PENGANTIN PENGGANTI DADAKAN

PENGANTIN PENGGANTI DADAKAN
Bab 31


__ADS_3

Seminggu sudah sejak penguntitan. Kepolisian menyuruh Ram untuk datang. Mereka memberi laporan hasil penyelidikan.


"Begini, Bu. Hasil dari penyelidikan kami, ternyata mobil itu memakai nomer plat palsu. Penyelidikan kami terhenti karena jenis mobil yang banyak dan tidak adanya transaksi penyewaan atau pembelian secara ilegal pada waktu bersamaan dengan hari anda dikuntit," jelas kepala kepolisian.


"Apa tidak mungkin itu mobil pribadi, tapi memakai plat palsu, Pak?" tanya Ram.


"Itu bisa jadi. Kami mencari keberadaannya melalui CCTV jalan raya, ketika hari anda diikuti. Sayang. Mobil hilang dari jangkauan kamera pengawas di sekitaran jalan menuju desa K. Di desa itu ada akses jalan menuju delapan kota. Hanya tiga kota yang memiliki kamera pengintai. Sedang yang lainnya belum. Tapi, jika berjalan hingga delapan kilometer, mobil apapun pasti terpantau. Sayang, semua kamera tidak menemukan jejak apa pun!" jelas kepala kepolisian panjang lebar.


"Bisa jadi, mobil itu mengganti plat mobilnya, ketika tidak berada dalam kawasan kamera pengintai, juga terduga pelaku tidak membuang nomor itu di mana pun," lanjutnya.


Ram menghela napas panjang. Wanita yang usia kandungannya mencapai lima bulan itu, sedikit termenung. Kemudian, ia meminta ijin untuk menelpon suaminya.


"Silahkan, Bu," ujar kepala kepolisian mengijinkan.


Ram berdiri sedikit menjauh. Ia menelpon Bagas. Tak lama ia mengemukakan niatnya untuk mencabut laporan. Setelah mendapat tanggapan dari suaminya. Ram kembali duduk di depan polisi.


"Begini, Pak. Karena kondisi saya tengah hamil. Saya, mencabut laporan saja, karena penyelidikan ini membutuhkan proses yang cukup lama. Sedang saya, tidak bisa selalu memberikan keterangan jika diminta," ujar Ram.


"Apa, Ibu yakin?" tanya kepala kepolisian.


"Saya yakin, Pak!' jawab Ram.


"Baik. Kami akan mencatat pencabutan laporan. Tapi, kami akan tetap menyelidiki kasus ini, karena ada tindakan pidana lain, seperti kasus plat palsu tersebut. Jika ada perkembangan. Kami akan segera memberitahukan Anda," jelas kepala kepolisian panjang lebar.


Ram hanya mengangguk untuk memberi tanggapan. Wanita itu pulang diantar oleh supir pribadi Bagas. Pria itu tidak mau istrinya kenapa-kenapa lagi setelah kejadian seminggu yang lalu.

__ADS_1


"Nyonya, kata Tuan Bagas tadi, saya disuruh untuk mengantar Nyonya langsung ke kantor," jelas Pak Maman sang supir.


"Loh kok. Tapi, saya ada jadwal cek up ke dokter kandungan nanti sore," ujar Ram..


"Iya, kata Tuan. Beliau yang akan mengantarkan Nyonya," jelas Pak Maman.


Ram melihat jam di pergelangan tangan kanannya. Baru pukul 11.45.. Sebentar lagi masuk makan siang.


"Baik lah. Sekalian nanti makan siang di sana," ujar Ram.


"Iya, Nya. Tadi Tuan juga bilang begitu. Habis makan siang, Nyonya bisa istirahat dulu dan baru cek ke dokter," ujar Pak Maman menimpali.


Wanita itu hanya diam. Ia meratakan punggungnya pada jok yang sedikit diturunkan agar dia lebih nyaman untuk duduk. Bahkan di kakinya ada kursi penyangga agar tidak lama menggantung. Memang Bagas, suaminya itu begitu sangat memperhatikan kenyamanan istrinya selama kehamilan.


Sekitar satu jam. Ram baru sampai depan lobby perusahaan sang suami. Wanita itu turun dengan anggun. Balutan gamis warna biru cerah dengan khimar warna navi. Sangat sederhana. Tapi, karena pembawaan Ram yang memang kuat dan anggun. Dia tetap sangat mempesona.


Ram sungguh tidak peduli. Toh, orang memiliki pendapat masing-masing, bukan?


Tepat dia sampai pintu lift khusus. benda itu terbuka dan mendapati orang yang menjadi suaminya selama ini, tengah memberi pengarahan pada sosok mungil dan cantik yang berdiri di sampingnya.


Bagas menoleh. Ketika mendapati istrinya di depan pintu lift. Pria itu langsung tersenyum semringah. Tanpa ragu. Bagas memeluk Ram erat dan mencium keningnya lembut di depan banyak orang.


"Mas!" tegur Ram dengan rona merah di pipi karena malu.


Bagas terkekeh melihat istrinya yang menahan malu. Tapi, pria itu memang tak pernah merasa malu untuk mempertontonkan kemesraannya di tempat umum. Terlebih ini adalah perusahaan miliknya. Memang, siapa yang berani menegur?

__ADS_1


"Nggak baik, Mas," Ram memperingati.


Bagas sangat mengerti maksud istrinya. Tapi, apalah daya dengan dia yang sudah bucin setengah mati dengan istrinya itu.


"Aish ... baiklah. Sekarang temani aku makan siang. Oh ya, Tiar. Kamu lanjutkan semuanya nanti dengan Rio asisten saya, ya," titahnya.


Tanpa mendapat persetujuan dari bawahannya yang sepertinya hendak protes itu. Bagas langsung merangkul pinggang Ram yang sedikit berisi secara posesif. Pria itu membawa istrinya pergi menuju mobilnya yang tadi dikendarai oleh Pak Maman.


Usai makan siang di restoran. Sepasang suami istri ini sudah kembali ke perusahaan.


Tingkah Bagas yang memperlakukan istrinya mesra menjadi pusat perhatian. Netranya tak lepas dari wajah Ram, yang makin chubby, tapi sangat menggemaskan itu.


Begitu sampai di ruangannya. Bagas mengunci otomatis ruangannya. Kemudian ia memencet interkom.


"Rio. Tolong kau kendalikan semuanya. Hingga waktu pulang. Jangan ganggu saya!" titahnya.


Bagas terus menarik istrinya. Pria itu tak sabar untuk menjamah Ram di tempat berbeda.


Sebagai istri soleha. Tentu, dia tak boleh menolak keinginan suaminya bukan?'


"Mas, jika tahu begini, kenapa tidak pulang ke rumah saja!' ujar Ram dengan bias rona merah di wajahnya.


"Nanti di rumah, beda lagi, Sayang," jelasnya dengan napas berat.


Bersambung.

__ADS_1


ah selanjutnya tentu kalian tahu kan .. othor mah belaga polos aja deh


hehehehe....


__ADS_2