
BAGASKARA VS BAGAS 2
Sedang di tempat lain. Sosok pria melempar berkas-berkas di atas meja. Kemarahan pria itu benar-benar memuncak.
Ia memaki habis-habisan sekretaris sekaligus asisten pribadinya.
"Bodoh!"
"Brengsek!"
"Sialan!"
Dan sejuta umpatan ia lontarkan kepada sosok yang kini hanya bisa tertunduk.
"Katakan. Siapa yang menggagalkan kerjasama kita dengan wanita itu?" tanya Bagas geram.
"Perusahaan milik suaminya sendiri, Tuan!" jawaban dari sekretarisnya membuat pria tampan itu bungkam seketika.
'Cis ... ciut juga kan nyali Lo!' gerutu Dino.
Terdengar hembusan napas kasar dari atasannya itu. Dino hanya bungkam.
"Mestinya. Dia menjadi istriku, No!" keluh Bagas dengan suara berat.
'Itu salah Lo!' umpat Dino dalam hati.
"Gue tau. Gue salah. Tapi, itu karena gue khilaf, mestinya dia nungguin gue!" racau Bagas lagi.
"Maksud Lo?" Dino bertanya dengan nada malas.
"Mestinya dia nolak untuk menikah dengan pria pengganti itu. Mestinya Ram tahu jika pria itu bukan calon suaminya ... mestinya ...."
"Mestinya Lo nggak lakuin kesalahan untuk tidak berbuat gila sebelum pernikahan!" sela Dino dengan kesal.
Bagas terdiam. Penyesalan begitu ia rasakan sekarang. Tadinya, ia ingin bersaing dengan Bagaskara Raditya Anugrah. Tapi, pria itu sangat tahu levelnya.
__ADS_1
Suami Ram akan menghancurkan bisnisnya seperti debu. Bagas sangat tahu diri akan hal itu.
"Apa emang dia bukan jodoh gue?" tanya Bagas bodoh.
"Ck ... menurut Lo?" tanya Dino malas sambil memutar matanya.
"Cari di mana lagi, gadis sealim dia?" tanya Bagas dengan pikiran menerawang.
"Mungkin Lo, mesti perbaiki diri Lo dulu" jawab Dino asal.
"Karena jodoh merupakan cerminan orang itu. Lo baik ya bakal dapetin yang baik juga," lanjutnya.
Bagas manggut-manggut. Lagi-lagi pria itu menghela napas berat.
"Sekarang, apa ada pertemuan lain?" tanya Bagas.
"Setelah jam makan siang, anda akan ada pertemuan dengan perusahaan Boemi Djaya, kemudian pukul 16.33 ada rapat internal antar pegawai perihal kinerja, Tuan!" jawab Dino menjabarkan jadwal Bossnya.
"Baik. Sekarang waktunya makan siang. Kita majukan saja pertemuan dengan Boemi Djaya, minta mereka memilih restorannya!" titah Bagas.
Sementara di tempat lain Bagaskara sedang menelepon Ram, istrinya.
"Sayang, kita makan siang bareng yuk!" ajaknya melalui sambungan telepon.
"Iya, sayang. Jemput Ram ya. Ram sedikit pusing," ujar Ram disambungan telepon.
"Baik. Tunggu aku lima belas menit," ujar Bagas kemudian menutup sambungan telepon.
Tak lama Bagas sudah berada di kantor Ram. Banyak mata memandang pria tampan ini. Terutama kaum hawa.
"Ebuset ... ganteng amat. Suami masa depan gue itu!"
"Tampan dan gagah. Uh ... pelukable banget bodynya."
"Itu kan Bagaskara Raditya Anugrah. CEO ternama yang baru aja meraih penghargaan pengusaha terbaik kan? Ngapain dia ke sini?"
__ADS_1
"Ck ... sok kegantengan amat sih tuh cowo. Mentang-mentang kaya."
"Siapa sih tuh sok cool!"
Baik yang memuji dan mencibir, tampak ramai ketika melihat sosok tinggi tegap dan tampan itu.
Bagas menuju resepsionis. Dua gadis yang tengah bertugas hanya terpana melihatnya.
Belum Bagas bertanya. Wanita yang dicarinya memanggil.
"Mas!" Bagas menoleh asal suara.
Wanita cantik dengan balutan gamis hitam bercorak dan hijab warna biru terang, datang menghampiri.
Bagas tersenyum. Ketika wanita itu mencium punggung tangannya dengan takzim. Pria itu tak ragu mengecup kening si wanita.
Rona merah langsung menjalar di pipinya yang putih. Tampak puluhan pasang mata menatapnya iri.
Bahkan tak sedikit yang memandangnya dengan mencibir. Padahal mereka tahu apa kedudukan wanita itu di tempat ini.
Bagas menatap tajam yang memandang istrinya, sinis. Aura dingin dan kejam langsung terpancar dari tubuhnya.
Maka berpasang-pasangan mata yang memandang istrinya sinis, langsung menunduk takut.
"Sayang. Kenapa kau tidak pecat mereka yang tidak kompeten di perusahaanmu?!" tegur Bagas dengan suara sedikit dikeraskan.
Mendengar kata PECAT, membuat mereka yang berkumpul dan bergosip langsung berlarian kesana-kemari.
Ram hanya tertawa melihat karyawannya yang berlarian. Lalu menarik tubuh tegap dan kaku itu keluar.
"Ayo sayang. Ram, sudah lapar," ajak wanita itu.
Bagas yang ditarik hanya bisa menghela napas. Ia berencana akan menghubungi Kenan, sekretaris Ram.
Bagas sudah akrab dengan pria itu. Hanya pada Kenan, ia tidak merasa cemburu.
__ADS_1
bersambung