Perempuan Badai

Perempuan Badai
Rasa aneh


__ADS_3

Setelah pulang dari proyek yang Silvana sambangi dengan mertuanya itu. Dia memutuskan untuk mampir ke rumah sakit yang tadi Sam katakan. Dia ingin tahu, seperti apa tempat yang di dijadikan markas oleh Alex dan Mamanya.


Di lobi rumah sakit, dia melihat Sam duduk di depan ruang Anggrek. Sengaja Silvana meminta lelaki itu untuk menunggu di luar ruangan.


"Bagaimana kondisinya Sam?" tanya Silvana setelah duduk di dekat Sam.


"Beberapa luka cambuk tercetak di punggungnya." jawab Sam apa adanya.


"Bajingan," sergah Silvana emosi. "Aku semakin tidak sabar ingin membantai mereka."


"Sudah lebih 50 kasus anak hilang yang ditangani polisi. Dan setelah anak itu sembuh, aku akan membawanya untuk melapor." jelas Sam, mengatakan informasi yang tadi dia lihat di sosial media.


"Baiklah, itu akan terlihat lebih baik." Silvana mengiyakan.


Beberapa saat mereka saling diam. Silvana berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Sambil mengira-ngirakan dimana tempat mama mertuanya menyimpan gadis-gadis malang itu.


"Sil, " panggil Sam. Silvana menoleh cepat, menatap dengan mata penuh tanda tanya pada Sam.


"Apa tidak terlalu berbahaya jika kau ikut campur masalah ini. " ucap Sam tetap dengan raut khawatir. Sejujurnya dia sangat tidak ingin Silvana terjun langsung dalam penyelidikan. Terlalu berbahaya menurutnya.


Silvana tersenyum kecil.


"Kau tenang saja Sam. Aku tidak akan mengorbankan orang lain untuk pembalasan dendamku. Jika saja aku hanya diam, maka almarhum ayah tidak akan tenang disana." jawab Silvana yakin. Lebih tepatnya meyakinkan dirinya sendiri.


"Tapi Sil, "


"Bantu aku semampumu. Jika kamu sudah tidak sanggup, maka aku akan melangkah sendirian." potong Silvana. Sam hanya mengambil nafas kecil. Menyerah atas keputusan Silvana.


"ngomong-ngomong kenapa kau jadi peduli padaku terus.?" tanya Silvana yang merasa aneh akan sikap Sam akhir-akhir ini.


"Entahlah. Aku hanya tidak ingin anggota keluargaku celaka. Termasuk kamu dan Zafran" ujar Sam yang jelas-jelas berbohong.


'Aku khawatir karena rasa aneh ini Silvana' teriak Sam, tentunya di dalam hati saja. Dia masih tidak punya nyali untuk berkata demikian. Apalagi dia tahu kalau Silvana bukan wanita sembarangan.


Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruangan Anggrek tersebut. Sam dan Silvana berdiri bersamaan.


"Bagaimana Dok? " tanya Sam mendahului Silvana yang sudah membuka mulut.

__ADS_1


"Dia sudah berangsur baik. Luka cambuknya juga sudah kami beri salep. Tapi sepertinya dia sedikit frustasi. Tadi dia sempat melakukan perlawanan saat kami hendak menyingkap atasannya ketika akan memberi salep. " jelas Dokter muda tersebut.


"Apa mungkin dia mendapat perlakuan tidak senonoh di sana?" tanya Silvana seperti orang menggumam.


"Maaf, apa yang ibu katakan tadi?" Dokter muda itu bertanya karena tidak mendengar dengan jelas yang dikatakan Silvana.


"Tidak Dok, bukan apa-apa." Silvana mengelak. Sang dokter hanya terdiam bingung.


"Boleh kita jenguk ke dalam dok?" tanya Sam mencoba mengalihkan pikiran dokter itu.


"Silahkan, tapi jangan terlalu banyak bertanya. Memorinya pasti sedang tidak baik." Dokter menasehati kemudian berlalu setelah mendapat anggukan dari Sam dan Silvana.


Sam menatap Silvana sejenak, lalu mereka berdua melangkah masuk. Di dalam ruangan VIP itu. Gadis tersebut terbaring memejamkan mata. Tampak jelas guratan lelah di wajah cantik itu. Sejenak Silvana menatap Sam dengan pandangan penuh tanya.


"Aku menemukannya di basecamp hotel. Sepertinya dia kabur ikut salah satu mobil di sana. Lebih tepatnya bersembunyi di bagasi mobil." Sam menjelaskan seolah tau apa yang Silvana pikirkan.


"Bagaimana kau tau jika dia adalah korban penculikan Alex dan mamanya.?" tanya Silvana penasaran.


"Dia mengulang-ulang nama Alex dan Sarah. Saat aku tebak bahwa dia adalah korban penculikan, dia mengangguk mengiyakan sambil menangis histeris." Sam bercerita lagi. "Jadi aku bawa dia ke sini ketika melihat memar di pelipisnya." lanjut Sam. Sejenak Silvana hanya diam. Memikirkan bagaimana cara dia bertanya kepada gadis itu. Tapi sepertinya ini akan sulit.


"Sediakan satu atau dua pengawalmu di sini Sam. Kalau ada yang wanita, itu pasti lebih baik. Pastikan kita mengamankannya, setidaknya sampai dia bisa memberi keterangan kepada polisi." pinta Silvana. Entah mengapa dia merasa kalau Alex dan mamanya, Sarah sedang mencari gadis itu.


"Kau sangat tanggap rupanya." puji Silvana sambil menepuk lengan Sam.


"Lama-lama denganmu, aku belajar banyak hal. Termasuk membaca keadaan." jawab Sam sambil memasukkan tangannya ke saku celana.


"Jadi ceritanya, kau berguru padaku?" Silvana tersenyum kecil. "Terkadang kita harus menjadi gula di dalam kopi Sam. Tak terlihat namun berpengaruh." lanjut Silvana sambil menatap wajah gadis yang sedang terlelap di atas brankar rumah sakit.


Sam menatap Silvana dari samping. Meski degupan jantungnya tidak stabil, anehnya dia tak ingin berpaling dari wajah menawan yang tegas itu.


"Sil… " panggil Sam tanpa sadar. Silvana menoleh cepat, menatap aneh pada Sam yang tidak berkedip menatapnya membuat Silvana salah tingkah.


"Aa..ada apa Sam? " tanya Silvana gugup. Sam masih saja diam. Hingga pada akhirnya, ketukan pintu menyadarkan lelaki tersebut.


Tok tok tok.


"Arghhh. Maaf Silvana." ucap Sam sambil mengacak rambutnya frustasi.

__ADS_1


"Kau kenapa? " tanya Silvana ikut kebingungan.


"Tidak, tidak apa-apa." jawa Sam yang kelihatan semakin bodoh. "Masuk… " ucap Sam kemudian.


Suara decitan pintu terdengar. Dua orang wanita masuk dengan wajah datar. Setelah berada di depan Silvana dan Sam, dua wanita itu menunduk memberi hormat.


"Kalian paham apa pekerjaan kalian disini.?" tanya Silvana setelah menerima anggukan dua wanita itu.


"Saya mengerti Nyonya." jawab salah satunya.


"Aku harap kalian tidak berkhianat. Dia adalah orang penting bagiku dan Sam. Jaga dia. Kalian akan mendapat bonus besar jika melakukan tugas dengan baik." ucap Silvana lagi. Memastikan jika dua wanita itu akan setia kepadanya.


"Saya mengerti." sanggupnya. Silvana mengangguk senang.


"Aku dan Sam akan pergi. Pastikan laporkan setiap keadaannya pada Sam." ultimatum Silvana. Lagi-lagi mereka berdua mengangguk.


Silvana pun mengajak Sam pergi. Baru saja keluar dari pintu, Silvana disambut seorang lelaki berwajah sangar. Silvana sangat kaget, tapi dengan tenangnya dia menghadapi lelaki itu.


"Kau siapa?" tanya Silvana tanpa sedikitpun ada getaran di suaranya meski dia sedang terkejut.


"Dia orang ku. Penjagaan ganda diterapkan disini. " jawab Sam mewakili bawahannya yang sudah menunduk di depan Silvana.


"Baiklah. Jaga mereka bertiga dengan baik." pesan Silvana sebelum benar-benar pergi dari sana.


Langkah kaki Silvana mengetuk teratur di atas keramik rumah sakit. Diikuti Sam disebelahnya. Mereka beriringan sampai di luar rumah sakit.


"Boleh aku antar?" Sam menawarkan. Silvana menoleh dan menggeleng.


"Ada taxi online yang sudah menungguku." tolak Silvana halus. "Lain kali kita akan jalan bersama." ucap Silvana yang berhasil membuat Sam tersenyum senang.


"Kenapa kau?" tanya Silvana dengan senyum mengejek kepada Sam. Yang dituju menjadi salah tingkah dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Aku ingin mengajakmu dan Zafran piknik, jika kau ada waktu." Sam memberanikan diri mengajak Silvana dan Zafran piknik. Meski sebenarnya dia hanya ingin jalan berdua dengan Silvana, tapi Sam merasa tidak sopan jika harus mengajak Silvana seorang diri. Apalagi status Silvana adalah istri orang.


"Kamis depan tanggal merah. Antar aku ke rumah ibu, pulangnya kita jalan-jalan." sanggup Silvana. Dia tau jika Sam ingin mengakrabkan diri dengan Zafran. Dan Silvana tidak keberatan sedikitpun.


"Baiklah." Sam berujar senang. Sedang Silvana yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Kau seperti anak kecil saja." lirih Silvana sambil berlalu pergi.


Dari kejauhan, Sam melihat wanita itu dengan senyum penuh arti. Meski belum berani mengatakan kalau dia mencintai Silvana. Setidaknya, dia sudah merasa takut kehilangan wanita itu.


__ADS_2