Perempuan Badai

Perempuan Badai
Malam Yang Ditunggu.


__ADS_3

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Tapi belum ada tanda-tanda Sarah akan membawanya pergi untuk melakukan transaksi. Silvana masih duduk diam di kursi yang sama seperti kemarin dia datang. Tidak sedikitpun melakukan hal-hal yang dapat membuat Sarah curiga. Sebab setelah kejadian Alex ditelepon olehnya, Sarah memutuskan memberi cctv di tempat Silvana dikurung.


Dengan sangat hati-hati. Silvana menghubungi seseorang lewat alat canggih di belakang telinganya. Dia memberitahukan satu hal penting yang kemungkinan besar akan membuat kehebohan. Meski sebenarnya Silvana masih ingin main-main. Tetap saja dia tidak mau melonggarkan tali dan melepas kesempatan emas seperti ini.


"Katakan kepada james, agar tidak benar-benar menepi ke tepian jika dia masih ingin hidup." ucap Silvana memberi arahan. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti malam. Tapi seperti apapun keadaannya, dia harus tetap melindungi orang-orang yang dia sayangi.


Jarum jam tetap berdetak tak henti. Membawa Silvana pada waktu dimana beberapa anak buah Sarah masuk dan menuju ke ruang di dalam pintu dorong tempat banyak gadis yang ditawan. Silvana hanya melihat dan mengamati apa yang sebentar lagi akan terjadi. Sepertinya sesuatu yang Silvana tunggu telah tiba.


"sembilan puluh sembilan." hitung salah satu anak buah itu. Kemudian dia melirik Silvana.


"Kau, ayo jalan juga." bentaknya pada Silvana. Dan kebetulan sekali, urutan ke 99 adalah Dewi. Jadi tanpa pikir panjang Silvana berdiri dan berjalan di belakang Dewi.


"Apa kau siap?" tanya Silvana berbisik. Dewi mengangguk dengan cepat. Silvana tersenyum kecil. Rencananya kali ini akan berjalan dengan mulus.


Silvana menekan satu tombol di alatnya. Tombol yang akan memberitahukan keberadaannya pada orang-orang yang terhubung dengannya. Termasuk Sam.


Di waktu yang sama dengan tempat berbeda, Sam yang menerima sinyal itu kaget dan terbangun dari tidurnya.


"Berjalan menuju pelabuhan." suara alat itu terdengar berbunyi seperti alarm. Dan sontak juga membuat Zafran di dekatnya terbangun.


"Ada apa Om?" tanya Zafran sambil duduk dari tidurnya.


"Tidak ada apa-apa. Kamu tidur dulu dengan kak Mira ya. Om masih ada perlu." ucap Sam menjelaskan.


"Gak mau, Zafran mau ikut." pinta Zafran merengek. Memang sejak pulang ke kediaman Louis, Zafran seolah tidak bisa ditinggal oleh Sam.


"Kalau begitu, ayo kita ke kakek Louis dulu." ajak Sam. Zafran berdiri, dan bersiap di gendong oleh Sam.


"Gendong Om." rengek Zafran lagi. Sam hanya tersenyum dan menggendong Zafran. Membawanya ke ruang kerja Louis.


Sam masuk tanpa memberi salam atau mengetuk pintu dahulu. Takut jika Louis sedang istirahat dan terbangun karenanya. Tapi dia salah. Justru Louis sedang menatap layar laptop. Entah mengerjakan apa.

__ADS_1


"Kakek… " panggil Zafran serak. Louis mendongak, dan tersenyum menyambut Zafran.


"Ada apa sayang?" tanya Louis sambil mengambil alih menggendong Zafran.


"Om Sam mau ngomong katanya." ucap Zafran.


Louis menatap anaknya, menyorotkan tatapan tanya.


"Mereka sedang berada dalam perjalanan menuju pelabuhan." ucap Sam memberitahu.


"Bagaimana selanjutnya?" tanya Louis serius. Wajahnya berubah tegang.


"Kita akan menyusul kesana Dad." Sam memberitahu.


"Mau kemana Om.?" tanya Zafran polos.


"Ada kepentingan yang harus Om dan Kakek Louis lakukan sekarang." jawab Sam.


"Zafran sama Kak Mira aja dulu ya." bujuk Louis. Karena memang sangat tidak memungkinkan membawa Zafran ke tempat berbahaya seperti itu.


"Gak mau. Zafran mau ikut." rengeknya. Louis menatap Sam kebingungan. Sam segera menelpon Mira. Dan beberapa lama kemudian, wanita itu datang menghadap.


"Ada apa Tuan Sam?" tanya Mira.


"Bawa Zafran ke kamarmu. Aku ada kepentingan mendadak. Dan tidak mungkin membawa Zafran ikut serta." ucap Sam memberitahu.


"Aku mau ikut." rengen Zafran lagi, kali ini disertai tangisnya yang mulai terdengar.


Louis kebingungan, dia memandang Sam dan menanyakan keputusan yang paling baik.


"Kita tetap tidak bisa membawanya Dad." tolak Sam tetap pada pendiriannya. Mencoba tidak menghiraukan tangisan Zafran yang semakin keras.

__ADS_1


"Mira, bawa dia!" perintah Sam. Mira segera menghampiri tuan kecilnya, dan berusaha menggendong. Tapi Zafran tetap saja mengamuk. Memukul Mira dan Louis bergantian. Melihat itu, Sam menjadi frustasi. Dia tidak mungkin membawa Zafran pergi, dia tidak akan mampu memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada Zafran.


"Bawa saja Sam, Bawa Mira juga. Tapi mereka harus di kunci di mobil." Louis memberikan masukan.


"Baiklah. Zafran boleh ikut." putus Sam.


Mendengar itu, Zafran menghentikan tangisnya. Lalu mengarahkan tangannya kepada Sam. Minta di gendong olehnya.


Sam pada akhirnya mengalah. Lalu melangkah mendekati anak itu dan menggendongnya dengan penuh kasih.


"Tapi berjanjilah pada Om, kamu tidak boleh keluar mobil apapun yang terjadi." Sam mengajukan syarat. Mengingat kalau pendirian dan karakter Zafran yang lebih dewasa dari anak-anak seumurannya.


"Janji." ucap Zafran menyetujui.


*********


Mobil kontainer yang membawa Silvana berjalan cepat. Menurut pendengarannya, beberapa mobil mengikuti di depan dan dibelakang. Entah perasaan dari mana, tiba-tiba dia merasa sangat was-was. Tapi Silvana tidak tahu ada apa. Sejenak dia merinci beberapa tindakannya, tapi semua sesuai dengan prediksi dan rencananya. Tidak ada yang terlewat sedikitpun. Pada akhirnya, dia memutuskan menarik napas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Membuat pikirannya sedikit tenang.


Tiba-tiba saja, jantungnya berdetak lebih cepat. Dan perasaan rindu yang besar pada Zafran seperti telah merenggut semua konsentrasinya. Dan setitik air mata akhirnya lolos juga. Baru 2 hari dia tidak bertemu dengan buah hatinya, membuat rindu itu semakin membara menuntut sebuah pertemuan.


"Tuhan, selamatkan anakku dimanapun dia berada." doa Silvana di lubuk hatinya yang paling dalam.


"Ada apa kak? " tanya seorang gadis sambil memegang pundak Silvana. Wanita itu menoleh, dan memberikan sebuah senyum kecil.


"Aku merindukan anakku." ucap Silvana jujur.


"Aku juga sedang merindukan Orang tua dan adik-adikku Kak. Tapi sekarang aku harus berjuang untuk sebuah pertemuan dengan mereka. Kak Silvana harus kuat. Anak kakak pasti bangga memiliki seorang ibu yang baik dan bersedia memberantas kejahatan tanpa pandang bulu." ucap Dewi seolah memberi percikan semangat pada Silvana yang baru saja sempat goyah.


"Kau benar." Silvana membenarkan, kembali memupuk semangat untuk dirinya sendiri. Dia yakin akan berhasil menjebloskan keluarga William ke penjara dengan segala tuduhan dan bukti nyata. Tidak peduli bagaimana nanti hukuman mereka, yang jelas tujuan Silvana adalah menyiksa mereka secara perlahan. Sampai membuat mereka takut hidup dan enggan mati. Sudah cukup 5 tahun dia habiskan untuk mencari bukti yang akurat. Meski bukan tentang kematian Ayahnya. Setidaknya dia bisa menyiksa keluarga William dengan kesalahan mereka yang lain.


"Guru Li, tolong pantau pergerakan polisi. Pastikan sampai pada waktu yang telah ditentukan." ucap Silvana sambil menekan tombol kecil di belakang telinganya.

__ADS_1


__ADS_2