
Pagi-pagi sekali, Silvana sudah bersiap untuk pergi ke tempat ibunya. Selain melihat kondisi adiknya, dia juga akan menepati janji untuk menebus keluarga fatah. Sarapan sudah selesai, tanpa Alex tentunya. Karena sejak kejadian di kamar itu, Alex tidak pulang kerumah. Beberapa kali Zafran bertanya, dan syukur dia bisa percaya. Toh dia juga sudah terbiasa ditinggal setiap hari oleh papinya.
Silvana melepas kepergian anaknya dengan senyum dan lambaian tangan. Sedang dia sendiri langsung menutup pintu dan mengunci dari luar. Dia sudah ada janji dengan Sam dan Louis. Mereka akan pergi bersama. Tapi tiba-tiba saja ponselnya berdering dan tertera nama William di sana. Silvana menepuk jidatnya kasar. Kenapa dia sampai lupa masalah tua bangka itu.
"Hallo Pa." sapa Silvana selembut mungkin.
"Kau tidak masuk kantor?" tanya suara di sebrang. Terdengar kasar, tapi Silvana kini tidak peduli. Ada sesuatu yang lebih penting dari itu.
"Silvana libur dulu Pa, Adik aku sakit, dan dirawat. Jadi Silvana akan datang kalau semua sudah beres." jelas Silvana meyakinkan. Suara ******* terdengar di sebrang.
"Kenapa kamu ninggalin aku di kamar sendiri?" tanya William.
"Aku kan sudah bilang kalau Zafran telpon aku." jawab Silvana santai. "Lagian permainan Papa juga hebat sekali. Masih terasa sangat menggairahkan." Silvana cepat memegang mulutnya yang ingin muntah setelah mengatakan itu. Sungguh dia jijik sekali.
"Oh ya? Tapi kok Papa gak ngerasa ya?"
"Papa kan mabuk." Silvana mengelak lagi. "Apa tidak berasa sakit luka-luka di punggung Papa?" Silvana mengarahkan ke sesuatu yang kemungkinan akan membuat tua bangka itu percaya.
"Kau tega sekali. Punggung papa sangat sakit" desis seseorang di seberang.
"Yaudah ya Pa. Silvana mau berangkat dulu." ucap Silvana sambil memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Dia tidak lagi perduli apa keputusan William. Toh, tanda tangan sudah dikantongi dengan surat-surat yang jelas.
Silvana langsung masuk mobilnya dan mengendarai mobil tersebut untuk membelah jalan raya. Sebelum pergi ke rumah sakit, Silvana hendak menjemput Sam dan Louis terlebih dulu.
Beberapa menit kemudian, Silvana sudah sampai di kantor Louis. Dia pun segera menghubungi Sam. Tak berapa lama, dua orang lelaki yang wajahnya hampir sama menuju ke mobilnya.
"Biar aku yang menyetir." ucap Sam di kaca jendela kemudi. Silvana mengangguk, dan keluar dari mobilnya. Berpindah ke jok belakang. Duduk bersama Louis.
"Selamat pagi Om. Apa kabar? " tanya Silvana setelah menyalami tangan Louis yang besar itu. Mirip tangan Ayahnya.
"Om baik. Kamu sendiri apa kabar? " Louis menjawab pula dengan pertanyaan yang sama.
"Aku juga baik Om." Silvana menjawab disertai senyum manis.
__ADS_1
Louis hanya tersenyum sambil mengusap sayang puncak kepala Silvana. Yang diusap hanya diam mempertahankan senyum. Mengingat kembali sebuah kebenaran bahwa dulu ayahnya lah yang selalu memanjakan dia begini.
"Lusa kemarin, anak buah Sarah, mertuamu datang ke rumah sakit tempat gadis yang ditemukan Sam itu" ucap Louis memberitahu.
"Kenapa Om gak telpon aku?" tanya Silvana sambil menoleh meminta penjelasan.
"Om sudah telpon kamu dan Sam. Tapi nomor kalian tidak aktif." sahut Louis. Seketika Silvana diam. Merasa bersalah karena ulahnya. Jika saja dia dan Sam tidak kebablasan. Mungkin saja semuanya masih dalam kendali.
"Apa jangan-jangan yang hendak mencelakai Anna adalah mertuamu pula? " Sam nyeletuk tanpa menoleh dan menghilangkan konsentrasinya di jalan raya.
"Bisa jadi." Louis berujar.
"Tapi, kalau memang itu ulah Mama Sarah. Kenapa preman menyuruh Fatah?" Silvana mencoba berpikir keras.
"Mungkin untuk menjadi ganti dari gadis itu." Louis lagi-lagi ajukan pendapatnya.
"Keterlaluan." desis Silvana. "Dia tidak tahu siapa yang sedang dia hadapi." lanjutnya. Tangan kanannya mengepal. Ada lagi luka yang tersayat di tempat yang sama. "Benar-benar keluarga sampah" emosi Silvana mulai tersurut.
"Berani sekali dia mengganggu cucuku." Louis ikut naik pitam.
"Dia sudah mencium rencana kita, Sil. Jadi kamu harus lebih hati-hati sejak saat ini. " Louis kembali mewanti-wanti. Yang dinasehati mengangguk paham.
Beberapa lama, mobil masih sunyi. Hingga sampai mobil tersebut terparkir di area parkir rumah sakit. Mereka bertiga turun, tanpa menoleh sedikitpun kebelakang. Karena Sam sudah memberitahu ada seseorang yang sedang menguntit mereka sejak baru memasuki kota ini.
"Tetaplah melangkah kedepan. Jangan berbalik ataupun memperlihatkan wajah." ujar Sam di belakang Silvana. Semuanya mengangguk dan tetap saja berjalan.
Sesampainya di kamar tempat Anna dirawat, Silvana masuk dan menemukan sang ibu menyuapi adiknya makan. Mereka berdua tersenyum lega ketika Silvana datang dengan selamat.
"Kau baik-baik saja Sil?" tanya Ibu sambil menyambut dan memegang tangan anaknya.
"Kenapa bu?" Silvana bertanya bingung sambil membalas tatapan Sam dan Louis yang sama-sama bingungnya.
"Firasat ibu dari tadi tidak nyaman. Selalu was-was." jawab Ibunya. Mendengar itu, Silvana tersenyum kecil.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja Bu." ucap Silvana. "Ibu tenang saja ya. Silvana akan hati-hati." lagi-lagi dia meyakinkan. Tak sampai hati jika harus menceritakan kalau rencana balas dendamnya sudah tercium oleh keluarga Alex.
"Ibu selalu berdoa untuk keselamatanmu." lirih Ibunya kemudian.
******
Setelah beberapa lama berbincang dengan Ibu Silvana. Louis mengajak mereka untuk berangkat ke tempat selanjutnya. Silvana dan Sam pun mengiyakan. Lalu pergi beriringan keluar rumah sakit.
Beberapa lama membelah aspal dan memasuki daerah kumuh, mereka sampai pula ditempat yang mana Fatah sudah menunggu di sana. Lelaki itu terlihat gelisah, Silvana mampu menangkap raut wajah itu tapi enggan berkomentar atau menanyakan.
"Dimana tempatnya?" tanya Silvana ketika Fatah memasuki mobil.
"Di dalam gedung tua itu." Fatah memberitahu sambil menunjuk.
"Om," panggil Silvana kemudian. Louis menoleh. "Tolong pegang berkas ini. Jika ada sesuatu yang serius terjadi, tolong urus dan pegang hasilnya. Entah kenapa firasatku kali ini tidak baik." ujar Silvana kemudian.
"Aku harus ikut." Sam memutuskan sepihak. Dia juga merasa ada sesuatu yang tidak baik. Silvana menoleh, dan menatap keberatan pada Sam.
"Tidak perlu Sam. Ini pembalasan dendamku. Dan aku tidak harus melakukannya sendiri. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga diri. Aku janji." tolak Silvana halus. Dia tidak mau orang lain mencium bau kerja samanya dengan keluarga Sam. Silvana tidak mau Mama mertuanya yang gila itu mengancam keluarga Sam.
"Aku tidak yakin." sahut Sam. Louis hanya diam mendengarkan dan sedikit mempunyai prasangka pada keduanya.
"Pakai ini." Silvana menjulurkan sebuah benda kecil pada Sam.
"Apa ini?" Sam bertanya kebingungan sambil memperhatikan alat bulat yang sangat kecil itu.
"Alat ini penghubung jarak jauh. Sudah terhubung denganku juga. Kau bisa mendengar apa yang aku bicarakan dengan alat ini. Dan alat ini juga bisa melacak lokasi. Jadi pakailah." jelas Silvana. Sam hanya terdiam tak yakin. Bagaimana bisa dia melihat orang yang dia sayang berjuang sendirian.
"Hati-hati Silvana." ucapan Louis menyadarkan Sam dari lamunannya. Tapi sudah terlambat. Silvana sudah keluar dari mobil dan berjalan lurus kedepan dengan penuh keyakinan. Sedangkan Sam hanya bisa menatapnya dengan tatapan tak rela.
"Ada apa Sam?" tanya Louis. Sam hanya menggelengkan kepala. Isi di kepalanya seakan hanya Silvana saja.
"Selamatkan Silvana ku Tuhan." desisnya tak bersuara.
__ADS_1