
Karla dibawa oleh ibu kandungnya untuk melakukan pengobatan juga rehabilitasi di luar negeri.
Sedang Bagas kini dalam kondisi pemulihan. Pria itu terus melakukan treatment hidup sehat agar efek ekstasi tidak teringat dalam memorinya.
Anugrah bertanya perihal kehamilan Karla yang kemarin harus dikiret karena keguguran.
Bagas bersumpah, jika ia tidak sampai melakukan lebih jauh dari sekedar foreplay.
Bagas nyaris dipukuli Anugrah, ketika mendengar pengakuan putranya tersebut, jika saja Almira tidak mencegahnya.
"Apa kau ini tidak pernah berpikir sebelumnya. Di mana otak jeniusmu?!" sergah Anugrah kalap.
"Dia adikmu. Ada darah yang sama mengalir, karena kakeknya dan kakekmu adalah kakak beradik!"
"Kemana otakmu!"
Kemarahan Anugrah benar-benar membuat Bagas tertunduk. Ia sangat menyesali perbuatannya.
"Ampun, Pa," cicit Bagas lirih.
"Jangan minta ampun sama Papa. Tapi minta ampun sana sama Allah!"
Bagas makin tertunduk.
"Jika begini, sebaiknya kau menikah," saran Anugrah.
"Aku tak mau dijodohkan!" tolak Bagas.
__ADS_1
"Jangan ke-pedeaj kamu! Siapa juga yang mau mencarikan istri untukmu! Tidak ada yang bisa diandalkan. Hanya modal tampang saja!" sakras Anugrah.
Bagas hanya tertunduk. "Pa. Sudah lah. Jangan ditekan terus, anaknya," ujar Almira. "Ingat, Papa juga harus jaga kesehatan. Bukankah akhir-akhir ini jantung Papa bermasalah?!"
"Iya, bermasalah gara-gara anakmu ini!" umpat Anugrah kesal.
"Sudah Pa! Dia juga anakmu!" ucap Almira kesal.
Anugrah hanya bisa menghela napas berat. Tiba-tiba dokter datang menyerahkan satu file hasil test DNA.
"Ini testnya, Pak. Hasilnya 99,99% janin itu bukan dari benih Pak Bagas," jelas dokter.
Anugrah menghela napas lega, begitu juga Almira.
"Tuh kan benar. Bukan aku yang bu ...."
Flashback End.
"Sekarang kamu, pulang. Dan jangan pernah tampakkan muka kamu di rumah ini lagi!" usir Anugrah.
Dalam diam. Karla bangkit dan mengambil tasnya. Ia berjalan dengan kepala tertunduk.
Setelah Karla benar-benar pergi dengan mobilnya. Anugrah langsung duduk di sofa sambil meraba dadanya.
"Pa!" Baik Almira dan Ram langsung ikut duduk mencemaskan Anugrah.
"Papa tidak apa-apa," jelas Anugrah.
__ADS_1
"Nak Ram. Kau harus waspada dengan wanita itu. Jika ia mendatangimu dan mengatakan apa pun tentang Bagas. Jangan kau percaya," ujar Anugrah memperingatkan Ramalia.
Walau Ram tidak mengetahui apa yang terjadi. Tapi, sebagai menantu, wanita itu menuruti apa kata papa mertuanya.
"Iya, Pa," jawab Ram.
"Bagas memiliki masa lalu yang sangat buruk. Tapi, sekarang kau tengah mengandung anak Bagas. Jadi Papa mohon, agar kamu tidak mengungkit atau menanyakan masa lalu suamimu, ya!" pinta Anugrah. "Memang Papa sangat egois. Tapi, Papa yakin kau pasti mau mengerti."
"Iya Pa. Ram tidak akan mempermasalahkan masa lalu, Mas Bagas. Lagi pula, Ram juga sangat mencintainya. Jadi biarlah masa lalu itu. Yang Ram tau sekarang dan masa depan," jelas Ram panjang lebar.
Mendengar penjelasan menantunya itu, membuat Anugrah tersenyum lega. Pria itu membelai sayang kepala Ram yang dibungkus jilbab lebar.
"Papa sangat beruntung memiliki menantu seperti dirimu, Nak," puji Anugrah.
"Ram juga beruntung punya mertua sebaik Papa dan Mama," balas Ram memuji kedua mertuanya.
"Ya sudah. Papa sekarang mandi dulu, nanti kita makan malam bersama. Oh ya, apa Bagas sudah menelpon?" tanya Anugrah.
"Sudah, Pa. Tadi sebelum wanita tadi datang. Mas Bagas sudah telepon katanya sih dia akan berusaha pulang secepatnya. Walau Ram tadi bilang jangan buru-buru," jawab Ram.
"Ya, sudah. Kita tak perlu menunggunya makan. Bukankah perjalanan dari kota A cukup jauh. Tolong beri dia pesan singkat, suruh berhati-hati," ujar Anugrah kemudian ia bangkit dari sofa diikuti Almira juga Ram.
"Baik, Pa!" jawab Ram kemudian.
Anugrah dan Almira pergi ke kamar mereka di lantai dua. Sedang Ram merogoh saku gamisnya dan memberi pesan singkat untuk sang suami sesuai dengan perintah mertuanya.
bersambung
__ADS_1