
Sang utusan sudah duduk dihadapan Louis dan anaknya, Samuel. Menceritakan pertemuannya dengan Silvana. Tak lupa pula menyampaikan pesan wanita tersebut yang memerintahkan perusahaan Tuan Prayoga bekerja sama dengan WLA Group, perusahaan milik Pak William, mertuanya.
"Memang dasar wanita gila." Umpat Sam emosi. "Apa maksudnya menyuruh perusahaan Tuan Prayoga untuk bekerja sama dengan Perusahaan lelaki biadab itu." Emosi seakan ingin meluap ke ubun-ubunnya. "Susah payah aku menjaga perusahaan itu untuk tetap berdiri kokoh dengan banyak kemenangan tender, sekarang malah anak Tuan Prayoga sendiri yang ingin memasukkan ke dalam perusahaan kotor itu, terlebih William dan anaknya Alex lah yang membunuh Tuan Prayoga."
"Tenang Sam. Apa kau lupa bagaimana taktik Prayoga mendirikan perusahaan itu dulunya. Dan apa kau juga lupa bagaimana cara Prayoga menyelamatkan perusahaan kita?" Tanya Louis kemudian.
Sam menatap tak percaya kepada Ayahnya.
"Benar sekali Pak. Nona Silvana menuruni segalanya dari Tuan Prayoga. Dia sangat tenang dalam mengambil keputusan. Dan satu lagi, Nona Silvana memiliki tatapan mata yang tajam dan mematikan. Saya sampai lupa bernafas beberapa detik ketika saya tidak sengaja mengatakan kalau Tuan tau bahwa Nona Silvana memiliki beberapa butik dan restoran besar." jelas Sanusi membenarkan ucapan Louis. Kini tatapan Louis dan Sam menyorot Sanusi. Seolah bertanya apakah hal itu benar.
Sedetik kemudian, Louis mengangguk mengerti.
"Aku tahu apa yang dia pikirkan" Ucapnya kemudian.
"Nona Silvana juga berkata demikian pak" ucap Sanusi menyela.
"Berkata apa?" tanya Sam penasaran.
"Nona berkata kalau Tuan Louis bisa tau apa yang dia pikirkan." jawab Sanusi apa adanya.
"Baiklah." putus Louis kemudian. "Jika kau tidak mau maju disini, biar daddy saja yang urus." ucap Louis membuat sam mendelik.
"Apa daddy serius? "
"Ya, daddy tau apa yang akan Silvana lakukan. Dengan menyuruh perusahaannya bergabung dengan milik William. Silvana bisa melewati tiga pulau dengan sekali dayung." tatapan lelaki yang berumur lebih separuh abad itu terlihat cerah. "Kita hanya perlu mendukung. Serahkan semuanya pada Silvana. Sebagai kapten, dia tahu rute mana yang harus kapalnya lewati."
"Kalau begitu, biar Sam saja yang masuk ke sana. Terlalu bahaya jika daddy yang Menyeruak ke permukaan." Meski belum mengerti maksudnya, Sam yakin apa yang daddynya putuskan adalah yang terbaik. Terlebih, sejauh ini pilihan daddynya tidak pernah membuatnya kecewa.
Sedangkan di tempat yang lain, dengan waktu yang sama. Silvana sudah duduk tenang di ruangan Papa mertuanya. Meski ada sedikit ragu akan diizinkan atau tidak, Silvana akan tetap mencoba melakukan yang terbaik.
"Hei, ada menantu Papa rupanya." Sapa William ketika baru memasuki pintu.
"Sabtu pun tidak libur ya Pa? " tanya Silvana basa-basi sambil mencium punggung tangan mertuanya.
__ADS_1
"Sebenarnya libur sayang. Hanya tiba-tiba saja ada meeting mendadak." jelas William. "Oh ya, ada keperluan apa kau kemari? " tanya William.
Silvana tersenyum kecil sebelum mulai melancarkan aksinya.
"Silvana kesini mau minta ijin ke papa buat kerja." ucap Silvana seperti biasa. Tanpa basa-basi.
Seketika William mendongak. Lalu keningnya berkerut perlahan.
"Kenapa ingin bekerja? Apa uang dari Alex tidak cukup? " Tanya William dengan raut tak suka.
"Tidak ayah, bahkan aku kesusahan menghabiskannya." sela Silvana cepat. "Aku hanya bosan di rumah setiap hari setelah mengantar Zafran. Jadi kupikir untuk mencari kegiatan di luar. Dan entah kenapa aku kepikiran untuk kerja kantoran saja."
"Lalu yang akan menjemput Zafran? " potong William.
"Aku akan carikan supir pribadi khusus untuk menjemputnya." jawab Silvana tanpa ragu.
Semenit, dua menit, William seperti berpikir keras. Lalu,
"Apa Alex sudah tau? " Tanya William kemudian.
"Baiklah kalau begitu, kamu kerja jadi asisten pribadi papa saja. Akhir-akhir ini Papa sering pusing kalau ada meeting yang lebih 2 kali dalam sehari. Jadi kamu nanti bantu ngewakilin papa ya. Gak etis juga kalau menantu keluarga William harus bekerja di perusahaan lain." putus William kemudian.
Dalam hati, Silvana bersorak gembira, meski dia tau, mertuanya menjadikan dia sekertaris pribadi agar bisa mengontrol gerak-geriknya. Tapi apalah sebuah hambatan bagi Silvana. Wanita itu sudah matang tentang cara melewatinya.
"Tapi apa tempat itu gak terlalu tinggi buat aku pa? " Silvana pura-pura bodoh.
"Biar nanti Papa yang ajarin. Kamu jangan khawatir ya" ucapnya kemudian sambil mengacak rambut Silvana
Silvana menunduk dan tersenyum seram. Merasa senang karena semuanya berjalan lancar. Meski dia tau, niat lain di balik setujunya mertuanya secepat itu.
"Ya sudah, Silvana pulang dulu ya pa!" pamitnya.
"Oke, baiklah sayang" sahut William begitu saja. "Kata Alex kau sedang ke kampung dengan Zafran." tanya William menghentikan langkah Silvana.
__ADS_1
"Zafran tadinya mau aku bawa. Tapi kayaknya kangen banget sama neneknya. Jadi aku tinggal pa. Besok juga pulang pa." jawabnya sambil takut-takut.
"Ya sudah. Senin besok papa tunggu ya. Ini meeting kamu yang pertama." Ucapnya kemudian. Silvana mengangguk lalu pergi setelah mencium punggung tangan William dengan takzim.
'Selangkah demi selangkah aku akan menyelesaikan semuanya Ayah, doakan aku.' Silvana membatin.
Pagi di hari senin ini terlihat begitu cerah. Suasana kantor mertuanya tidak ada bedanya dengan kantor lain yang mulai sibuk. William menepati janjinya dengan mengutus sekretarisnya untuk memberi materi meeting pagi ini. Tanpa menyia-nyiakan waktu, Silvana mempelajari se detail mungkin. Tidak ingin membuat mertuanya kecewa dengan sebuah kesalahan kecil. Untuk gencatan senjata pertama, Silvana harus memenangkan tender hari ini.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Meeting akan dimulai sebentar lagi. Dengan cepat Silvana membereskan segala berkas yang akan dia butuhkan.
"Bagaimana Silvana? Apa kau sudah siap?" tanya William sambil membenarkan jam tangannya.
"Siap pak!" jawabnya tangkas seformal mungkin. Dia memang wanita yang profesional. Dia tau mana saat William menjadi mertuanya dan mana saat beliau menjadi bosnya.
Dalam perjalanan menuju tempat meeting. Jantung Silvana berdetak lebih cepat dari biasanya, dalam hati dia berdoa agar kemampuan diskusinya bangkit kembali setelah 3 tahun lamanya menjadi ibu rumah tangga. Meski memiliki beberapa restoran dan butik, Silvana lebih memasrahkan kepada bawahannya. Di samping ingin fokus menjaga Zafran, dia juga tak ingin bisnisnya terendus keluarga William, terlebih Alex.
"Selamat pagi semua... " Sapa sang pemilik tender kali ini. Seperti biasa, kata sambutan terlontar, berlanjut ke beberapa poin penting yang diinginkan perusahaan tersebut. Kemudian, waktunya pun tiba. Pemilik tender mempersilahkan perusahaan WLA GROUP untuk memaparkan persentasenya. Itu berarti waktu Silvana maju.
Setelah mengambil napas sejenak, wanita itu berdiri. Menuju ke tempat monitor berada. Dengan bahasa yang fasih dan lancar menjelaskan beberapa konsep dengan sedikit membumbui dengan kalimat dari pikirannya sendiri. Beberapa orang memandang takjub, begitu pula seorang lelaki tampan yang duduk paling ujung. Lelaki yang awalnya meremehkan Silvana, kali ini dibuat kagum akan prestasi wanita muda itu.
"Sekian pemaparan dari perusahaan kami pak. Semoga dapat memuaskan dan menjadi pilihan untuk bekerja sama." Ucap Silvana menutup kalimat sambil menundukkan kepala.
Tepuk tangan ramai di ruangan itu. Sampai William pun berdecak kagum mengakui kepiawaian Silvana dalam membawakan materi. Berikutnya, meeting pun berlanjut sampai pada akhirnya pengumuman pemenang tender diumumkan. Dan pada akhirnya WLA GROUP menjadi pemenang. Semua orang bertepuk tangan sekali lagi, dilanjut memberikan selamat dengan menjabat tangan Silvana dan William bergantian.
Ketika saat Sam menjabat tangan Silvana, sengaja dia menahan sedikit lebih lama. Lalu,
"Perkenalkan, saya Samuel Louis Costa." ucap Sam memperkenalkan diri.
Silvana tersenyum kecil, dia tau apa maksud lelaki di hadapannya menyalami dengan menyebut namanya. Kemudian Sam beralih menjabat tangan William.
"Saya turut bahagia Tuan William. Semoga suatu saat nanti, entah kapan. Perusahaan kita bisa bekerja sama dengan baik." Ucap Sam sambil tersenyum.
"Saya tunggu lampiran kerjasamanya Tuan Sam." sahut William dengan senyum liciknya. Silvana bisa membaca senyum itu. Lalu berbisik di belakang Sam dengan suara yang sangat pelan.
__ADS_1
"Buat lampiran kerjasama secepatnya." Ultimatumnya tanpa menerima bantahan.