PENGANTIN PENGGANTI DADAKAN

PENGANTIN PENGGANTI DADAKAN
Bab 34


__ADS_3

Sosok pria tampan berdiri dengan gagah di hadapan sosok tampan satunya. Pria bernama sama itu saling menatap dengan tajam.


Bagaskara Raditya Anugrah dengan Bagas Aditya, kini saling menatap satu sama lain. Dan akhirnya perang tatap itu dimenangkan oleh Bagaskara.


Tentu, Bagas Aditya harus memutuskan tatapannya segera, jika pria itu tidak ingin nasib perusahaannya hancur dalam hitungan detik karena melawan pria penguasa bisnis itu.


'Ck ... sudah menang tampang, menang kekuasaan pula,' keluh Bagas dalam hati.


Keduanya kini berada dalam satu gala dinner yang diselenggarakan oleh perusahaan Bagaskara. Semua perusahaan diundang termasuk dengan perusahaan Aditya (sebut saja namanya itu, karena namanya sama dengan tokoh utama).


Ramalia Az-zahra pun datang bersama Kenan, tangan kanan wanita itu. Kenan yang menjadi asisten, sekaligus sekretaris sahabatnya, menemani atasannya mendatangi gala dinner sekalian perkenalan diri Ram sebagai pemilik PT Sinar Berkah.


Banyak yang tidak menyangka, jika sosok pemilik perusahaan yang kini mulai naik daun adalah seorang wanita berhijab yang kini mengandung.


Bahkan makin terkejut ketika Bagaskara memperkenalkan, Ram sebagai istrinya di hadapan Audience.


Betapa Aditya sangat tidak menyukai kenyataan itu. Ingin dia berteriak jika dirinya lah semestinya menjadi suami dari wanita cantik berhijab itu.


Ketika Aditya melihat Ram tengah sendiri. Pria itu dengan cepat mendatanginya. Dengan mengumpulkan segala keberaniannya. Aditya berencana akan mengungkap semuanya.


Belum lagi ia mendekati wanita itu. Seseorang menahan lengan Aditya. Dia adalah asisten Aditya.


"Mau kemana, Boss?!" tanyanya dengan suara tajam.


"Ck ... jangan ikut campur. Ini urusan gue!" bentak Bagas.


"Lu jangan malu-maluin diri Lu sendiri!" sentak pria itu mengingatkan.


"Hah! Gue nggak peduli. Yang penting, Ram mesti tahu kalo yang harus menikahi dia adalah gue!" teriak Aditya kesal.

__ADS_1


"Kalo Lu ngomong gitu ke Ram. Lu yang bakal malu. Karena Lu kan yang ninggalin dia di hari pernikahan?!" seru pria itu tak mau kalah.


"Tapi mestinya Ram sabar, nungguin gue!" teriak Aditya tak terima.


"Ngapain nungguin pria brengsek yang ninggalin dia di hari pernikahannya!" teriak Dio lagi penuh dengan emosi.


Beruntung pertengkaran mereka tidak ada yang menanggapi, karena suasananya memang sangat ramai. Suara musik dan manusia yang sedang berbincang juga tak kalah saling sahut menyahut.


Pertengkaran kedua pria itu bukan hal besar yang harus menjadi perhatian. Kecuali ....


Bugh! Aditya memukul wajah Dio keras hingga pria itu terhuyung kesamping.


"Hei, ada apa ini. Kenapa berkelahi!" teriak salah seorang pria dengan setelan jas mahal dan elegan.


Aditya langsung ditangani para tamu pria agar tidak lagi melakukan hal gegabah. Dio, sahabat sekaligus asisten pribadi Aditya, sangat kecewa. Pria itu menggeleng lemah sambil mengusap pipinya yang sedikit memar. Ia mendekati Aditya.


Orang-orang pikir, lelaki itu akan membalas perbuatan Aditya. Hingga banyak orang yang menyabarkan dirinya. Dio hanya menggeleng mengatakan ia tidak akan membalas perbuatan Aditya.


Mendengar perkataan Dio membuat Aditya sadar. Pria itu sudah keterlaluan dengan sahabat sekaligus pria kepercayaannya itu.


"Dio kembali!" titah Aditya sambil berusaha melepas cengkraman tangan orang-orang yang menahannya.


Pria yang dipanggil enggan untuk berhenti. Dio tetap berjalan meninggalkan pesta. Aditya kalut bukan main. Pria itu tidak bisa menjalankan bisnisnya jika tidak ada bantuan Dio.


Aditya berlari mengejar sahabatnya. Hingga sampai halaman parkir. Pandangannya mengedar melihat penampakan sahabatnya.


Terlihat oleh Aditya, Dio tengah duduk di bahu taman.


"Yo!" pria itu menengadahkan kepalanya.

__ADS_1


"Ngapain Lu di sini?" tanya Aditya.


Dio menghela napas. Hidupnya memang tidak bisa lepas dari sahabat sejatinya itu.


"Gue mau pulang," jawabnya lirih.


"Trus kenapa Lu nggak pulang?" tanya Aditya.


"Gue nggak punya ongkos," jawab Dio menahan malu.


Aditya tersenyum. Dia sangat tahu jika seluruh gaji bawahannya itu diserahkan pada ibunya yang mengurusi empat orang adiknya yang banyak membutuhkan biaya.


Hingga jarang Dio memliki uang cash di dalam dompetnya. Seperti hari ini.


"Ya, udah. Gue anter Lu pulang, Tapi dengan syarat!"


"Apa!"


"Lu tetep kerja ama gue!" Dio mengangguk.


Aditya tertawa lalu menarik lengan sahabatnya.


"Gue nggak bisa hidup tanpa Lu,'" aku Aditya.


"Najis gue dengernya!" teriak Dio jijik.


Aditya tertawa terbahak-bahak. Dalam hati. Ia tak akan melepas pria sehebat Dio. Tapi, ia juga tetap dalam rencananya untuk memberitahukan Ram, siapa yang semestinya menjadi suaminya.


bersambung.

__ADS_1


ih kok maksa sih


__ADS_2