangannya terganggu dengan sosok wanita lain yang menghalangi pandangannya.


Wanita bertubuh tambun dengan riasan mencolok memandang ke arahnya. Pandangan mereka bertemu. Wanita itu tersipu melihat tatapan berbeda dari seorang pria padanya. Dengan berani, wanita itu mengerling pada Aditya.


Aditya memutuskan tatapannya. Pria itu setengah berlari meninggalkan keriuhan pesta, menuju toilet.


Di bilik toilet. Aditya membasuh wajahnya dengan air. Memejamkan mata, menetralkan degup jantungnya yang berdetak tak karuan.


Kreik


Bunyi pintu dibuka. Aditya menoleh. Seketika matanya terbelalak melihat siapa yang baru saja masuk dan mengunci bilik toilet.


"Hai ... apa kau menungguku?" tanyanya dengan suara mendesah.


'Siapa pun. Tolong aku!' teriak Aditya dalam hati.

__ADS_1


Sementara di ruang utama. Tampak Rio mencari keberadaan bossnya. Pria tampan itu masih melihat mobil atasannya ada di halaman parkir. Berarti Aditya tak meninggalkan dirinya sendirian di pesta.


"Kemana dia?" tanya Rio. "Apa ke kamar mandi?"


Pria itu bergegas ke kamar mandi. Perasaannya sudah tidak enak. Apa lagi ia melihat Ram ada di tengah pesta. Rio tidak ingin atasannya itu berbuat yang memalukan dirinya sendiri.


Ketika sampai toilet. Rio membuka pintu namun terkunci. Pria itu mencoba mengetuk.


Wanita tambun yang sudah mendekati Aditya yang berdiri ketakutan berhenti. Ia tidak suka jika ada yang mengganggu.


"Hei ... buka pintunya. Atau saya dobrak!" ancam Rio.


Wanita tambun itu menghentakkan kakinya, kesal. Akhirnya ia membuka pintu langsung menatap nyalang Rio yang berdiri di depan pintu.


Rio tak kalah nyalang. Ia berbalik menatap dingin wanita tambun yang mencoba garang terhadapnya.


Melihat tatapan dingin dan menusuk dari Rio. Seketika wanita tambun itu mengkerut takut dan bergegas pergi meninggalkan Rio.


Melihat Rio telah menyelamatkan hidupnya. Membuat Aditya langsung berlari memeluknya.


"Terima kasih, aku tidak bisa hidup tanpamu, Yo!'


"Najis, Bangs*t!" teriak Rio berhasil melepaskan pelukan dari atasannya.


Lalu kabur dari kejaran Aditya yang terus meneriaki namanya.


bersambung.

__ADS_1


et dah ... ana-ana wae.


__ADS_2