
Gelap sudah berpendar rata menutupi awan di atas desa yang jauh dari keramaian kendaraan. Sekitar 3 jam lalu dia menapak kaki di tempat dimana dia dilahirkan. Hawa yang tentram dan tenang mampu selalu menghipnotisnya setiap kali dia memejamkan mata, desa penuh kenangan bersama Almarhum ayahnya.
Di teras rumah yang terang ini, Silvana bisa merasakan kembali sentuhan-sentuhan tangan sang Ayah. Lelaki pertama yang telah membuatnya jatuh cinta. Bagaimana tidak, dengan belaiannya, lelaki itu bisa menenangkan. Dengan genggamannya, lelaki itu bisa menguatkan. Dan dengan segala petuah dan nasehatnya, lelaki itu bisa membuat seorang wanita biasa menjadi sekuat Silvana. Ah, setetes air mata itu akhirnya lolos juga. Betapa sedihnya dia ketika mengingat bagaimana dulu jenazah sang Ayah di bawa pulang. Seorang gadis yang sedang terpuruk karena telah dinodai, harus kembali terpuruk dengan kematian sang Ayah yang entah karena apa.
"Nduk…" Suara seorang wanita paruh baya menyadarkan lamunannya. Silvana cepat-cepat membuka mata dan menghapus bekas air matanya.
"Iya bu." Jawabnya biasa. Seolah tak pernah ada apapun yang mengganggu pikirannya. "Zafran sudah tidur?" tanyanya kemudian, mengingat tadi Zafran asik bermain dengan neneknya.
"Itu, baru saja Ratna hendak menidurkannya" Jawab sang ibu sambil duduk di hadapan anak sulungnya. "Kamu baik-baik saja toh Nduk? "
Silvana menoleh sekilas mendengar pertanyaan kekhawatiran itu. Lalu tersenyum kecil.
"Silvana baik-baik saja bu. Oh ya, kata ibu ada yang mau ibu omongin sama Sisil.?" Tanyanya sambil menyebut nama panggilan sayang dari keluarga untuknya, Sisil.
Sang ibu menghela nafas lega mengetahui putrinya baik-baik saja. Dia Pun juga mengerti, bahwa Silvana pasti sedang mengingat tentang Almarhum sang ayah.
"Begini Silvana." Ibunya pun membuka percakapan. Menceritakan dari awal apa yang terjadi lima hari yang lalu. Dengan seksama Silvana mendengarkan tanpa memotong perkataan ibunya. Sesekali dia mangut-mangut mengerti.
"Warisan bu?" kagetnya kemudian. "Warisan apa? Sedangkan kita tidak tahu kalau ayah adalah seorang lelaki desa biasa." Sangkal Silvana.
"Itu dia Sil, Orang itu bilang kalau semua yang ayahmu punya sudah diatas namakan kamu. Bahkan surat dari ayah kamu juga ada di situ. Tapi ibu gak berani bukanya Nak. Coba nanti kamu lihat saja ya, sudah ibu letakkan di meja rias kamu di kamar." Jelas ibunya lagi.
"Apa ada yang tau selain keluarga kita tentang ini Bu?" Tanya Silvana mulai menganggap ini hal serius.
"Tidak ada." ibunya menjawab cepat. "Orang itu juga datang menggunakan pakaian biasa Sil, bukan pakaian kantor." Lanjut ibunya.
"Baiklah, Silvana akan periksa dulu surat-suratnya ya Bu. Ibu masuk aja, istirahat!" Ucapnya kemudian setelah menimbang beberapa hal.
Berkat kejadian tadi malam, kini Silvana sudah duduk di sebuah restoran kelas menengah ke atas dengan pakaian biasa. Hanya celana kain coksu dan blus lengan panjang warna putih yang cantik membuat tampilannya terlihat elegan. Sembari menunggu orang yang ada janji dengannya, Silvana mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Sembari bersenandung kecil mengikuti alunan lagu dari sound yang tersedia di restoran tersebut.
__ADS_1
Tiba-tiba saja kornea matanya menangkap sosok laki-laki yang amat sangat dikenalnya. Lelaki yang serumah bahkan lelaki yang juga adalah ayah Zafran itu sedang bersama wanita sexy bergelak tawa ria sambil saling menyuapi di pojok kanan resto. Langsung saja Silvana mengambil ponselnya dan menelpon seseorang disana.
"Boy, tolong periksa lelaki yang berada di bangku nomor 7 pojok kanan ruangan." Ucap Silvana datar.
"Iya bu, Sudah saya dapatkan gambarnya." jawaban di seberang terdengar.
"Bagus, tolong awasi dia setiap kali masuk restoran ini. Dan kirim gambar dia meski dengan wanita yang berbeda." Perintah Silvana tegas dan menutup panggilan secara sepihak. Entah apa yang ada di kepalanya, yang jelas dia hanya ingin mengumpulkan beberapa informasi tersebut.
"Maaf, dengan ibu Silvana? " Sapa seseorang di samping kirinya.
"Eh, iya pak." Jawab Silvana sedikit gugup karena lelaki itu mengagetkannya.
"Saya Sanusi." ucap lelaki itu menjulurkan tangan. Silvana dengan sigap berdiri.
"Silvana pak, silahkan duduk."
Pak Sanusi pun duduk tenang di hadapan Silvana. Memandang sejenak, lalu menghela napas kecil.
Dengan nada tenang dan kalimat yang rapi, Silvana dengan mudah memahami apa yang lelaki itu jelaskan. Sesekali Silvana mengangguk mengerti meski sudah ada beberapa pertanyaan yang sudah dia siapkan. Hanya saja Silvana tidak ingin bertingkah tidak sopan dengan memotong penjelasan Pak Sanusi.
"Jadi, karena umur Ibu Silvana sudah 25 tahun. Maka saya berkewajiban menyampaikan amanat Ayah anda." Ucapnya seketika mengakhiri penjelasan.
"Jadi, ada kemungkinan kematian ayah saya adalah unsur kesengajaan? Maksud saya, ada yang memang berniat membunuhnya? Dan sejauh ini pengamatan bapak, pembunuhnya adalah dari keluarga suami saya?" tanya Silvana dengan hati-hati dan pelan sekali, sesekali matanya menoleh ke arah Alex, takut lelaki itu menyadari keberadaannya dan menghampirinya.
"Sejauh ini memang belum pasti bu. Tapi penyelidikan Tuan Louis mengarah ke keluarga suami anda." Jawab lelaki setengah baya itu dengan yakin.
"Sebentar, Tuan Louis yang kau maksud adalah Louis Costa? Putra semata wayang Nyonya Elizabeth Costa?" selidik Silvana.
"Benar sekali Bu. Sampai saat ini Tuan Louis masih mencari siapa yang sengaja membidik Tuan Prayoga. Karena dari peluru yang diangkat dari tubuh Tuan Prayoga termasuk senjata yang khusus, dan hanya dimiliki beberapa orang di negara ini. Dan salah satunya yang memiliki adalah suami anda."
__ADS_1
Seketika wajah Silvana memucat. Banyak teka-teki yang harus dipecahkan sendiri.
Apakah Alex yang sengaja membunuh Ayahnya? Tapi bagaimana bisa? Sedangkan ayahnya sudah setia menjadi sopir dan asisten pribadi mertuanya, Pak William selama 4 tahun lamanya.
Setelah beberapa menit terdiam, Silvana mulai menghela napas berat. Dan memandang Pak Sanusi dengan tatapannya yang intens.
"Apa sekarang Tuan Louis yang mengatasi perusahaan itu?" Tanyanya memastikan.
"Benar bu" Jawab Sanusi tegas.
"Baiklah. Kau pastinya tau. Sejak kecil aku tidak dididik untuk menjadi seorang bos perusahaan. Jadi aku butuh banyak waktu untuk mempelajari apapun yang bersangkutan dengan sebuah bisnis." ujarnya kemudian.
"Tapi bukankah Ibu Silvana sudah mengembangkan butik dan restoran hingga memiliki beberapa cabang di luar daerah?" Tanya Sanusi hati-hati.
"Darimana kau tau?" Selidik Silvana sambil memberikan tatapan membunuhnya.
"Tu..tu.. Tuan Louis tau semua hal tentang Ibu Silvana. Maaf." Ujar Sanusi takut-takut mendapat tatapan seperti itu.
"Wajar saja, aku tau sepintas tentang teman ayah itu" pandangan Silvana perlahan berubah bersahabat. "Tolong sampaikan salamku pada Tuan Louis. Terima kasih yang besar dariku. Suatu saat aku pasti akan menemuinya, setelah aku benar-benar bisa memimpin perusahaan."
"Tuan Louis bersedia mengajari Ibu sampai bisa. Ini juga salah satu salam dari beliau" Jawab Sanusi.
"Tidak perlu." Tatapan Silvana kali ini berubah tajam. Melihat keluar restaurant, entah apa yang dia lihat, yang jelas siapapun yang melihat sorot matanya akan gemetar ketakutan. "Aku memiliki seorang mertua yang pandai berbisnis. Bilang pada Tuan Louis untuk memperkerjasamakan perusahaan papa dengan perusahaan mertuaku secepatnya. Aku akan masuk perlahan."
"Tapi itu terlalu bahaya Bu, maaf. " tegur Sanusi.
"Katakan saja pada Tuan Louis, dia pasti tau apa yang ada di pikiranku." putusnya kemudian. "Dan kau, makanlah. Pesan apapun yang ingin kamu makan, aku yang akan membayarnya. Aku tidak bisa berlama-lama disini. " Lanjutnya.
"Baik bu, saya mengerti." Pak Sanusi mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Sedetik kemudian, panggilan ponsel Silvana sudah terhubung ke atasan restaurant nya.
"Tolong layani meja nomor 12 sebaik mungkin. Semua tagihannya masukkan ke pengeluaran pribadi saya." ultimatum Silvana sebelum meninggalkan utusan Tuan Louis sendirian.