Perempuan Badai

Perempuan Badai
02. Nenek Elizabeth.


__ADS_3

Weekend pun datang dengan matahari yang terlihat cerah. Begitupun wajah Silvana yang tak kalah cerahnya. Semua barang dan perlengkapan sudah siap. Hanya 1 koper besar. Karena mereka berniat untuk menginap dua hari di rumah ibu Silvana.


"Biar nanti pak Sudirman yang antar.!" Celetuk Alex tiba-tiba. Dengan cepat Silvana menoleh, tidak biasanya Alex memperdulikan dengan apa dan siapa dia akan berangkat.


"Aku akan mengajak Zafran naik bis." Ucapnya datar sambil membereskan sisa-sisa sarapan pagi.


"Biar diantar saja, lagipula apa jadinya jika para kolegaku melihat kalau anak dan istri seorang Alex William naik bis." Alex berdalih. Meski hal itu hanya untuk menutupi kedok busuknya yang mana tak ingin Papa William tau kalau Alex tidak mengantarkan mereka berdua.


"Terserah kau lah." Silvana mengalah. Lalu dengan hati-hati membawa piring kotor ke dapur.


Wanita itu mencuci piring-piring sebelum pergi. Dia tidak ingin meninggalkan barang kotor saat akan meninggalkan rumah.


"Akhhh… " Teriaknya tiba-tiba ketika seorang lelaki memegang pundaknya.


Silvana segera berbalik, dan ketika menemukan Alex ada di belakangnya. Dia mulai bisa mengambil nafas.


"Bagaimana dengan permintaan Zafran kemarin?" Tanya Alex dengan seringainya yang seram. Seketika silvana membelalak, lalu tersenyum mengejek.


"Apa kau pikir aku akan sudi untuk kau tiduri lagi?" Silvana bertanya datar, "Cuiiiih, jangan harap. Aku di sini karena aku mamanya Zafran. Bukan karena aku istrimu." lanjutnya kesal sembari melewati Alex begitu saja.


Sebenarnya, dahulu Silvana sudah ingin menjadi seorang istri dan ibu sepenuhnya. Tapi entah kenapa keinginan itu perlahan menguap seiring perilaku Alex yang semakin hari semakin memuakkan dan tidak pernah berubah.


"Kau tau? Aku begini karena kamu Silvana. Karena kau tidak pernah mau melayaniku." Ucap Alex yang seketika membuat langkah Silvana terhenti.


Wanita yang merasa disalahkan membalikkan badan. Lalu tersenyum sinis pada Alex. Senyum seram yang tak pernah dia berikan kepada siapapun. Silvana menghampiri Alex perlahan.


"Karena aku? Kenapa baru sekarang Lex?" tanyanya balas. "Apa kau lupa bagaimana dulu memperlakukanku ketika aku masih hamil Zafran? Apa kau lupa bagaimana menghinaku dan keluargaku ketika aku meminta pertanggung jawaban? Dan apa kau lupa pula, karena apa aku diterima di keluargamu? Karena aku hamil anak laki-laki. Bukan karena mereka menghormatiku sebagai wanita yang butuh pertanggung jawaban darimu lelaki bangs*t" Lanjutnya sambil mendorong keras bahu Alex. Entah, dia tidak tahu kenapa bisa menjadi wanita kasar ketika mengingat semua kedukaan yang dialami pada masa-masa mengandung Zafran.


Alex yang terhuyung berusaha menegakkan badan seperti sebelumnya. Lalu memandang tajam pada Silvana.


"Kau bilang apa tadi?" Tanyanya penuh penekanan.


"Lelaki bangsat, kau adalah lelaki yang sedikitpun tidak memiliki belas kasih. Kau monster.!" Balas Silvana sengit.


"Oh baiklah, akan aku beritahu kepadamu seperti apa lelaki bangsat Silvana." Ucapnya penuh penekanan sambil mencekal tangan Silvana tanpa aba-aba. Wanita itu pun blingsatan. Sekuat apa dirinya, tidak akan mungkin bisa melawan Alex. Tenaga mereka tentunya sangat tidak imbang. Air mata Silvana mengalir begitu saja. Bayangan 6 tahun silam saat dirinya diperkosa oleh Alex berkelebat lagi. Kini, Alex sudah membuat Silvana membelakanginya, mengunci kedua tangannya ke belakang tubuh dengan satu tangan. Sedangkan tangan yang lain mulai menggerayangi tubuh sexy Silvana.


"Lex, kumohon hentikan." Lirih Silvana memelas. Keringat dingin sudah merembes karena takut. Seperti ada trauma yang sangat dalam dan menguras semua energinya.


Ketika Alex sudah siap untuk kembali merasakan hangat barang Silvana, teriakan seorang anak terdengar sembari menuruni tangga.

__ADS_1


"Mami, Papi…" Teriak Zafran dengan keras, menggelegar ke seluruh penjuru rumah.


"Anak sialan." Umpat Alex sambil melepaskan Silvana. Lalu, plakkk.


"Dia anakmu bodoh." bentak Silvana setelah menampar wajah Alex.


Dengan tergesa Silvana pergi dari dapur itu, meninggalkan Alex seorang diri dengan kebingungan sambil memegang pipi kirinya yang baru saja di tampar Silvana.


"Lihatlah, bukan Alex namanya jika aku tidak bisa menunggangimu lagi, Silvana." Lirihnya seorang diri. Dengan senyum mesumnya yang jahat, dia tetap memperhatikan Silvana yang berjalan mendekati Alex.


Sebenarnya, Alex memiliki rasa yang berbeda kepada Silvana. Tapi dia terlalu munafik dengan tidak mengatakan hal itu. Yang pada akhirnya, hal yang menurutnya wajar adalah sebuah malapetaka untuk Silvana.


Diperjalanan menuju desa, Silvana meminta supir untuk berhenti di butik pribadi miliknya. Ketika kendaraan yang didudukinya berhenti, Silvana meletakkan kepala Zafran untuk tidur dengan nyaman. Itu adalah kebiasaannya, tidur ketika dalam perjalanan. Entah menurun dari siapa.


"Pak, kalau Zafran bangun anterin ke dalam ya." Titip Silvana. Sebenarnya dia hanya sebentar di butiknya. Selain untuk mengecek, kebetulan dia ada janji dengan pelanggan yang ingin memesan baju pengantin khusus untuk cucu wanitanya.


Baru masuk, Silvana sudah disambut beberapa karyawan yang menunduk. Silvana menyapa ramah, lalu terus melangkah menuju ruangannya.


"Klien kita sudah di dalam Bu." Ucap asisten pribadinya. Silvana tersenyum.


"Oh ya, kalau nanti ada supir saya bawa Zafran kesini, tolong antarkan ke ruangan saya ya.!" Pinta Silvana. Dengan senyum ramah, asistennya mengangguk.


"Selamat pagi nyonya, maaf saya telat 5 menit." Sapa Silvana sopan sambil mengulurkan tangan kepada seorang nenek yang sedang menunduk.


"Selamat pagi kembali. tak apa, Saya belum lama di sini." Sahut nenek itu sambil berdiri dan menerima uluran tangan Silvana. Tapi, tiba-tiba saja raut wajah Silvana menunjukkan ekspresi terkejut.


"Nenek Elizabeth?" Celetuk Silvana kemudian.


"Iya, saya Elizabeth. Maaf, Anda kenal saya?" Tanya sang nenek dengan sopan meski Silvana jauh lebih muda darinya, sambil mencoba mengingat-ingat wajah siapa di hadapannya. Pasalnya, faktor umur, dia tidak bisa mengingat dengan baik.


"Aku Silvana, Nek. " Ucap Silvana kemudian.


"Silvana anak Prayoga? " Tanya sang nenek setelah beberapa lama mengingat-ingat.


"Benar sekali Nek." Serunya senang, karena sosok nenek yang baik kepadanya masih mengingatnya.


"Oalah, cantiknya kamu sayang." Seru Elizabeth sambil memeluk Silvana.


"Ah nenek bisa aja"

__ADS_1


"Padahal dulu kamu masih ingusan waktu sering ikut bapak kamu ke rumah" Serunya senang karena bisa bertemu kembali dengan keluarga seseorang yang sangat berjasa bagi keluarganya.


Tok tok tok.


"Permisi bu, " Ucap sekretarisnya sambil memasukkan badan separuh sebelum di serobot oleh anaknya, Zafran.


"Ehhhh" kaget sang sekretaris.


"Zafran, tidak boleh begitu. Minta maaf sama Kak Lidya." ujar Silvana dengan mata pura-pura terbelalak marah.


Seketika Zafran menoleh, lalu menunduk hormat pada Lidya.


"Kak Lidya, Zafran minta maaf ya!" ujar anak itu sok imut.


Lidya tersenyum dan mengangguk, merasa dijadikan keluarga oleh bosnya. Sebab, tidak ada sekalipun perilaku Silvana yang seenaknya atau menyuruh-nyuruh dengan tidak sopan. Bahkan wanita itu pun tidak segan turun tangan langsung meski tau pegawainya banyak dan siap dalam segala hal.


"Lain kali jangan begitu ya sayang!" Ujar Lidya sambil mengacak rambut Zafran dengan gemas.


"Janji." Jawabnya cepat sambil menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya.


Anak itu kemudian menghampiri Maminya dan memeluk pinggangnya.


"Kenapa Mami tinggalin Zafran sendiri." Tanya Zafran sambil merengut.


"Kan ada sopir?" Jawab Silvana.


Dengan bibir yang manyun, tatapan Zafran tiba-tiba berhenti di tempat Elizabeth berada.


"Selamat pagi Nenek." Ucap Zafran sambil menunduk dan tersenyum.


"Selamat pagi Cucuku," Elizabeth menjawab cepat. "Ini anakmu Silvana?" Tanya itu akhirnya terlontar juga.


Silvana mengangguk kecil merasa tak enak.


"Ceritanya panjang Nek, mari duduk dulu. Biar Silvana ceritakan kejadiannya." Ucap Silvana, merasa tak perlu menutupi apapun dari seorang keluarga yang sudah menganggapnya anak dari sejak dia kecil.


"Zafran ke kamar dulu ya sayang!" Pinta Silvana kemudian.


Anak penurut itu langsung bergegas ke kamar pribadinya di butik Silvana. Setelah hilang di pandangan, wanita cantik itu menghela nafas sejenak, lalu……

__ADS_1


"6 tahun yang lalu… …."


__ADS_2