Perempuan Badai

Perempuan Badai
Mengibarkan Bendera Perang.


__ADS_3

Jam di ponsel Silvana sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dan mobil yang digunakan pun sudah hampir memasuki pekarangan rumah. Tanpa ragu, Sam memasukkan mobil ke dalam teras. Lalu berhenti tepat di depan pintu masuk rumah Silvana.


"Terima kasih untuk hari ini Sam." ucap Silvana sambil membereskan barang-barangnya. Memastikan tidak ada yang ketinggalan.


"Lain kali kalau membutuhkan bantuan seperti itu, kau bebas menghubungiku kapan saja." kelakar Sam. Silvana menoleh dan menatap Sam dengan intens, dengan tatapan pertanyaan.


"Hehe, maafkan aku. Aku hanya bercanda." cekikik Sam kemudian, merasa gentar juga ketika mendapat tatapan tajam dan tak suka dari Silvana.


Tanpa berkata apapun, Silvana keluar dari mobil itu dan masuk rumah tanpa melihat lagi ke arah Sam. Dia sebenarnya sangat ingin tertawa ketika tadi Sam menggodanya. Tapi dia lebih memilih diam agar tak ada seorangpun yang berpikir bahwa seorang Silvana adalah seseorang yang mudah ditaklukkan.


Tempat pertama yang dia tuju adalah kamar Zafran. Entah kenapa dia sangat rindu sekali pada pria kecil itu. Dengan pelan, Silvana membuka pintu kamar Zafran. Tapi dia mendapati anak itu sedang dibacakan dongeng oleh Mira.


"Anak ganteng mami belum tidur sayang?" tanya Silvana penuh sayang sambil mendekat.


"Ish, Mami kemana aja sih. Pulangnya malam sekali." ucap Zafran merajuk sambil mencoba duduk dari tidurnya.


"Mami banyak urusan sayang. Bagaimana kegiatan hari ini? " tanya Silvana sambil duduk di berhadap-hadapan dengan Mira di bibir kasur.


"Apa mami benar-benar ingin tau? " tanya Zafran menyelidik.


Silvana hanya mengangguk dengan mempertahankan senyum sayangnya.


"Tadi siang, kak Mira berantem sama 3 orang laki-laki. Keren banget mi. " puji Zafran. Tapi ucapan itu membuat senyum Silvana hilang. Dia memandang ke arah Mira dengan tatapan penuh tanya. Yang dipandang hanya mengangguk. Mencoba berinteraksi lewat matanya bahwa dia akan menjelaskannya nanti.


"Wah, hebat dong. Yaudah, sekarang Zafran tidur ya. Mami mau ngobrol sama Kak Mira sebentar. Nanti mami kesini lagi, tidur sama Zafran." bujuk Silvana agar anaknya itu mau tidur sendirian.


"Oke mami. Zafran tidur dulu ya." setujunya sambil mulai merebahkan badan lagi. Mira berdiri, memberi ruang untuk Silvana menyelimuti Zafran dan mencium puncak kepala anak itu.


Dia dan Mira sama-sama berdiri dan keluar dari kamar Zafran. Silvana memandu dan duduk di meja makan, Mira pun menyusul dan duduk di sebelah Silvana.

__ADS_1


"Ceritakan padaku!" ucap Silvana penuh penekanan. Dia menjadi sangat meradang mendengar Mira berkelahi. Karena jika tidak mengancam Zafran, Mira tidak akan berkelahi.


"Tadi ada tiga orang laki-laki mengintai Tuan Zafran………" Mira pun menceritakan semuanya secara rinci tanpa meninggalkan sedikit informasi pun.


"Menurut saya, mereka adalah utusan dari salah satu keluarga tuan Alex." ucap Mira di akhir penjelasannya.


"Bagaimana kau bisa tau kalau itu ancaman dari keluarga Alex.?" tanya Silvana setelah Mira mengutarakan pendapatnya.


"Mereka menitip pesan untuk anda"


"Pesan apa?" tanya Silvana penasaran.


"Mereka bilang, jangan sampai anda mengganggu Tuan William lagi." ucap Mira.


Mendengar itu, dia sudah bisa mengambil kesimpulan. Siapa yang telah mencoba untuk mencelakai anaknya.


"Baiklah, jika kau ingin mengibarkan bendera perang kepadaku bajingan." geram Silvana menggeretakkan jarinya. Mira yang melihat itu ikut merinding. Dia tidak tau kepribadian Silvana yang seperti ini.


"iya Bu. " jawab Mira sigap.


"Besok buatkan Zafran sosis asam manis untuk sarapan pagi. Masih ada yang harus saya selesaikan besok pagi." ucap Silvana.


"Baik bu." Mira menyanggupi. Silvana lalu pergi meninggalkan Mira dan menuju ke arah kamar Zafran. Setelah bersih-bersih badan, Mira segera berbaring di dekat Zafran. Dan berusaha memejamkan mata meski pikirannya berkecamuk. Silvana melihat Zafran dengan lekat. Naluri ibunya membuat Silvana menangis. Bagaimana mungkin dia akan membiarkan Zafran dalam bahaya. Sedang anak itulah alasan kenapa dia bisa hidup sampai sekarang.


Sekilas tiba-tiba dia teringat ucapan Alex dan William seminggu yang lalu. Dia jadi geram sendiri. Tapi seperti sikap Silvana yang biasanya. Dia tetap tenang dan memikirkan bagaimana cara membalas perbuatan Alex esok pagi.


*****


Mentari sudah menyembul dan cahayanya masuk ke dalam rumah lewat jendela yang sebelumnya telah Mira buka. Ya, setelah dititipkan amanat semalam oleh Silvana, Mira melakukan semua yang biasanya dilakukan oleh Silvana. Sedang wanita itu sendiri, tadi Mira melihat Silvana naik ke lantai atas. Dimana kamar Alex dan ruang kerjanya berada.

__ADS_1


Sedang di lantai atas. Silvana mencari Alex di ruang kerjanya, lalu berpindah ke dalam kamar pribadi lelaki tersebut. Silvana tidak melihat apapun di sana kecuali sebuah kamar yang sangat berantakan. Tapi beberapa detik kemudian, dia mendengar suara siraman air dari dalam kamar mandi. Jadi Silvana berniat menunggu lelaki itu sampai selesai mandi.


Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Sam keluar dari sana dengan memakai jubah mandinya yang terikat rapi. Lelaki itu menyugar rambutnya perlahan, sampai bola matanya melihat seorang wanita yang duduk di kursi kamarnya, menatap tajam ke arah Alex dengan tatapan yang penuh emosi dan mengerikan.


"Tumben pagi-pagi sudah ada di kamarku?" tanya Alex sambil memperhatikan Silvana yang terlihat lebih seram dari biasanya.


"Jangan berpura-pura bodoh." jawab Silvana kalem. "Apa kau ingin mengibarkan bendera perang padaku lelaki busuk?" lanjut Silvana dengan nada benci.


"Apa maksudmu? " Alex masih berusaha biasa saja meski sebenarnya dia juga takut menantang tatapan mata Silvana yang tajam dan mematikan.


"Jangan pernah bermimpi kau bisa menyakiti anakku." Silvana berdiri menghampiri Alex yang masih mematung di depan pintu kamar mandi. "Kalau kau berani, ayo lawan aku." tantang Silvana sambil menyingsing lengan baju tidurnya.


"Aku tidak mengerti maksudmu pelacur." Alex mulai ketakutan, hingga tanpa sadar dia telah mengucapkan satu kata yang pada akhirnya akan membuat wajahnya membiru.


Bukkk


"Ini untuk mulutmu yang tidak tau malu." ucap Silvana setelah berhasil layangkan tinju mentah ke pelipis Alex.


"Kurang ajar." teriak Alex sambil menyerang Silvana membabi buta.


Silvana hanya menghindar dari pukulan tak berarti dari Alex. Benar kata pepatah, seseorang yang kaya sebenarnya tidak memiliki damage untuk melawan musuhnya kecuali memiliki banyak uang untuk membayar para penjahat.


Di situasi dimana Silvana memiliki kesempatan untuk memukul. Dia dengan cepat menyodorkan telapak tangan dengan keras ke dada Alex. Membuat lelaki itu terdiam sejenak, di susul bogem mentah di perut, dan satu tendangan telak tepat di bagian kelelakiannya.


"Awww" jeritan Alex terdengar sangat menyakitkan.


"Ini hanya sambutan Lex." ucao Silvana angkuh. "Kalau kau masih ingin merasakan pukulanku lagi, pastikan kau sudah siap." lanjut Silvana lagi.


Dia segera meninggalkan Alex di kamarnya. Keluar seolah tidak terjadi apa-apa. Di tangga bawah, dia mendapati wajah Mira seperti ketakutan. Silvana turun dengan anggunnya dan menatap penuh tanya ke arah Mira.

__ADS_1


"Ada apa Mir?" tanya Silvana setelah sampai di hadapan wanita itu.


Tak banyak bicara, Mira memberikan ponselnya agar Silvana membaca pesan yang tertera di dalamnya. Silvana pun mengambil ponsel itu dan membaca pesan di tertera di layar. Seketika matanya terbelalak. Sebuah masalah serius sedang terjadi.


__ADS_2