PENGANTIN PENGGANTI DADAKAN

PENGANTIN PENGGANTI DADAKAN
Bab 44


__ADS_3

SATU TAHUN BERLALU.


Hari ini adalah tepat satu tahun kelahiran Rahardian dan Amrania. Kedua bayi lucu itu tampak tampil menggemaskan dan lucu. Pipi gembul dan kemerahan menjadi sorotan semua untuk menciumnya.


Bagas sebagai ayah mereka sangat protektif. Tidak ada satu pun yang boleh menyentuh seujung kuku saja pada tubuh anak-anaknya. Tatapan tajam dan arogansi dikeluarkan dengan siapa saja yang hendak mendekati sepasang anaknya.


Hanya Bagas dan Ram saja yang boleh memegangnya. Bahkan kakek dan neneknya dilarang keras setelah pernah Rahardian dan Amrania menangis karena diciumi dengan gemas.


Sosok wanita cantik dengan pakaian seksi datang membawa kado besar.


"Hai ... Kak Bagas apa kabar?!" teriak Tiar.


Semua menoleh ke arah wanita itu dengan tatapan aneh. Tiar cuek saja dengan pandangan itu. Tubuhnya tetap berlenggak-lenggok berjalan mendatangi Bagas dan Ram.


"Duh ... anaknya cantik dan ganteng sekali. Memang kalo bibit unggul itu tidak bisa dibuang ya, mau siapa pun yang melahirkannya," pujian dan sindiran terlontar bersamaan dari bibir yang merekah.


Bagas nampak mendengkus. Ram seakan tak meladeni perkataan Tiar.


"Mau apa kau datang kemari!" sentak Bagas. Ia tak peduli ada banyak orang yang memperhatikannya.


"Tentu saja untuk menemuimu dan memberikan kado untuk calon anak-anak ku," jawabnya penuh percaya diri.


Ram tertawa terbahak-bahak mendengar itu.


"Mas ... mau sama ondel-ondel kek gini?' sifat bar-bar Ram akhirnya keluar juga.


Armanto yang ada di sana mulai pucat ketika melihat sifat bar-bar Ram keluar.


"Ih ... jijik aku lihatnya!' tolak Bagas bergidik.


"Tapi dia PeDe abis loh, kalo kamu mau ama dia!" ujar Ram sambil menunjuk Tiar sepele.


"Hai wanita kampung!"


"Tiar!" bentak Bagas. "Jangan sampai aku berbuat kasar denganmu!"


"Pergi!" usir Bagas.


"Tapi Kak!"


"Pergi!" bentaknya.


"Ini belum selesai antara aku sama kamu, wanita kampung!" ancam Tiar pada Ram..

__ADS_1


Ram langsung berdiri.


"Selesaikan sekarang juga wanita kota!" tantang Ram kini melangkah mendekati Tiar.


"Sayang!"


Ram hanya menampakkan telapak tangan pada Bagas untuk tidak ikut campur. Ia merasa persoalan ini harus selesai sekarang juga.


"Dasar wanita kampung!" tangan Tiar melayang.


Ram menangkap tangan itu dan memelintirnya. Tiar berteriak kesakitan.


"Aduh!"


Ram mendorong keras tubuh wanita itu hingga terjatuh. Ram mendekatinya dengan tatapan tajam dan dingin. Tiar menjadi ketakutan setengah mati.


"Jauhi suamiku, jika kau masih ingin berjalan dengan kaki mu!" ancam Ram dengan tatapan menusuk.


Tiar menelan saliva kasar. Sungguh ia ingin kencing di celana karena saking takutnya.


Tiba-tiba datang seorang pria setengah baya dengan langkah tergesa sambil membungkuk meminta maaf pada semuanya.


"Bawa anakmu itu Dion. Sepertinya gangguan jiwanya bukan makin sembuh, malah makin buruk," ujar Anugrah dengan tatapan dingin pada saudara misannya.


Dion buru-buru menarik Tiar yang kini berwajah pucat. Kembali meminta maaf dan berlaku sambil menarik putrinya keluar dari sana.


'Ck ... gue sama gilanya dong ama dia?!' gerutunya dalam hati.


Pesta di mulai kembali. Para tamu juga sudah menikmati pesta. Anak-anak yatim-piatu yang diundang juga masih bermain di taman belakang.


Pesta ulang tahun pertama anak kembar dari CEO PT Anugrah Cipta. begitu semarak. Karena tidak hanya hadir para kolega dari Bagas, tapi juga kolega dari Ram.


Kenan tampak mengendong Rahadian. Bayi itu tenang di tangan sahabat dari ibunya. Sedang Amrania berada dalam gendongan kakeknya.


Ram mendekati suaminya dan meletakkan kepalanya di bahu Bagas. Pria itu mencium mesra pucuk kepala istrinya.


"Mas ... apa benar Tiar menderita ODGj?" tanya Ram sambil membelai tangan suaminya.


"Tidak. Memang kenapa?" tanya Bagas.


"Kok tadi Papa bilang begitu sama Om Dion?" tanya Ram.


"Ya kan emang kelakuannya seperti orang dalam gangguan jiwa," jawab Bagas.

__ADS_1


Ram manggut-manggut. Bibirnya monyong. Bagas gemas dan mencium cepat bibir yang sudah menjadi candunya itu.


"Ish ... mesum. Nggak liat-liat tempat!' ucap Ram kesal.


"Jadi kalo tempat lain boleh. Seperti kamar kita gitu?" tanya Bagas menggoda Ram.


Ram langsung merona. Wanita itu mencubit keras perut kekar sang suami. Sebenarnya cubitan itu tak terasa sama sekali. Tapi, Bagas mendramatisir. Pria itu mengaduh kesakitan.


"Sayang ... maaf. Ram terlalu keras ya, nyubitnya?" tanya Ram panik dan merasa bersalah.


Bagas masih meringis pura-pura sambil mengusap perutnya.


"Duh ... ayo kita ke kamar. Biar Ram olesi minyak," ajak Ram khawatir.


"Ma, Ram bawa Mas Bagas ke kamar dulu ya. Dia kesakitan," ujar Ram pamit dengan wajah cemas.


Almira menatap Bagas yang meringis. Bagas memberi kode pada sang ibu. Almira tanggap akan kode dari putrinya.


"Ah, iya, sayang. Kau bawalah suami mu ke kamar. Rawat dia sampai sembuh ya, soal anak-anak jangan khawatir," ujar Almira menenangkan Ram.


Ketika Bagas melewati ibunya.


"Makasih, Ma," bisiknya.


"Dasar modus!" cibir Almira juga berbisik.


Ram tidak mendengar bisikan mereka berdua karena memperhatikan kedua anaknya yang masih anteng di gendongan sahabat juga papanya.


Setelah sampai kamar, Bagas mengunci pintu.


"Kok dikunci?" tanya Ram polos.


"Biar nggak ada yang masuk," jawab Bagas anteng.


"Ya sudah, sini buka dulu bajunya. Biar Ram olesin salep pereda sakit," ujar Ram sambil membantu membukakan kancing kemeja suaminya.


Bagas membiarkan sang istri membuka seluruh bajunya. Ram membelai perut kotak-kotak itu dengan lembut. Memang ada tanda merah akibat cubitannya.


Bagas memegang tangan Ram. Mereka saling tatap. Hingga.


Rencana mengobati berakhir dengan penyatuan cinta mereka di atas ranjang.


Tamat.

__ADS_1


akhirnya tamat juga...


eh masih pada mau kisahnya Bagas Aditya nggak nih?


__ADS_2