
Sesuai janji Silvana. Dia membawa Zafran ke rumah keluarga Louis Costa. Baru masuk ke gerbang, mata Silvana berkaca-kaca. Banyak kenangan terbesit di dalamnya. Tentang segala kesedihan yang mana rumah itu menjadi saksi. Sudah 5 tahun sejak saat itu dia tidak menginjak rumah tersebut.
Setelah sepenuhnya berhenti. Silvana, Zafran, dan Mira turun. Sengaja tidak memakai supir karena Silvana tidak mau mengambil resiko jika supir tersebut nantinya memberi informasi kepada Alex.
"Assalamualaikum." ucap Silvana setelah mengetuk pintu yang terbuka itu. Zafran terlihat anteng di dekapan lengan Mira. Beberapa menit kemudian, seseorang muncul dari dalam.
"Waalaikumsalam" lirih seorang wanita paruh baya.
"Nenek Elizabeth. " seru silvana bersalaman. Diikuti oleh Zafran dan Mira.
"Oh, Silvana. Aku rindu sekali padamu." ucap Elizabeth sambil memeluk wanita kesayangannya itu. "Louis, Sam, yura. Ini ada Silvana." teriak Elizabeth kedalam rumah.
Silvana tersenyum. Keluarga itu tetap saja hangat kepadanya. Selalu menganggap Silvana bagian dari mereka. Satu persatu keluarga Louis menyambut, sedangkan Zafran kebingungan karena hanya mengenali Nenek Elizabeth. Itupun hanya kenal pada wajahnya.
"Hai jagoan. Panggil aku om Sam. Dan ini tante Yura." sapa Sam kepada Zafran yang masih malu-malu.
"Aku Zafran Om." ucapnya sambil mengambil tangan Sam dan mencium punggung tangannya. Begitupun kepada Yura.
"Kau boleh ke belakang Mira. Ibumu sangat merindukanmu di sana." ucap Louis saat tak sengaja memergoki Mira celingak-celinguk.
"Baik pak." Sahutnya mengangguk.
"Kak cantik. Zafran mau ikut." rengek Zafran. Mira hanya tersenyum lalu menggandeng Zafran masuk mansion mewah tersebut.
"Yura, kau temanilah dulu Zafran. Nanti kakak susul." titah Sam pada adiknya yang sebentar lagi akan menikah itu.
"Ayo masuk Silvana." Ajak Elizabeth sambil memegang tangan cucu terkasihnya itu. Silvana hanya mengangguk dengan sebuah senyum kecil. Lalu mengikuti langkah nenek itu menuju ruang keluarga.
Beberapa saat, mereka masih berbincang-bincang ringan. Berbasa-basi karena masih ada Elizabeth. Silvana paham, Louis dan Sam tidak ingin wanita itu mengetahui masalahnya. Selain dari faktor sudah berusia lanjut, nenek Elizabeth juga memiliki penyakit jantung.
"Kamu ngobrol dulu di sini. Nenek mau menyiapkan makan siang spesial untukmu." ucap Elizabeth setelah melihat jam dinding di atas layar televisi besar di hadapannya.
__ADS_1
"Silvana bantu Nek? "
"Tidak perlu. Kau ngobrol lah dengan Louis dan Sam. Pasti ada hal penting yang harus kalian bahas kan. Biar aku masak dengan Yura dan ibu Mira." tolak Elizabeth. Setelah itu mencium kening sebentar kemudian berlalu.
Beberapa saat, ruangan masih hening. Silvana juga masih terdiam. Sampai Louis membuka percakapan terlebih dahulu.
"Ibu dan adikmu sudah pindah lusa kemarin Sil" celetuk Louis membuat Silvana mendongak.
"Om yang mengantar?" tanya Silvana.
"Aku dan Sam yang mengantar." Jawab Louis. "Kau tak perlu khawatir. Disana aku sudah menyiapkan beberapa orang kepercayaan yang merangkap menjadi pembantu, supir, dan satpam. Jadi semuanya sudah aman terkendali." lanjut Louis.
"Terima kasih Om." ucap Silvana sambil menundukkan kepala.
"Tidak perlu sungkan begitu. Kau dan keluargamu sudah Om anggap seperti keluarga sendiri. Jangan ragu meminta bantuan apapun padaku. Kau sudah seperti anakku sendiri. " Louis berkata sambil menepuk bahu Silvana beberapa kali.
"Oh ya, masalah gaji mereka. Om total saja. Biar Silvana yang membayar." Celetuk Silvana merasa tak enak hati jika juga harus bergantung masalah gaji orang yang bekerja untuk keluarganya.
"Perusahaan itu kau yang mengelola. Tidak adil kiranya jika aku terlalu banyak memakai uang dari perusahaan itu." Silvana mencoba memberi alasan. Dia tidak suka memakai uang dari jerih payah orang lain.
"Disana, aku hanya karyawan biasa. Dengan gaji yang sudah ada. Dan itu sudah cukup. Sisanya adalah milik Tuan Prayoga, ayahmu. Begitu pula semua itu adalah milikmu." Sam menjelaskan lagi. Silvana menoleh ke arah Louis. Lelaki itu mengangguk membenarkan.
"Untuk soal Mira. Biar aku yang membayarnya." Pinta Silvana.
"Sil, Zafran bukan orang lain untukku, daddy, dan seluruh keluarga ini. Segala yang bersangkutan denganmu adalah juga bersangkutan dengan kami. Dan Zafran, dia bukan orang lain untukku. Jadi anggaplah ini caraku melindungi dia." jelas Sam panjang lebar.
"Tapi aku tidak bisa terus menerus bergantung pada kalian." Silvana merasa tak enak hati.
"Om tau kau pemilik banyak restoran dan butik-butik terkenal. Tapi bukan berarti kami akan melepaskanmu sendirian. Percayalah pada kami. Akan pula ada saat kamu membantu kami disini. Jadi untuk sekarang, biarlah kami yang membantumu. Anggaplah sebuah penebusan dosa karena membiarkanmu berada di dalam dekapan serigala macam Alex." kini, Louis yang memberi pengertian.
"Ini bukan salahmu, Om. Ini murni keputusanku. Jangan salahkan diri seperti itu." Silvana menggenggam tangan lelaki yang sudah dianggap sebagai ayah keduanya itu. "Biarkan aku menghukum para penjahat itu Om. Om harus percaya padaku. Aku hanya minta satu hal. Lakukan sebaik mungkin untuk perlindungan keluargaku. Sedang aku akan memulai pembalasan ini sendiri. Tentunya dengan dukungan kalian." ucap Silvana yakin.
__ADS_1
"Apa yang akan kau lakukan.?" Tanya Louis merasa khawatir. "Sam sudah menceritakan semua tentang percakapan Alex dam William yang kau tunjukkan padanya."
Silvana menoleh pada Sam sejenak. Lalu mengambil nafas dalam.
"Berikan banyak suntikan dana ke WLA Group Om. Biarkan mereka bahagia dulu sebelum semuanya aku mulai. Pastikan semua investor tergiur dengan kerja sama kita. Hingga setelah WLA Group jatuh, mereka pergi ke perusahan kita. Bukankah perusahaan Om bergerak di bidang yang sama dengan milik William? " tanya Silvana sungguh-sungguh. Louis hanya mengangguk mengiyakan.
"Paling lambat 2 minggu. Setelah itu aku pastikan William bajingan itu akan bangkrut. Om siap-siaplah. Akan ada badai besar yang akan Om sukai." lirih Silvana dengan senyum seram dan tilikan mata yang tajam menembus apa saja yang dilihatnya. "Hanya saja, aku sedikit harus berkorban untuk ini." lanjut Silvana.
"Jangan terlalu membahayakan diri." ucap Sam refleks. Silvana dan Louis menatap Sam bersamaan. Yang ditatap malah menunjukkan wajah khawatir yang amat sangat.
"Kau lucu sekali." Silvana cekikikan. "Setiap pembalasan dendam harus ada sedikit pengorbanan." lanjut Silvana.
"Oh ya Om. Apa Om tau bisnis apa yang dijalankan oleh istri William. Mereka menyebut 100 gadis dan transaksi senjata di waktu bersamaan? Apa dia terlibat penjualan manusia? " tanya Silvana kemudian.
"Ya, benar." ucap Louis.
"Kalau begitu, bantu aku cari bukti kuat tentang itu. Dan juga siapkan beberapa orang yang bisa membantuku mengevakuasi gadis itu. Dari rentetan rencana di otakku. Cepat atau lambat, aku akan dibawa bersama mereka. Jadi kita harus menggagalkan transaksi itu." jelas Silvana.
Louis mengangguk paham. Begitupun Sam.
"Pikirkan dulu sebab akibatnya, aku tidak mau terjadi apapun padamu." lagi-lagi Sam menunjukkan kekhawatirannya. Silvana menoleh, kali ini benar-benar menelisik ke mata Sam. Lelaki itu menjadi salah tingkah.
"Maksudku, pikirkan Zafran. Dia masih terlalu kecil untuk kau tinggalkan." celetuk Sam sekenanya.
"Aku tidak akan meninggalkan dia Sam. Meski harus kutaruhkan segalanya." ucap Silvana menekankan. Entah mengapa dia tidak suka jika seseorang berfikir dia dan Zafran akan saling meninggalkan.
Sam hanya diam tak berkata-kata lagi. Dia melihat gurat khawatir di mata Silvana. Betapa cintanya dia pada Zafran. Hingga dia rela membahayakan dirinya sendiri untuk melindungi putranya itu.
"Silvana, Sam, dan kau Louis. Kemarilah. Makanan sudah siap." teriak Elizabeth dari dalam ruang makan.
"Kau lihat Sil. Meski sudah renta, nenekmu tak pernah berubah." ucap Louis yang di balas senyum kecil sebelum mereka beranjak ke meja makan.
__ADS_1