
Mendengar percakapan dan perintah dari Silvana. Sam segera menghampiri Daddynya. Berniat untuk mendiskusikan bagaimana baiknya untuk Zafran yang saat ini masih berada dalam lindungan Mira di rumah Silvana. Mengingat, tidak mungkin pula Mira akan sanggup melawan Alex dan para anak buahnya sendirian. Langkah kaki Sam diperlebar dan dipercepat, tak lagi menghiraukan pandangan Yura dan Nenek Elizabeth yang nampak kebingungan.
"Daddy." panggil Sam tanpa basa-basi masuk ke ruang kerja Louis.
"Ada apa Sam? " tanya Louis seketika setelah melihat raut wajah tak biasa dari Sam.
"Alex berniat mengancam Silvana menggunakan Zafran Dad." Sam memberitahu Louis yang sebenarnya.
"Manusia bodoh." umpat Louis sambil menggebrak meja. "Mereka benar-benar sudah gila. Bisa-bisanya memperalat darah daging mereka sendiri untuk kepentingan busuk seperti itu." darah Louis mendidih tiba-tiba.
"Telepon Mira, dan suruh dia bersiap pergi. Jemput Zafran sekarang." titah Louis sungguh-sungguh. Meski Silvana dan Zafran pada dasarnya bukan siapa-siapa dalam keluarga Louis Costa. Tapi ayah Silvana adalah seorang lelaki paling Louis hormati semasa hidupnya. Jadi perlindungan untuk Silvana digantikan oleh Louis selama dia hidup.
Sam segera menelpon ke nomor Mira. Nada sambung terdengar. Tapi Mira tidak segera mengangkat panggilan Sam.
"Halo pak." sapa suara di kejauhan setelah beberapa detik.
"Cepat kemasi barang-barang kamu dan Zafran seperlunya. 20 menit lagi aku sampai." titaj Sam.
"Baik pak." Sanggup Mira. Sebenarnya wanita pengasuh Zafran itu sudah tau apa rencana majikannya, Silvana. Dia hanya diperintah mentaati instruksi dari Sam. Apapun itu.
Panggilan pun terputus. Secepat kilat Sam meraih kunci mobil di meja Louis.
"Aku butuh kendaraan yang lebih cepat Dad." izin Sam.
"Bawalah. Pastikan cucuku sampai disini dengan selamat." Louis menekankan perintahnya. Tidak rela jika harus kehilangan cucunya yang tampan itu.
"Baik Dad." sanggup Sam. Lalu melangkah keluar dari ruang kerja Louis menuju garasi mobil.
********
Mobil Sam sudah sampai di depan pintu rumah Silvana. Dan Mira sudah menunggu dengan Zafran yang tertidur dalam gendongannya.
"Masuk, cepat!" ucap Sam sambil membuka pintu belakang mobil.
__ADS_1
Mira tergopoh-gopoh membawa Zafran dalam gendongan beserta satu ransel yang penuh. Mungkin hanya pakaian dan kebutuhan Zafran saja.
Setelah Mira masuk, Sam pun menyusul dan sesegera mungkin menancap gas. Takut nanti malah berpapasan dengan Alex. Baru saja mobil Sam berbaur di jalan raya, mobil Alex memasuki pekarangan rumah. Dengan bersiul ria, dia memegang satu tongkat kayu seukuran lengan. Bersiap melawan Mira untuk bisa membawa Zafran ke rumah orang tuanya.
Alex memasuki rumah dengan santai. Dan langsung menuju ke arah kamar Zafran di lantai bawah dekat dengan kamar Silvana. Tanpa basa-basi, Alex langsung membuka pintu dengan kasar. Tapi, seketika matanya terbelalak karena tidak menemukan siapapun.
"Zafran, Papi pulang…" teriak Alex menggema di seluruh rongga rumah.
"Zafran… " panggil Alex lagi. Tak ada sahutan, Zafran pun pergi menuju kamar Silvana. Tapi tetap tidak menemukan Zafran disana.
Dengan frustasi, Alex memukulkan tongkat itu ke kaca rias milik Silvana hingga hancur berkeping-keping.
"Kurang ajar. Siapa yang telah bersekongkol dengan Silvana selain Mira." teriak Alex seperti orang gila. Merasa telah terbodohi terlalu jauh oleh wanita yang masih berstatus istrinya tersebut.
Di tengah-tengah kalapnya, dia menerima panggilan telepon dari nomor tak dikenal. Secepat yang dia bisa, Alex menekan tombol hijau di layar.
"Apa kau akan membawa Zafran kepadaku malam ini bedebah?" tanya suara seseorang yang sangat familiar di telinga Alex. Itu suara Silvana. Tapi bagaimana mungkin wanita itu bisa menggunakan ponselnya, sedangkan dia sedang berada di bawah kungkungan ibunya yang kejam, pikir Alex.
"Jangan main-main denganku pelacur. Bagaimana kau bisa menggunakan ponsel di dalam ruangan milik Mamaku? " sergah Alex.
*******
Sarah dan tiga anak buahnya masuk ke tempat dimana Silvana berada. Raut itu terlihat sangat marah. Silvana hanya tersenyum mengejek ketika tahu mertuanya datang membawa emosi.
"Mana ponselmu.?" tanya Sarah dengan mata melotot.
"Apa kau melihatku membawa ponsel? " tanya Silvana balik. Geleng-geleng kepala melihat Sarah kebingungan.
"Darimana kau menelpon Alex di rumahnya?" Sarah bertanya lagi.
"Aku tidak menelepon Alex atau siapapun." sanggah Silvana.
"Lalu siapa yang menelpon dia?" tanya Sarah tetap keukeuh dengan tuduhannya.
__ADS_1
"Apa kau ingin tawar menawar denganku sekarang?" Silvana bertanya meremehkan. "Anakmu yang bodoh itu selalu telat satu langkah di belakangku. Dan itu sebuah kesalahan yang besar. Tidakkah kau sadar kalau anakmu sedungu itu, Nyonya Sarah William.?" lanjut Silvana menjatuhkan mental Sarah sedemikian rupa.
Mendengar itu, Sarah menghentakkan kakinya kesal lalu pergi meninggalkan Silvana seorang diri lagi. Benar-benar merasa jatuh harga dirinya. Dan sepertinya, dia akan melaporkan hal itu kepada William. Lelaki yang sebenarnya tidak bisa melakukan apapun kecuali kejahatan.
*******
Sam dan Mira yang membawa Zafran sudah sampai di rumah keluarga Louis. Dia membuka pintu mobil dan meraih Zafran dari gendongan Mira. Sambil menggendong anak itu, Sam mengamati baik-baik raut wajah Zafran. Ada perasaan aneh ketika melihat wajah tampan mirip Silvana itu. Ada rasa begitu takut kehilangan yang besar di hatinya.
"Aku akan menjagamu Zafran." bisik Sam di telinga anak kecil itu. Entah mengapa, dia merasa sangat khawatir.
Yura yang memang sengaja menunggu kedatangan kakaknya, dengan sigap membuntuti Sam menuju ke kamar. Dia berniat menanyakan apa yang terjadi, tapi sebelum itu, dia harus membantu kakaknya menidurkan Zafran dengan baik.
"Tolong letakkan guling itu di sisinya." titah Sam pada adiknya, Yura.
Gadis itu dengan cepat mengerjakan perintah kakaknya, lalu mencium kening Zafran sejenak. Sebelum benar-benar mengajak kakaknya duduk untuk menjelaskan semuanya.
"Ada apa ini kak?" tanya Yura tanpa basa-basi setelah Sam mendudukkan diri di sofa dekat pembaringan.
"Silvana sedang berada dalam kurungan Sarah dan William." jawab Sam mengatakan yang sebenarnya.
"Kenapa bisa begitu?" Yura bertanya khawatir. Betapa tidak, meski dia bukan orang penting. Tapi dia tahu betul bagaimana sepak terjang keluarga William dalam bisnis gelap yang tidak bisa dikatakan biasa saja.
"Niat balas dendamnya sudah tercium oleh keluarga itu. Apalagi seluruh bukti penembakan Ayahnya mengarah kuat kepada Alex. Dan saat ini, keluarga gila itu berniat untuk menjadikan Zafran sebagai tameng mereka, karena mereka tau, kelemahan terbesar Silvana adalah Zafran." jelas Sam.
"Tidak berprikemanusiaan sama sekali. Padahal mereka tahu betul kalau Zafran adalah darah daging mereka sendiri." gumam Yura.
"Semua itu sekarang tidak penting, yang terpenting adalah, bagaimana kita harus bisa melindungi Zafran sepenuhnya." Lirih Sam menyorotkan pandangannya kepada anak laki-laki Silvana itu.
"Kakak mencintai Kak Silvana? " tanya Yura tiba-tiba. Mendapat pertanyaan seperti itu, Sam hanya menunduk menatap lantai kamarnya. Dia sedang tak memiliki jawaban. Tapi dia tak yakin jika harus berkata tidak kali ini. Mungkin untuk sekarang, dia hanya mengikuti jejak Daddynya yang melindungi Silvana sebagai bentuk balas budi. Tapi entahlah, jika hatinya yang menjawab pertanyaan seperti itu.
"Entahlah." pada akhirnya, jawaban itulah yang dia pilih untuk menjawab tanya adiknya.
"Kami semua disini mendukung Kakak. Jika kakak mencintai dia, lindungilah dia dan Zafran sepenuh hati. Doa kami selalu menyertai kakak." ucap adiknya menyemangati sambil memeluk Sam dari samping.
__ADS_1
"Terima kasih Yura."