Perempuan Badai

Perempuan Badai
Hasrat 2


__ADS_3

"Arghhhh. " desis Sam frustasi sambil menjatuhkan diri ke samping Silvana. Keduanya sama-sama telentang sambil mengatur nafas masing-masing. Terlebih Sam yang kelihatan sangat frustasi menahan hasratnya yang tidak kesampaian.


Silvana menoleh. Melihat Sam yang memejamkan mata. Ada perasaan bersalah karena sudah melibatkan Sam. Merasa bersalah karena Sam tidak bisa membuat lelaki itu mencapai puncak, sedangkan dialah yang membawa Sam ke keadaan seperti ini.


"Maafkan aku Sam. " ucap Silvana kemudian.


"Tak perlu minta maaf. Tidak berguna juga." jawab Sam sengak. Sebenarnya bukan maksud berkata kasar pada Silvana. Tapi, memang begitulah keadaan Sam yang sedang menahan hasrat. Dia tidak bisa mengontrol nada bicaranya.


"Kalau begitu, mari kita lakukan." putus Silvana kemudian. Entah akal mana yang dia pakai. Hanya saja yang terbesit di otaknya adalah menuntaskan semua ini. Setidaknya sebagai timbal balik untuk Sam, dan pengalaman pertama untuknya. Menikmati sebuah penyatuan dengan indah.


"Aku tidak bisa melakukan ini karena terpaksa." tolak Sam tetap mempertahankan akal sehatnya.


"Apa kau terpaksa? " tanya Silvana takut-takut.


Sam menoleh, menatap Silvana dengan intens menggunakan matanya yang sayu sebab hasratnya.


"Apa aku terlihat tidak menikmati? " balas Sam bertanya. Silvana menggeleng. Jelas sekali Sam sangat menyukai permainan ini. Melihat dari bagaimana dia memperlakukan Silvana dengan lembut.


"Lalu?"


"Aku tidak mau kau menyesal setelahnya nanti. Aku tau ini hanya sebuah pendukung rencana. Bukan keinginanmu. " jawab Sam kembali menatap langit-langit kamar. Tak kuat jika harus melihat Silvana yang sudah bertelanjang dada karena ulahnya tadi.


"Jika saja aku ingin? "


"Aku tidak yakin." Sam menjawab spontan tanpa ragu. Dia tau Silvana hanya merasa tak enak hati karena membuat Sam berhasrat sedang dia tidak bisa membantu apapun.


Silvana menghela nafas berat. Bukan tak ingin, justru sekarang Silvana sangat ingin dipaksa oleh Sam. Tapi sepertinya lelaki itu bukan tipe yang sembrono. Dia mengerti batasan. Jadi, sepertinya kali ini dia yang harus bertindak. Merelakan semuanya di hadapan Sam.


Silvana bangun, dan langsung menduduki tubuh Sam. Terasa sekali tonjolan di balik celana kain lelaki itu. Sam yang kaget, sontak membuka mata. Makin kaget ketika dua gundukan kenikmatan bergantung tepat di depan matanya.


"Lakukanlah Sam." ujar Silvana dengan nafas berat.

__ADS_1


"A...a. aku tidak bisa Silvana." tolak Sam masih berusaha berfikir sehat. Dia takut kali ini Silvana hanya dikuasai nafsu, bukan benar-benar keinginannya. Hingga nantinya, dia akan menyesali perbuatannya itu.


"Lakukanlah" kali ini, suara Silvana terdengar sangat pasrah dan menggoda. Sampai-sampai Sam menutup mata dan telinganya agar tidak melihat dan mendengarnya lagi. Sam takut tidak kuat. Seperti apapun akal sehat mempertahankan, tetap saja dia adalah pria normal kebanyakan. Ada saat dia tidak bisa menolak lagi dan melakukan sebuah kesalahan besar.


"Sam, lihat aku." pinta Silvana sambil meremas dada bidang Sam. Lelaki itu membuka mata. Wajah Silvana sangat cantik, apalagi ketika sedang menahan hasrat seperti itu.


"Lakukan Sam. Aku menginginkannya." ucap Silvana lagi.


"Arghhh, Silvana aku tidak tahan lagi" teriak Sam diikuti gerakannya menghentakkan tubuh Silvana ke kasur. Sam kembali naik ke atas tubuh Silvana. Kali ini, pergulatan mereka sangat panas. Tidak ada lagi tirai penghalang entah itu bantuan atau apapun. Semuanya berubah menjadi hasrat dua manusia yang sama-sama ingin mencapai puncak kenikmatan.


Silvana berteriak dengan kuatnya ketika Sam memasukinya. Kuku-kukunya menancap sempurna di punggung Sam. Sakit tancapan kuku itu bukan membuat Sam berhenti, malah membuat lelaki itu semakin gila. Beberapa kali Sam menyebut nama Silvana di sela-sela kenikmatannya, pun begitu sebaliknya. Mereka menyatukan diri tanpa memikirkan lagi bagaimana kedepannya. Yang jelas setelah penyatuan ini, semuanya tidak akan lagi sama. Entah mereka akan saling menjauh, atau akan semakin tidak bisa meninggalkan satu sama lain. Tidak ada yang bisa menjawabnya, kecuali takdir mereka berdua.


******


Beberapa jam telah berlalu. Silvana mengerjapkan mata sejenak. Masih beradaptasi dengan tempat dimana dia bangun kali ini. Dia menoleh ke samping, dan mendapati lelaki yang tak lain adalah Sam juga sama-sama berada satu selimut dengannya. Dia tidak amnesia sedikitpun. Hanya saja dia mengira Sam akan pulang setelah bergulat beberapa kali tadi.


Silvana melihat jam di dinding kamar. Sudah pukul 7 malam. Berarti sudah enam jam dia berada di kamar itu dengan Sam. Secepat yang dia bisa, dia bangun dan mengambil satu-satunya pakaian yang paling dekat. Lalu menutupi bagian pentingnya saja kemudian berlari ke kamar mandi. Mendengar suara pintu tertutup, Sam membuka matanya. Seulas senyum berarti tercetak di wajahnya yang tampan.


Beberapa lama kemudian, Silvana sudah keluar dari kamar mandi dengan balutan jubah mandinya yang pas membalut tubuh. Sejenak dia terperanjat melihat Sam sudah bangun dan berdiri di dekat jendela dengan hanya berbalut handuk untuk bagian bawah tubuhnya.


"Aku sudah selesai mandi. Kamu mandilah dulu. Aku lapar." ucap Silvana sambil menghampiri Sam. Penasaran pada apa yang lelaki itu lihat di luar jendela.


"Apa menurutmu pemandangan disini cukup indah? " tanya Sam dengan tatapan yang tidak beralih dari jendela.


"Cukup bagus" jawab Silvana kemudian.


"Aku akan membeli hotel ini nanti."


"Untuk apa? " Silvana bertanya aneh.


"Untuk mengingat hari terakhir aku perjaka." ucap Sam. Seketika tawa Silvana pecah. Merasa digelitik perutnya saat Sam berkata bahwa dia baru saja kehilangan perjakanya dengan Silvana.

__ADS_1


"Kenapa kau tertawa?" Sam bertanya dengan dahi yang sudah mengkerut.


"Bagaimana ceritanya, seorang lelaki dengan permainan sepanas kamu baru melepas perjaka denganku." jawab Silvana. "Ternyata selera humor mu bagus juga."


"Aku sedang tidak bercanda." Sam menekankan. Tiba-tiba Silvana terdiam.


"Tapi tadi,...." Silvana menggantung ucapannya.


"Kenapa tadi?" tanya Sam menyelidik.


"Permainanmu sama sekali tidak seperti orang yang baru saja melakukannya Sam." jawab Silvana apa adanya. Karena sungguh permainan Sam sangat hebat. Bahkan tadi Silvana sempat berpikir kalau Sam tipe lelaki haus ***.


"Apa kau suka permainanku?" Sam bertanya sambil layangkan tatapan menggoda pada Silvana.


"Aku tidak berkata menyukainya kan" Silvana mencoba mengelak.


"Tapi kau memang menyukainya." goda Sam.


"Sudahlah Sam." Silvana berlalu karena sangat merasa malu harus mengakui hal tersebut. Tapi tak sampai lima langkah, Sam sudah menarik tangan Silvana dan mendekap wanita itu di depannya.


"Katakan yang sebenarnya." pinta Sam sungguh-sungguh.


Silvana hanya menggeleng, tetap saja mempertahankan gengsinya.


"Kalau kau tidak jujur. Aku akan melakukannya lagi. Membuatmu mencakar punggungku hingga luka. Agar itu bisa dijadikan bukti bahwa kamu menyukai permainanku." ancam Sam pura-pura.


Di bawah degupan jantung Silvana yang tidak menentu, dia akhirnya mengangguk.


"Ya, permainanmu sungguh luar biasa. " Silvana mengakui juga pada akhirnya. Sam tersenyum senang.


"Aku akan membeli hotel ini untuk kita. " putus Sam kemudian.

__ADS_1


__ADS_2