Perempuan Badai

Perempuan Badai
08. Saya Mira, Pak!


__ADS_3

Sarapan pagi sudah siap di atas meja. Begitupun Silvana sudah siap dengan baju kantornya. Senin pagi ini terlihat sedikit mendung.


"Mami… …" panggil Zafran dari kejauhan.


"Iya sayang. " sahut Silvana sambil melangkah menuju anaknya yang berdiri di tangga terakhir.


"Ini dasi, aku tidak tahu." ucapnya manja. Silvana tersenyum dan mulai membenarkan dasi Zafran, hingga benar-benar rapi.


"Hari ini sarapan apa Mi? " tanya Zafran lagi.


"Ayo tebak mami masak apa pagi ini?" balas Silvana bertanya. Dia senang sekali melihat pertumbuhan Zafran yang kian hari, kian makin pandai saja.


"Dari aroma nya sih, mami masak nasi goreng telur. Benar mi?" tebak anak kecil itu.


"ish, Zafran mulai bisa jadi peramal ya? " seru Silvana sambil mencubit hidung Zafran gemas.


Zafran tertawa senang sambil membusungkan dadanya bangga. Bangga karena bisa menebak masakan Maminya.


"Zafran gitu loh. Anak siapa dulu" bangganya sambil mengusap lubang hidungnya.


"Sombong sekali. Ish ish" Silvana pura-pura jijik.


"Zafran sombong karena punya mami. Kalau tidak ada mami yang hebat, entahlah. Zafran akan menyombongkan apa. Zafran sayang mami." Ucap anak umur 5 tahun itu sambil memeluk maminya. Tanpa terasa air mata Silvana menetes. Akankah sanggup jika mereka harus meninggalkan satu sama lain.


'mami tidak akan pernah membiarkan kamu celaka sayang. Sekalipun mami harus kehilangan segalanya, mami akan baik-baik saja asal masih ada kamu.' lirih Silvana dalam hati. Tiba-tiba saja pikirannya mengingat ucapan Alex dan papa mertuanya.


'Tidak akan aku biarkan kalian menyakiti anakku. Akan aku pastikan siapapun yang menyakitinya akan mati ditanganku.' janji Silvana pada dirinya sendiri.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu terdengar, disusul suara seorang wanita.


"Selamat pagi." lirih suara wanita. Silvana melepaskan pelukannya. Lalu menoleh ke arah pintu utama.


"Ada tamu sayang. Sebentar ya mami cek dulu. Kamu tunggu lah di meja makan." ucap Silvana memerintah anaknya.


"Tunggu Mi." ucap Zafran menghentikan Silvana. Tangan Zafran mengulur menghapus bekas lelehan air mata di wajah Silvana. "Mami Zafran harus kuat. Mami Zafran tidak boleh menangis. Mami Zafran adalah kebanggaan. Dan seorang kebanggaan harus selalu tersenyum. Itu kata ibu guru Zafran." lanjutnya polos. Silvana tersenyum getir lalu mencium kening Zafran dengan penuh kasih.


"Ini air mata bahagia karena memiliki anak secerdas dan sebaik kamu." ucap Silvana. Zafran hanya tersenyum dan mulai melangkah menuju meja makan.

__ADS_1


Setelah Zafran benar-benar hilang di pandangan. Silvana melangkah menuju seorang wanita dengan tas di tangan yang masih berdiri di pintu. Dan pastinya sudah melihat dengan jelas apa yang baru saja terjadi.


"Selamat pagi. Maaf tadi lama. Dengan siapa? " tanya Silvana.


"Tak apa bu. Saya Mira." wanita itu menyalami Silvana. "Saya utusan Tuan Samuel" Lanjutnya berbisik. Silvana mengangguk. Lalu tersenyum kecil.


"Ba… .."


"Siapa sayang?" Suara seorang lelaki mengagetkan mereka berdua.


"Baby sister Zafran." ucap Silvana datar. Apalagi setelah mendengar derap langkah Alex yang mendekat.


"Saya Alex, suami dan ayah Zafran." Alex memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangan. Tanpa ragu Mira menyambut.


"Saya Mira, pak." ucap Mira memperkenalkan diri. "Pengasuh Tuan Zafran"


Silvana meneliti tingkah Alex. Lalu tiba-tiba. Plak. Mira menepis tangan Alex dengan kasar.


"Maaf pak. Saya minta anda jangan macam-macam dengan saya. Anda sama sekali bukan kriteria lelaki yang cocok untuk saya. Dan saya bisa saja mematahkan tulang leher bapak jika kejadian seperti ini terulang lagi." ucap Mira tegas. Silvana sempat kaget mendengar hal tersebut.


"Kau tau apa tentang aku." emosi Alex tiba-tiba bangkit.


Alex menjadi salah tingkah. Lalu menatap Silvana dengan kilatan marah.


"Mau jadi apa Zafran jika diasuh wanita kasar seperti dia?" tanya Alex marah kepada Silvana.


"Akan lebih baik dibawah wanita kasar tapi berwibawa daripada wanita yang kelihatannya lemah-lembut tapi ular." Silvana menjawab santai tapi sebisa mungkin menancap di hati Alex. Lelaki itu menghentakkan kaki dan kemudian pergi tanpa sarapan dan tanpa pamit.


"Kau berani sekali. Bagaimana kalau Alex curiga dan kesal lalu mencari keluargamu." tanya Silvana khawatir pada wanita yang hanya senyum-senyum di hadapannya.


"Bu Silvana tenang saja. Tuan Sam sudah memanipulasi data saya. Jadi keluarga saya sudah aman. Dan sekarang sedang berada di rumah Tuan Sam." Mira menjawab tanpa ragu. Dia tersenyum kecil kepada Silvana.


"Apa Sam sudah memberitahukan tugasmu? " tanya Silvana lagi.


"Secara garis besar sudah bu. Tapi saya perlu penjelasan dari ibu lagi."


"Baiklah, mari masuk. Kita sarapan bersama." Ajak Silvana. Dia pun berjalan masuk diikuti Mira.


"Tidak perlu bu. Nanti saya sarapan di luar saja" tolah Mira merasa tak enak harus makan semeja dengan bosnya.

__ADS_1


"Bekerja di sini, tidak ada bos atau bawahan. Jika bekerja dengan saya, maka kamu adalah saudara saya. Jangan canggung. Sekalipun ada Alex di meja makan, kau tetaplah sarapan bersama. Duduk di dekat Zafran." Silvana menjelaskan.


"Baiklah bu." pada akhirnya Mira mengalah. Sejak awal, sejak melihat perlakuan Silvana pada Zafran dan pada dirinya, mira sudah yakin, bosnya kali ini adalah orang baik. Meski ucapan Sam benar tentang pandangan mematikan seorang Silvana.


Zafran menoleh melihat maminya berjalan mendekat.


"Selamat pagi kakak cantik. " sapa Zafran ramah. Tidak langsung menanyakan siapa Mira. Wanita yang disapa tersenyum. Merasakan bagaimana baiknya Silvana mengajarkan adab kepada putranya.


"Selamat pagi kembali Tuan Zafran." jawab Mira kembali. Silvana hanya tersenyum melihat anaknya sopan kepada orang baru.


"Siapa Tuan Zafran." tanya Zafran pura-pura kesal. "Mami, tolong katakan pada kakak cantik ini kalau namaku Zafran. Tidak ada tuannya." lanjutnya.


"Panggil dia Zafran saja Mira. Dia tidak suka memiliki nama kebesaran." Silvana memberitahu. "Dia anak yang baik." puji Silvana sambil mengusap kepala pangeran kecilnya. Lelaki kedua yang membuatnya jatuh cinta setelah sang Ayah.


"Zafran, ini kak Mira. Kak Mira yang sejak hari ini akan menjaga Zafran di sekolah maupun di rumah. Segala kebutuhan Zafran akan dibantu oleh kak Mira ini. Jadi Zafran harus baik-baik dan harus mendengarkan apa yang kak Mira katakan ya sayang. Anggap kak Mira adalah ibu kedua Zafran. Oke? " jelas Silvana.


"Zafran kan anak kuat mi. Kenapa harus dibantu kak Mira? " lagi-lagi Zafran pura-pura merajuk.


"Zafran adalah anak kuat. Tapi dengan adanya kak Mira, Zafran akan makin kuat." jawab Silvana.


"Kalau begitu, baiklah yang mulia ratu. Zafran akan laksanakan." ucap Zafran sambil menunduk menirukan ekspresi prajurit yang sering di tontonnya di serial anak kesukaan Zafran.


"Yasudah, ayo Mira. Duduk dan makanlah. Ini masakanku. Maaf kalau tidak cocok di lidahmu." Silvana mempersilahkan. Mira Pun duduk dan mulai mencicipi sarapannya.


"Ini enak bu. Bisa gemuk saya kalau makan enak seperti ini setiap hari." seru Mira memuji dengan apa adanya.


"Maminya siapa dulu dong… …" seru Zafran kegirangan mendengar ada yang memuji maminya.


"Maminya Zafran dong." balas Silvana. Tawapun pecah disitu. Mira yang ikut tertawa mulai merasakan kehangatan sebuah keluarga di sini. Silvana menurutnya adalah bos paling baik yang pernah ditemui. Bahkan di hari pertama kerja, dia sudah dianggap sebagai keluarga.


Sarapan pagi pun berjalan khidmat meski tanpa kehadiran Alex. Ya, bahkan kali ini Zafran tidak menanyakan papinya. Mungkin sudah terbiasa jika harus duduk di meja makan tanpa sosok ayah.


"Oh ya Mira. Berapa gaji yang harus saya bayar untukmu.?" tanya Silvana setelah meneguk segelas susu putihnya.


"Masalah itu sudah ditangani oleh Tuan Sam bu." jawab Mira.


"Baiklah. Nanti akan aku tanyakan sendiri kepadanya." ucap Silvana.


Sarapan pun selesai. Silvana mencium puncak kepala Zafran sebelum berangkat ke sekolah. Tak lupa juga Silvana mengantar Mira ke kamarnya. Setelah itu mengantar sampai pintu rumah.

__ADS_1


"dadah mami… ." pamit Zafran seperti biasanya. Bedanya sekarang sudah ada yang menggandeng tangan kiri anaknya. Membuat Silvana bisa bernafas lega. Dia Pun segera mengambil tas dan kunci mobilnya. Lalu berangkat pula setelah memastikan pintu rumahnya sudah terkunci.


__ADS_2