PENGANTIN PENGGANTI DADAKAN

PENGANTIN PENGGANTI DADAKAN
Bab 41 (revisi)


__ADS_3

Usia kandungan Ram kini menginjak sembilan bulan. Sudah waktunya untuk melahirkan. Bagas ingin istrinya melakukan cecar agar anak dalam kandungannya segera keluar. Tapi, Ram ingin lahir normal, hanya tinggal menunggu kontraksi saja.


Hingga suatu pagi. Ram baru selesai sholat subuh. Tiba-tiba perutnya mulai kontraksi. Bagas yang melihat langsung siaga. Pria itu langsung membimbing istrinya turun dari lantai dua.


"Ma ... Pa! Ram mau lahiran!" teriaknya.


Tampak kegaduhan dalam kamar kedua orang tuanya. Bagas sedikit mengernyit.


"Lagi habis pada ngapain sih? Berisik gitu?" tanyanya bergumam.


Rupanya Anugrah dan Almira baru saja memulai cumbuan pagi usai subuh. Mendengar teriakan putranya jika sang menantu akan melahirkan. Sontak membuat keduanya kelimpungan.


Baju yang sudah nyaris terlepas semua, harus dipasang kembali. Belum lagi menetralkan gairah mereka yang sempat terbakar.


"Kamu duduk sini dulu ya, aku siapin semuanya. Atur napas seperti yang diajarkan dokter selama ini," titah Bagas sambil mengelus perut buncit istrinya.


Ram mengangguk. Sesekali ia mengerang sakit, tapi kemudian ia menenangkan diri dengan terus bertasbih. Kontraksinya berlangsung setiap sepuluh menit.


Ram menahan agar ketubannya tidak pecah duluan, sebelum mereka sampai rumah sakit.


Anugrah dan Almira keluar dengan baju ala kadarnya. Rambut ibu mertuanya seperti belum disisir. Begitu juga ayah mertuanya. Bagas turun kemudian mengernyit melihat kondisi kedua orang tuanya.


"Papa, Mama habis apa?" tanyanya penasaran.


"Ti-tidak apa-apa!" jawab mereka gugup.

__ADS_1


Seketika Bagas terbeliak melihat tanda merah di leher kedua orang tuanya.


'Apa-apaan mereka!' ketus Bagas tak percaya. 'Nggak ingat umur!'


"Masss!" rengek Ram setengah berteriak.


Bagas langsung berlari. Almira langsung mengambil tas dari tangan Bagas.


"Ayo, kita berangkat. Tidak ada yang tertinggal kan? Apa sudah dihubungi dokter kita?' tanya Anugrah setelah menguasai dirinya.


"Sudah Pa," jawab Bagas, pria itu sejenak melupakan apa yang baru saja dilihatnya.


Mereka bergegas ke rumah sakit. Di sana tim medis sudah menunggu. Perut Ram mulai kontraksi per lima menit. Air ketuban sudah merembes di gamisnya.


Sedang Ram hanya beristigfar. Ia kadang-kadang berteriak menahan kesakitan luar biasa.


Begitu diletakkan di brangkar. Ram langsung di larikan ke ruang bersalin. Bagas mengikutinya. Dokter langsung melakukan pemeriksaan.


"Sudah pembukaan tujuh. Ibu bisa atur napas. Bayi sudah pada letaknya dan siap dilahirkan," ujar dokter kandungan.


Ram mulai mengatur napas. Mengejan, atur napas lagi. Dokter menurunkan pinggul Ram agar tidak terangkat dan membuat bibir vag**na sobek.


"Ya, sedikit lagi, tekan yang kuat. Ya ... berhenti, kepala bayi sudah keluar."


Ram dan Bagas bernapas lega.Tangis bayi kencang terdengar.

__ADS_1


"Selamat ya Bu. Anaknya ganteng," ujar dokter lalu meletakkan bayi di dada Ram.


Baru saja lima menit Ram mengeluarkan bayi pertamanya. Wanita itu kembali mengaduh. Perutnya lagi-lagi kontraksi. Hanya mengejan dua kali. Lahirlah bayi kedua dengan jenis kelamin perempuan.


Bayi pertama mencari-cari sumber penghidupannya. Dan "hap"! bayi mencucup kuat pucuk dada Ram. Wanita itu sedikit meringis ketika hisapan kuat dari bayinya. Dokter kembali melakukan hal yang sama pada bayi kedua Ram. Bayi kedua pun menghisap kuat ketika sudah menemukan sumber kehidupannya.


Bagas tertawa melihat bayinya yang menyedot kuat pucuk dada istrinya.


"Hei ... jangan habiskan. Ayah nanti nggak kebagian!' selorohnya.


Ram hanya berdecak kesal mendengar itu. Kemudian ia tersenyum. Mengelus kepala kecil putra dan putrinya.


Kedua orang tua Bagas datang. Mereka begitu terharu. Walau ini bukan cucu pertama mereka. Tapi, ini adalah cucu dari pewaris tunggal mereka.


Bayi kembar mereka langsung dibersihkan. Ram dipindahkan ke ruang perawatan. Tak lama, box bayi dibawa ke ruangan.


"Aduh, gantengnya. Apa kalian sudah memberi nama?' tanya Almira ketika bayi itu diserahkan padanya.


"Namanya Rahardian Bagaskara Anugrah," jawab Bagas. "Sedang yang cewe Amrania Bagaskara Anugrah."


"Nama yang bagus," puji Anugrah yang menggendong cucu perempuannya.


Bersambung.


Alhamdulillah lahiran.

__ADS_1


__ADS_2