Perempuan Badai

Perempuan Badai
01. Lelaki Iblis


__ADS_3

"Alex, ada apa ini?" tanya Silvana kebingungan. Namun ketika melihat Alex menyeret asisten rumah tangga baru yang masih terbilang cukup muda ke ruang kerjanya, dia sudah tau apa yang ingin lelaki iblis itu lakukan.


"Jangan ikut campur urusanku!" Bentak lelaki itu dengan kasar. Silvana tidak menggubris, dengan cepatnya menarik tangan pembantu yang sedang di cekal Alex. Dan menyeretnya untuk berlindung di belakang punggungnya.


"Kau boleh bermain cinta dengan wanita manapun yang sudi kau tiduri, tapi jangan pernah menyentuh wanita yang tidak mau kau perbudak." Jawab Silvana sembari membawa gadis muda yang sedang menangis itu.


"Semua wanita sama saja, apa kau tidak ingat? Kau menikah denganku karena kau murahan. Karena kau mengemis kepada keluargaku. " Teriak Alex menggema ke seluruh ruangan sambil tertawa seram.


Silvana menoleh ke arah pembantunya, lalu menggunakan isyarat untuk menyuruhnya pergi.


"Apa kamu bilang?" tanya Silvana yang mulai menghampiri Alex dengan mata merah karena marah.


"Aku benar kan? Aku menikahimu karena kau murahan. Apa kau tidak ingat? Bagaimana kamu mengemis kepada keluargaku?" tanya Alex lagi dengan mimik wajah yang sangat merendahkan.


Silvana maju satu langkah. Lalu, plakkk.


"Aku tidak sudi menjadi istrimu kalau kau tidak menghamiliku bajingan" Bentak Silvana emosi. Bertahun-tahun dia bertahan hanya demi anak semata wayangnya yang merupakan hasil pemerkosaan Alex pada Silvana saat dulu dia mengunjungi ayahnya di tempat kerja.


Sedikit informasi, Silvana adalah anak dari supir pribadi ayah Alex, Pak William. Yang meninggal ketika mengantar Pak William bertransaksi gelap.


"Kamu bisa saja menggugurkan kandungan itu. Sudahlah Silvana, jangan sok suci kamu." Ucap lelaki tak tau diri itu.


"Kalau aku menggugurkan kandungan itu, tidak akan ada yang dapat menghukum bajingan sepertimu." Balasnya sengit, lalu secepat kilat pergi meninggalkan Alex.


Silvana menghampiri anaknya yang sedang belajar di kamarnya sendiri. Tapi sebelum itu, Silvana menghampiri pembantu yang tadi hampir mengalami hal keji dari Alex.


Silvana memberikan pesangon sebesar 50 juta dan menyuruh gadis itu berhenti dan pergi. Meski baru 3 hari bekerja, Silvana langsung memecatnya. Itu karena dia tau, bagaimana rasanya dilecehkan dan kehilangan semua mimpi-mimpi indah. Dan gadis itu bukanlah gadis pertama yang Silvana pecat gara-gara hal tersebut.


Sebenarnya Silvana sudah muak dengan sikap Alex. Tapi dia bertahan karena tak ingin anaknya Zafran menjadi korban dan harus menerima kenyataan pahit di masa kecilnya.


Pagi hari pun datang kembali. Silvana terlihat masih sibuk di dapur. Menyiapkan makan malam untuk anaknya dan Alex sebelum mereka beraktivitas masing-masing. Meski Silvana sangat membenci Alex, dia tetap saja menyiapkan sarapan dan makan malam seperti biasanya.

__ADS_1


"Mami masak apa?" Tanya Zafran menghampiri maminya yang sedang mengaduk sesuatu dengan spatula.


"Mami sedang masak sosis kesukaan Zafran." jawab Silvana dengan penuh sayang.


"Oke, Zafran tunggu di meja ya Mi." sahut anak itu lagi.


Silvana tersenyum, dia senang karena pertumbuhan Zafran sangat baik. Dia menguasai ketampanan Alex dan menuruni kepandaian kakeknya, Pak William. Sehingga di umurnya yang masih 5 tahun, dia sudah sangat sigap dan terampil membaca suasana di sekitar. Meski pada dasarnya dia sangat benci atas kejadian yang membuat Zafran hadir di rahimnya, tapi dia tetap bersyukur. Karena berkat Zafran, dia tetap bersemangat untuk hidup. Lebih tepatnya, Zafranlah alasan Silvana tetap hidup selain pembalasan dendam atas kematian Ayahnya.


"Makanan sudah siap……" Seru Silvana sambil membawa dua piring makanan di tangannya. Sepiring sosis bumbu saus tomat, dan beberapa telur mata sapi di piring lainnya.


"Wihhh, harumnya." Zafran memuji masakan Maminya secara langsung.


"Iya dong, siapa dulu yang masak?" Tanyanya gemas pada Zafran.


"Mami Zafran dong.." Ucapnya penuh bangga.


Silvana tersenyum senang, lalu mencium puncak kepala Zafran.


Ya, begitulah keluarga Silvana. Meski dia dan Alex tidak saling cinta, namun mereka sepakat untuk menjadi Mami dan Papi yang baik untuk Zafran. Meski Alex adalah lelaki toxic dan suka main perempuan, dia masih bisa sadar dan menjadi panutan terbaik sesekali, setidaknya didepan darah dagingnya sendiri.


Sarapan pagi berjalan seperti biasanya, banyak hal yang Zafran ceritakan di sela-sela makan. Sesekali mereka tertawa dan memberi arahan positif ketika anaknya membicarakan teman sekolahnya yang nakal. Sesekali pula mereka mengamini, ketika tanpa sengaja Zafran mengucapkan cita-citanya ingin menjadi apa suatu saat nanti.


"Kalau nanti Zafran jadi abdi negara, Zafran akan meringkus para mafia-mafia jahat yang ada di negeri kita ini." ucapnya penuh bangga.


Seketika Alex mendongak, wajahnya pucat menatap sang putra, sedangkan Silvana yang melihat itu hanya tersenyum sinis. Merasa senang ketika anaknya sendiri membuat sang Papi ketakutan.


"Darimana kamu tau tentang mafia Nak?" Tanya Silvana sambil menyuapkan makanan ke mulut.


"Kemarin Ibu guru membacakan cerita tentang mafia" Sahutnya dengan mulut yang masih penuh.


"Wah, semoga cita-citamu tercapai ya Nak! " Doa Silvana sambil mengacak rambut anaknya.

__ADS_1


Di tempatnya, Alex hanya diam. Wajahnya masih pucat meski raut wajahnya biasa saja. Lagi-lagi Silvana tersenyum kecil. Dia tau apa yang Alex pikirkan. Dan alangkah lucunya sebuah tragedi ketika seorang anak menangkap ketua gembong mafia yang selama ini bersembunyi di ketiak petinggi-petinggi negara.


"Mami,.." Panggil Zafran memelas.


"Ya sayang." Jawabnya, cepat-cepat mengusir sebuah kemungkinan tragedi yang belum terjadi.


"Aku rindu nenek di kampung." Ucapnya sambil nyengir kuda.


"Besok kan akhir pekan, gimana kalo kita pergi sambil jalan-jalan." Usul Silvana, beruntung sekali Zafran meminta untuk pergi kerumah Nenek dari Maminya. Karena kemarin malam, ibu Silvana menelpon dan mengatakan ada sesuatu yang penting, yang harus dikatakan kepada Silvana sebagai anak tertua.


"Papi ikut ya!!" Pinta Zafran seolah memohon.


Alex tersentak, lalu tersenyum kecut.


"Papi gak bisa ikut sayang." tolak Alex dengan halus.


"Ihhh" Zafran merajuk.


"Zafran sayang. kalau Papi ikut ke rumah nenek, siapa yang akan bekerja untuk membiayai Zafran masuk ke sekolah abdi negara?" Silvana menyela. Mencoba memberi pengertian meski pada dasarnya dia sedang menyindir suaminya.


Seketika muka Zafran tersenyum semringah.


"Oke, baiklah." Setujunya. "Oh ya Mi, Pi. Sepertinya Zafran ingin punya Adik cewek deh." lanjut Zafran malu-malu.


Kali ini, Silvana yang tersentak. Dia menatap cepat kepada Alex yang mulai tersenyum menyeramkan. Pasalnya, meski setelah 5 tahun bersama Alex dalam sebuah pernikahan, Silvana tidak mau memberikan tubuhnya lagi untuk dinikmati Alex. Meski Silvana tau hal itu dosa besar, tetap saja dia tidak mau. Dia sangat membenci Alex. Sangat membenci.


"Kau ingin adik perempuan?" tanya Alex dengan muka mesumnya yang menatap Silvana.


"Iya Pi" Zafran terlihat sangat antusias.


"Zafran, kamu masih terlalu kecil. Nanti kalau kamu sudah agak besar baru punya adik ya." Silvana berusaha memberi alasan yang masuk akal. Sedangkan Zafran hanya memgangguk cuek sambil tetap memakan sarapannya, tanpa memperdulikan tatapan jijik Silvana dan tatapan mesum Alex dengan senyuman yang terlihat sangat menyebalkan.

__ADS_1


'cuih, jijik sekali. ' batin Silvana.


__ADS_2