
WANITA PENGGANGGU
Bagas tengah menatap iPad miliknya. Tertera di sana jurnal bisnis yang harus ia kerjakan dengan segera.
Tok ... tok ... tok!
Terdengar pintu diketuk dari luar. Bagas menyuruh masuk. Sosok wanita berbalut busana formal tapi terlihat seksi.
Bagaimana tidak. Rok span yang dipakainya hanya berada sejengkal dari pangkal ***********. Memakai kemeja warna biru tua dengan motif leher V berenda dengan potongan sangat rendah sangat ketat. Hingga dua gundukan di dada seperti ingin melompat keluar.
Wanita itu melenggak-lenggok-lenggok menghampiri Bagas yang belum mengangkat wajahnya.
"Selamat siang, Tuan Anugrah!" sapanya dengan suara mendesah.
Bagas mendongak. Matanya mengernyit. Mengenali wanita yang baru saja masuk, membuat ia menghela napasnya.
"Ada apa Karla?" tanya Bagas tanpa basa-basi.
"Ck ... to the point sekali. Ayo lah, apa kau tidak merindukanku?" tanya Karla sambil mengerlingkan matanya.
Bagas memencet interkom.
"Tia, masuk kemari segera!" titah Bagas.
Karla hanya mendesah. Tak lama kemudian Tia masuk dan tampak terkejut melihat wanita yang berdiri di depan meja Bossnya.
"Nona Rahardian, kenapa anda bisa masuk kemari?" tanya Tia bingung .
Gadis itu sangat tahu akan hal itu. Karla adalah wanita yang dulu pernah membuat Bossnya nyaris mengkonsumsi obat-obatan terlarang.
__ADS_1
"Maaf Tuan, Saya tadi sedang di toilet. Mungkin Nona Rahardian masuk, tanpa sepengetahuan saya!" ujar Tia menjelaskan.
Karla hanya menuruti ketika Tia menyeretnya keluar.
"Kita akan bertemu lagi, sayang. Dan akan mengulang kembali masa-masa indah dulu," ujar Karla sambil melambaikan tangannya.
Bagas hanya mendengkus kesal. Ia kembali duduk sambil memijit pelipisnya yang pening mendadak.
Tiba-tiba ia teringat Ram, istrinya.
"Ah ... semoga Karla tidak tahu jika aku sudah menikah. Aku tidak mau jika Ram dan bayi yang tengah dikandungnya dicelakai oleh wanita biadab itu," ujar Bagas bermonolog.
Karla keluar dari perusahaan milik Bagas dengan wajah malu. Ia tahu jika ia memiliki kesalahan fatal pada pria itu.
waktu itu Karla dan Bagas tengah bercumbu. Mereka bukan sepasang kekasih. Tapi, bercumbu sudah jadi ritual kedua insan beda kelamin tersebut.
"Gas ... ahh!" Karla mendesah ketika Bagas merangsang dirinya.
Alasan pria itu, hanya ingin melakukan penyatuan ketika sudah menikah. Terkesan kolot memang.
"Tidak ada yang meminta keperjakaanmu nanti," ujar Karla masih menggoda pria tampan itu.
Bagas menggeleng. "Kita masih ada hubungan darah, Karla. Jadi, jangan berbuat lebih selain foreplay."
Karla berdecak. Sungguh, ia masih bernapsu untuk melakukan hal itu lebih.
"Gas," panggil Karla yang disahuti hanya deheman oleh Bagas.
"Aku punya barang bagus," ujar Karla.
__ADS_1
"Barang bagus?" Bagas mengernyit.
Karla membisikkan sesuatu. Bagas membeliakkan matanya.
"Tidak ... tidak. Jauhkan barang itu dari hadapanku. Aku tidak mau berurusan dengan narkoba," ujar Bagas menolak tawaran Karla.
"Ayolah ... ini enak. Coba sekali, kau pasti ketagihan!" bujuk Karla lagi.
Bagas menggeleng keras. Pria itu bangkit dari ranjang, memakai kemejanya.
Karla yang setengah telanjang, tetap membiarkan dirinya seperti itu.
Gadis itu bangkit dari ranjang tempat di mana mereka bercumbu. Memeluk Bagas dari belakang.
Karla mengelus kembali benda keramat yang terbungkus celana kulot itu.
Bagas mengerang. Ia langsung melepas pelukan Karla. ******* bibirnya dan mulai meremas payudara gadis itu.
Suara decakan terdengar. Tapi, kemudian Bagas menghentikan aksinya. Dengan bergegas, pria itu melangkah.
"Aku pergi," ujarnya.
Kemudian pria itu membuka pintu kemudian menutupnya. Karla hanya mendengkus kesal. Birahinya mesti tersalurkan.
Sebuah ketukan terdengar.
"Room servis!"
Tak ambil pusing. Karla membuka pintu dan menyeret room boy yang bertugas membersihkan kamar hotel tersebut.
__ADS_1
bersambung
eh ... ngapain Karla ya?