
Di perusahaan Libra group. Sam sedang mematung memikirkan seorang wanita yang telah mengambil fokusnya saat meeting beberapa saat lalu. Dia tidak tahu kalau anak Prayoga sahabat Daddynya akan sepandai dan secantik itu. Semenjak pulang dari meeting saat itu, Sam lebih banyak diam. Masih teringat jelas bagaimana tatapan tajam nan mematikan milik Silvana.
"Cantik sekali" Gumamnya tanpa sadar.
"Siapa yang cantik?" tanya sebuah suara yang sangat dia kenali. Lekas Sam mendongak, Louis sudah duduk di hadapannya tanpa dia sadari.
"Anak Paman Prayoga dad." jawab Sam jujur. Dia tau tak mungkin berkilah di hadapan Daddynya.
"Kau berada selangkah di belakang Alex untuk hal itu." ujar Louis tanpa ragu. Sam mengangguk malu. Menyadari bahwa kali ini adalah kali pertama dia mengakui kekaguman kepada seorang wanita kepada ayahnya.
Louis berdehem melihat anaknya melamun kembali.
"Apa kau sempat mengobrol dengannya kemarin?" tanya Louis penasaran. Karena dia tau, tak mungkin William membiarkan menantu sekaligus asisten pribadinya mengobrol dengan sembarang orang.
"Tidak Dad, tapi dia mengatakan untuk segera membuat lampiran kerjasama secepatnya." jawab Sam mulai memfokuskan diri.
"Kalau begitu cepatlah." titah Louis.
"Tapi aku masih penasaran apa yang akan dia lakukan Dad, aku sedikit ragu tentang keputusannya." jujur Sam.
"nanti… " tiba-tiba telepon kantor berdering memutus kalimat Louis.
"Sebentar Dad." ucap Sam. "Hallo, ada apa?" tanya Sam kemudian pada gagang telepon.
"Baiklah, antar beliau ke ruangan saya." titah Sam, lalu meletakkan gagang tersebut ke tempatnya.
Sang Daddy menatap penuh tanda tanya.
"Silvana datang kemari Dad." ucap Sam memecah rasa penasaran Louis.
"Aku tau hari ini akan datang. Tapi aku tidak mengira akan secepat ini dia berani datang menunjukkan diri." gumam Louis.
__ADS_1
Tok tok tok.
"Masuk" sahut Sam.
Seorang lelaki berpenampilan rapi membuka pintu. Diikuti seorang wanita cantik di belakangnya yang melangkah tenang memasuki ruangan Sam.
"Selamat siang Tuan Samuel Louis Costa." Sapa Silvana sesopan mungkin sambil menundukkan kepala sebentar.
"Selamat siang, Silahkan duduk. Sebelumnya, perkenalkan, Daddy saya. Tuan Louis Costa." Sam berusaha semaksimal mungkin untuk profesional seperti Silvana.
"Selamat siang Om. Senang bertemu kembali dengan orang sebaik anda." ucap Silvana tanpa ragu meraih tangan Louis dan mencium punggung tangannya.
"Apa kabar kau gadis cantik?" Tanya Louis dengan suara serak menahan tangis. Silvana yang merasakan getaran di suara lelaki yang sudah dianggap Ayahnya sendiri itu langsung memeluk tanpa ragu.
"Aku baik Om. Jangan khawatirkan aku." jawab Silvana tanpa melepas pelukannya beberapa saat.
"Aku percaya kau wanita yang kuat." bisik Louis kemudian sambil menghapus genangan air matanya.
Pelukan rindu itu terlepas. Louis menuntun Silvana untuk duduk disofa. Diikuti pula oleh anaknya, Sam.
"Dengan siapa kau kemari, ini terlalu bahaya Sil." tanya Louis khawatir.
"Jangan khawatir Om, Sisil kesini atas perintah Pak William. Aku membawa lampiran kerjasama." jawab Silvana tenang.
"Secepat itu sepak terjang mu?" tanya Sam keceplosan. Merasa tak tahan juga lama-lama menahan banyak pertanyaan.
"Bermain api tidak harus selalu sembunyi tangan. Aku akan menghidupkan percikan itu secepat mungkin. Agar lebih cepat terkuak, dimana letak bom waktu itu berada." Jawab Silvana tajam,setajam tatapannya yang seolah menembus dinding hati Sam.
"Aku tau luka itu teramat sakit. Tapi kau harus tetap hati2 menjalankan semuanya Sil." Lirih Louis menasehati.
"Itu pasti Om." tanggapnya. "Oh ya, aku kemari juga ingin meminta bantuan Om Louis. Tolong carikan ibu dan adik sebuah rumah di dekat rumah Om. Lebih tepatnya rumah yang dapat selalu Om pantau. Aku takut setelah ayah, mereka mengincar ibu di kampung." pinta Silvana sambil menjelaskan.
__ADS_1
"Itu masalah gampang. Nanti biar aku yang carikan." Louis menyanggupi.
"Baiklah, mari kita bahas perihal kerja sama ini secepatnya." Ucap Louis tiba-tiba. Silvana mendongak, menatap sejenak dan mengangguk membenarkan.
Setelah kepergian Silvana beberapa menit yang lalu, Sam menatap serius kepada Daddynya. Sorot mata tegas milik Sam menelisik ke mata Louis. Meminta penjelasan atas kejadian yang baru saja dia lihat.
"Tolong jelaskan padaku semuanya Dad. Aku tidak mengerti kenapa Silvana seperti bertemu dengan Ayahnya?" Tanya Sam dengan wajah yang menuntut penjelasan.
"Dulu, Silvana pernah bersama daddy dan mommy beberapa saat. Ketika itu dia sangat terpukul sebab kematian ayahnya dan kehamilannya yang sudah berumur 2 bulan."
"Silvana hamil di luar nikah dad?" refleks Sam.
"Silvana adalah korban pemerkosaan yang dilakukan Alex. Dulu daddy sudah merencanakan akan menikahkan kamu dengan Silvana. Tapi dia tidak mau. Dia memilih untuk meminta belas kasih keluarga William meski harus menjual rasa malunya. Begitu bencinya dia hingga rela mengorbankan harga dirinya untuk menghukum Alex. Dan seperti inilah sekarang nasibnya. Sejauh daddy mencari informasi tentang Silvana dan Alex, mereka tetap saja tidak harmonis. Alex tetap suka bermain perempuan. Dan Silvana tetap menjadi istri dan ibu yang baik. Entah seperti apa hukuman yang Silvana maksud. Itu sebabnya daddy merasa amat kasihan kepadanya." jelas Louis panjang lebar.
Tanpa terasa, tangan Sam mengepal. Ada rasa benci yang sangat pada Alex saat itu. Sangat menyayangkan kenapa harus Silvana yang menjalani hidup seperti itu. Jika saja dia mengikuti saran daddynya. Maka bisa dipastikan Silvana sudah hidup bahagia di tengah-tengah orang yang menganggapnya keluarga.
"Mungkinkah suatu saat Sam bisa bersama Silvana Dad?" tanya Sam kemudian. Entah mengapa pertanyaan tersebut tiba-tiba muncul di pikirannya.
"Apa kau menyukainya?" selidik Louis hati-hati. Dia sebenarnya sangat berharap Sam dan Silvana bisa bersama. Tapi Louis tidak yakin kalau Silvana akan melepas Alex meski suatu saat terbukti Alex Lah yang membunuh ayahnya. Mengingat, sudah ada Zafran diantara mereka.
"Aku tidak tau dad. Yang jelas aku tidak mau wanita sebaik Silvana berada di dalam kandang serigala." jujur Sam.
"Bagaimana dengan Zafran anaknya?" tanya Louis lagi.
"Apa daddy menganggap dia seorang cucu? " Sam balik bertanya.
"Tentu saja Sam. "
"Kalau begitu, Zafran juga anakku." ucap Sam yakin. Matanya menerawang jauh. Ada secuil harapan dalam hatinya. Sam belum tau sudah jatuh cinta atau tidak. Yang jelas Sam merasa tidak rela melihat wanita itu terluka.
"Aku tidak mau ikut campur dalam masalah perasaanmu ataupun Silvana. Daddy hanya menitipkan Silvana padamu. Jaga dia setidaknya seperti adikmu jika memang kalian tidak bisa saling memiliki." Louis mengutarakan pendapatnya. Dengan senyum kecil dia bangkit dan menepuk beberapa kali pundak Sam. Lalu dengan langkah pasti meninggalkan sang putra yang masih tetap menatap kosong ke arah tembok dihadapannya.
__ADS_1
'Aku akan menjagamu Silvana. Itu janjiku' Sam membatin.