PENGANTIN PENGGANTI DADAKAN

PENGANTIN PENGGANTI DADAKAN
Bab 35


__ADS_3

Armanto datang membawa istrinya dari desa. Kini mereka berdua berada di rumah Ram. Armanto sedang menghitung semua hasil panen yang terjual untuk membagikan hasilnya pada kemenakan tersayang.


Sore itu ia tengah duduk di teras. Menikmati secangkir kopi dan pisang goreng buatan istrinya.


"Assalamualaikum, Pak Arman!' sapa seseorang di luar pagar.


Arman menoleh ke asal suara. Didapatinya sosok pria yang dulu pernah menjadi sahabatnya. Bahkan berencana untuk menjodohkan kemenakannya dengan putra dari pria yang kini tersenyum ke arahnya.


"Wa'alaikum salam, Pak Dirman," balas Arman menyapa.


Pria itu menghampiri pagar. Sebenarnya ia masih enggan untuk sekedar bercengkrama dengan pria ini. Tapi, karena merasa Ram telah berbahagia. Arman memutuskan untuk melupakan kejadian yang nyaris membuat ia dan kemenakannya malu.


"Apa kabar, Pak?" tanyanya sekedar basa-basi. Tiba-tiba.


"Pak, tamunya nggak diajak masuk?" sebuah suara lembut dari dalam rumah.


Istrinya memang tidak mengetahui perihal pria yang berada di depannya ini.


"Iya, sampai lupa. Mari masuk, Pak," ajak Arman ramah.


Dirman masuk setelah Arman membuka pagar. Pria itu tentu mengambil kesempatan untuk berbincang banyak juga meminta maaf atas kejadian beberapa bulan lalu.


Ketika secangkir kopi telah dihidangkan. Dirman sesekali melirik Arman. Ingin sekali ia menyebut pria yang duduk diam sambil menyeruput kopi itu adalah sahabatnya. Tapi, Dirman sangat tahu diri, setelah apa yang diperbuat putranya.


"Saya meminta maaf, Man. Atas kekacauan yang Bagas lakukan dulu," ujarnya takut-takut.


Arman memejam mata sesaat. Hatinya masih perih. Sungguh ia masih menyimpan amarah jika teringat masa itu.


Namun, lagi-lagi, semua sudah berlalu. "Mungkin sudah takdir Ram bukan jodoh putramu."

__ADS_1


"Iya ... saya sangat menyesal atas kejadian lalu. Maafkan saya, Man!" ungkap Dirman tulus.


"Saya juga minta maaf, Dir. Sempat langsung memutuskan tali silaturahmi begitu saja," ujar Arman kemudian tersenyum tipis.


"Apakah kita masih sahabat?' tanya Dirman hati-hati.


Arman mengangguk. Pria itu menggenggam erat tangan sahabatnya. Dirman terharu. Setelah kejadian memalukan itu. Pria di hadapannya ini masih mau berbesar hati memaafkan dan tetap menjalin persahabatan kembali.


"Terima kasih, Man. Terima kasih!"


Keduanya kembali mengobrol ringan. Sesekali ada tawa di antara mereka. Hingga ketika langit mulai kemerahan. Dirman pamit.


"Jika ada waktu, mainlah ke rumah. Bawa sekalian kemenakanmu. Baik, istri juga putraku belum melihat Ram secara langsung, hanya melalui foto," ujar Dirman lagi.


"Inshaallah. Saya tidak bisa menjanjikan itu. Ram sudah bersuami, jadi saya mesti minta ijin dengan suaminya dulu," ungkap Arman.


Ada sedikit rasa sakit, seperti teriris di hati Dirman, ketika mendengar jika Ram sudah menikah. Pria itu juga sangat terkejut.


"Tepat ketika Bagas tidak datang di hari pernikahan," jawab Arman dengan tegas.


Lutut Dirman goyah. Tubuhnya limbung. Pria itu nyaris jatuh jika tangannya tidak berpegangan pada pintu pagar. Arman yang melihat itu hanya menanggapinya biasa saja.


"Kenapa?" tanya Dirman lirih.


"Apa maksudmu kenapa?" kini Arman yang berbalik bertanya.


"Kenapa kau nikahkan Ram di hari yang sama? Apa memang ini sudah direncanakan?" tanya Dirman dengan nada kecewa.


"Maksudmu?" tanya Arman sedikit bingung. Pria itu tak mengerti arah pertanyaan Dirman.

__ADS_1


"Kau tahu maksudku, Arman!" ujar Dirman sangat kesal.


"Apakah kau sengaja mengganti pengantin prianya, tanpa menunggu putra ku?" lanjutnya dengan sangat kecewa.


"Kenapa kau tidak membatalkan saja dan menunggu. Putraku pasti menikahi kemenakanmu!" lanjutnya kesal.


"Apa katamu?!" Kini Arman mulai emosi.


"Apa kau pikir, aku bisa menahan malu?!" teriaknya dengan suara tertahan.


"Ram menangis menunggu dengan wajah malu. Semua tamu mulai bergunjing. Dan seenaknya kau bilang kami untuk membatalkan pernikahan ini kemudian menunggu putra mu yang tidak bertanggung jawab itu?!"


"Di mana otakmu Dirman!" teriaknya lagi kini mulai tersulur emosi.


Mendengar suaminya berteriak, membuat sang istri berlari menuju halaman. Di sana suaminya tengah berseteru dengan tamunya tadi. Wanita berhijab itu langsung memeluk dan menyabarkan sang suami agar menahan segala emosi.


"Putra ku pasti menikahi kemenakanmu! Jika kau sabar menunggu!" teriak Dirman tak mau kalah.


"Berengsek!" teriak Arman mulai emosi.


"Mas ... sudah Mas!" sang istri menahan tubuh suaminya yang ingin menghajar pria di depannya.


"Sebaiknya kita lupakan persahabatan kita. Anggap kita tidak saling mengenal!" putus Arman. Lalu menarik sang istri masuk ke dalam rumah.


Brak!


Suara keras dari pintu yang tertutup. Mengagetkan Dirman akan kecerobohannya. Tapi, pria itu masih egois.


"Setidaknya tunggu, sampai masalah kami selesai, Man," ujarnya lirih lalu ia berjalan menuju rumahnya.

__ADS_1


bersambung.


ih ... nggak bapak, nggak Anak. sama-sama ngotot. udah tau salah. Untung Arman belum tau alasan anak.kamu batal datang ke pernikahannya sendiri dengan Ram. Jika tahu .....


__ADS_2