PENGANTIN PENGGANTI DADAKAN

PENGANTIN PENGGANTI DADAKAN
Bab 39


__ADS_3

Pagi menjelang. Baik Anugrah dan Almira sudah duduk di ruang makan untuk sarapan. Bagas dan Ram pun turun dari lantai dua menuju ruang makan untuk bergabung sarapan.


Hari ini adalah hari sabtu. Semenjak menikah Bagas tak lagi main keluar atau sekedar hangout bersama teman-teman bisnisnya. Pria itu banyak menghabiskan waktu di rumah dan belajar mengaji pada istrinya.


Perubahan Bagas sangat besar. Bahkan cara ia memimpin perusahaan juga jadi jauh lebih bijak dan penuh perhitungan matang semenjak menikah dengan Ram. Sungguh wanita itu sangat berarti dalam perubahan Bagas saat ini.


"Selamat pagi, Ma, Pa!" sapa sepasang suami-istri muda itu sambil tersenyum.


Anugrah dan Almira juga membalas sapaan mereka. Melihat mood Ram pagi ini, membuat keduanya saling pandang. Apa permasalahannya tadi malam sudah selesai?


Ram melayani Bagas seperti biasa. Bahkan ia sedikit manja dengan suaminya. Ram meminta disuapi. Dengan penuh cinta, pria itu menyuapi istrinya.


"Wah mesra sekali?" puji Almira.


"Mama jadi iri," lanjutnya sinis sambil melirik arah suaminya.


Anugrah yang dilirik hanya berdehem sambil menggaruk belakang telinga. Sungguh, ketika sudah berusia lanjut begini, pria itu sedikit malu mengumbar kemesraan dengan istrinya.


Entah ada angin apa. Anugrah bangkit dari tempat duduknya, kemudian ia merengkuh bahu Almira dan mencium lama pucuk kepala sang istri.

__ADS_1


Mendapat perlakuan istimewa dari sang suami. Membuat hati Almira senang bukan main. Memang dari awal menikah, sang suami jauh dari kesan romantis.


"Tolong buatkan Papa, teh ya, Ma," pintanya lembut sambil mengusap pipi sang istri yang tiba-tiba merona.


Almira mengangguk. Kegugupan langsung terlihat dari gestur tubuhnya. Matanya melirik dua insan yang berada di sana. Sepertinya mereka berdua cuek. Almira menghela napas. Kemudian ia berdiri dan membuat teh untuk suaminya.


Sedang baik Ram juga Bagas sebenarnya sudah menahan senyum dari tadi melihat kelakuan kedua orang tuanya.


"Ram, Bagas. Selesai sarapan, kita bicara bareng ya," ajak Almira sambil membawa secangkir teh di atas nampan.


Keduanya mengangguk menanggapi. Tak lama, sarapan sudah selesai. Mereka berdua menghampiri Anugrah dan Almira di ruang keluarga.


"Ram. Sebelumnya kami, meminta maaf atas semuanya. Sebenarnya, memang suami yang harusnya menikahimu bukanlah putra kami. Tapi, sebelum itu. Papa akan menceritakan kenapa Bagas kami yang menikahi kamu."


Anugrah pun menceritakan awal mendatangi rumah calon istri Bagas yang kosong. Mereka ditipu dan membawa lari sejumlah uang yang dipergunakan untuk pernikahan tersebut.


"Ternyata. Di hari yang sama kau juga tengah menunggu mempelai pria. Mama mertuamu mengenal pamanmu dan bertemu secara tak sengaja di luar saat itu. Hingga terjadilah pernikahan ini. Tapi, inti dari semua itu adalah takdir. Kalian memang berjodoh satu dengan lainnya, walau melalui kejadian yang sangat tidak diinginkan," jelas Anugrah panjang lebar.


Ram menghela napas lega. Semuanya sudah jelas. Bahwa memang ada terjadi kesalahan waktu itu. Hanya saja, Ram ingin mengetahui kejadian yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Ram rasa itu tidak masalah, Pa. Bagi Ram, saat ini pria yang menjadi suami Ram adalah Mas Bagas, bukan pria lain," jawaban Ram melegakan semuanya.


"Mas Bagas lah pria yang menjabat tangan wali, Ram saat pengalihan tanggung jawab. Mas Bagas lah nama yang tertulis di buku nikah dan tercatat sebagai suami di KUA. Tidak hanya itu, Mas Bagaskara Raditya Anugrah adalah jodoh Ram yang ditulis di lauhul mafus," lanjutnya.


Bagas yang mendengarnya langsung memeluk Ram erat dan menciumi wajah istrinya. Ram tergelak kegelian. Wanita itu kini merona malu, karena perbuatan suaminya. Terlebih kedua mertuanya kini tersenyum usil.


"Hei jika ingin lebih. Pergilah ke kamar kalian," usul Anugrah.


Bagas langsung menggendong tubuh Ram yang sangat berisi. Tapi, seperti tidak merasa keberatan. Dengan mudah dan cepat, suami Ram itu menggendong dan membawanya ke kamar.


Anugrah hanya bisa menggeleng. Ia menghabiskan teh. Kemudian tiba-tiba pria yang tak lagi muda namun masih gagah dan tampan itu menggendong Almira menuju kamar mereka.


Almira sangat terkejut. Sampai kamar. Anugrah mengunci kemudian berjalan menuju ranjang mereka dan menaruh tubuh istrinya secara hati-hati.


Almira menatap wajah suaminya. Jantungnya berdebar keras. Anugrah juga memandangi wajah cantik yang telah menemaninya nyaris tiga puluh tahun itu.


Pagi itu. Anugrah menunjukkan kejantanannya. Pria itu mereguk manis cinta sang istri. Almira pun memberikan pelayanan terbaiknya walau dengan malu-malu.


bersambung ...

__ADS_1


kejujuran membawa berkah 😂🤭


__ADS_2