Perempuan Badai

Perempuan Badai
Bukan Tandinganku.


__ADS_3

"Itu bukan rombongan musuh." ucap Louis melihat mereka juga berpakaian seperti para polisi.


"Lalu siapa Dad?" tanya Sam kebingungan.


"Itu polisi Sam. Kita tidak bisa kesana sekarang." Louis memberitahu. Dulu keadaannya tidak begini. Louis tidak tahu darimana dan bagaimana polisi itu datang.


"Kenapa bisa begini Dad? " tanya Sam lagi. Pasalnya dia tidak ikut campur dalam perencanaan ini. Silvana hanya menyalakan alarm perintah bahwa dia sudah dibawa ke pelabuhan. Jadi, mereka datang meski sebenarnya panggilan itu bukan untuk Sam dan Louis.


Di kejauhan sana, Silvana masih berdiri di depan mobil yang dipakai William dengan tangan yang tetap memegang tangan Alex yang dipelintir ke belakang.


"Turun kalian!" teriak Silvana. Matanya memerah menatap pada pasangan yang mulai turun dari mobil.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Sarah ketika sudah berhadapan dengan Silvana. Menanyakan apa maunya dengan emosi ketika tahu bahwa semua gadis yang telah dikumpulkannya dievakuasi oleh para polisi.


"Apa kau benar-benar bertanya mauku? " tanya Silvana dengan senyum meremehkan.


"Katakan! Cepat!." bentak William tak sabar. Mengingat bahwa transaksinya akan benar-benar gagal kali ini.


Silvana melepaskan Alex dengan mendorongnya hingga jatuh di hadapan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Aku ingin kalian mendapat hukuman yang pantas." ucap Silvana tanpa alih-alih sambil melempar beberapa kertas kepada Alex yang memang sejak dulu dia siapkan sebagai barang bukti yang kuat.


"Aku mau kalian membayar kontan karena telah menghancurkan keluargaku." lanjutnya. "Aku tau kalian telah menyabotase kematian Ayahku dengan mengatakan bahwa dia ditembak oleh oknum tak bertanggung jawab yang merupakan musuh keluarga kalian. Tapi pada kenyataannya, anakmu yang bodoh ini yang telah menembaknya sampai mati. Apa salah ayahku saat itu? " tanya Silvana dengan tegas. Dia tidak ingin lagi terlihat lemah di hadapan keluarga yang telah menghancurkan hidupnya. Tak terkecuali Alex, meski tak dapat dipungkiri bahwa dia adalah ayah biologis Zafran. Tapi kali ini, Silvana tak akan lagi memberi ampunan. Apalagi mereka telah berani mengamcam Zafran. Putra kesayangannya.


Wajah Sarah dan William memerah. Mereka tidak tahu kalau Silvana akan mengetahui rahasia yang selama ini tidak pernah diketahui siapapun. Dalam kebimbangannya, Sarah masih memberanikan diri bertanya pada Silvana.


"Siapapun yang memberitahumu tentang itu? Mereka bohong." sanggah Sarah mencoba membodohi Silvana lagi. Pasalnya, dia benar-benar tidak sadar, kalau Silvana yang sekarang ada dihadapannya bukan lagi Silvana menantunya yang selalu tunduk.


"Kalian bukan tandinganku. Dan kau harus tau, aku sudah mempunyai bukti kuat. Sepulang dari sini, kalian akan mendekam di penjara, sampai aku yang menginginkan kalian keluar dari sana." ancam Silvana.


Wajah William dan Sarah seketika berubah pias. Transaksi yang seharusnya lancar, harus berantakan. Bahkan sel penjara sedang bersiap menyambut mereka.


"Katakan apa maumu, kami akan mengabulkan. Asal jangan bawa kasus itu ke polisi." william memohon. Dengan wajah memelas dia menatap Silvana penuh harap. Dengan tatapan lemah yang bisa meluluhkan hati siapa saja. Tapi tidak dengan Silvana. Dia sudah muak dengan perkataan seorang William yang hanya merupakan sandiwara saja.


"Apa maksudnya ini?" tanya Sarah kebingungan. Silvana tahu Sarah adalah wanita kejam. Tapi titik terlemah wanita adalah dikhianati pasangannya. Sekejam apapun seorang wanita, pengkhianatan tetap akan menyakiti hatinya.


"Andai mama mertua tahu," Silvana menggantung ucapannya, membiarkan Sarah menatapnya dengan menuntut penjelasan.


"Suami yang sangat kau cintai ini telah mengajakku bermalam dengannya. Dengan imbalan bahwa 60% dari perusahaan akan menjadi milikku atas nama Zafran. Dia telah menandatanganinya." jelas Silvana. Sarah tertegun. Menatap suaminya tak percaya.

__ADS_1


"Tapi mama tenang saja. Aku bukan tipikal wanita murahan seperti ******. Aku tidak sampai tidur atau melakukan hal-hal yang tidak senonoh denganya. Bisakah kau melihatnya baik-baik. Aku bahkan jijik mengakui bahwa dia adalah papa mertuaku. Kakek Zafran." lanjutnya. Menjelaskan semua kebodohan papa mertuanya yang telah dengan mudahnya masuk ke dalam perangkapnya.


Sarah menunduk sejenak, sedang William terlihat ingin sekali membela diri disini. Tapi sepertinya cukup pintar membaca keadaan kalau sudah tak dapat melakukan apa-apa.


"Kenapa kau lakukan ini William? " tanya Sarah hancur. Dia bahkan menangis di tengah keadaan yang semakin tegang ini.


Terlihat beberapa polisi sudah mengelilingi mereka bertiga. Menodongkan pistol yang pastinya sudah siap dengan peluru yang bisa menembus kulit mereka kapanpun jika melakukan perlawanan.


Di tempat lain, terlihat Sam sadar kalau seseorang membuka pintu mobil di belakangnya, Sam membalikkan badan. Dan terlihat Mira sedang membantu Zafran turun dari pintu.


"Mira." bentak Sam. Yang dipanggil menoleh cepat dengan gemetar.


"Kenapa kamu keluar mobil. Ini bahaya." Sam menekankan lagi.


"Tuan Zafran ingin buang air kecil tuan." jawab Mira memberitahu.


"Cepatlah. Setelah itu masuk kembali ke mobil." ucap Sam. Lalu kembali melihat kedepan. Ke beberapa orang yang berkumpul sekitar 70 meter dari tempatnya berdiri. Tanpa Sam sadari, seorang bocah laki-laki sudah berlari melewatinya.


"Sam, Zafran… ." teriak Louis yang melihat anak itu berlari ke arah Silvana.

__ADS_1


Mata Sam melotot cemas. Cepat dia berlari mengejar Zafran.


"Zafran… …" panggil Sam. Membuat wanita di kejauhan sana menoleh ketika mendengar nama putranya terdengar ditelinga.


__ADS_2