Perempuan Badai

Perempuan Badai
Hasrat.


__ADS_3

Makan siang pun telah selesai. Kini William sudah memandang Silvana dengan penuh nafsu. Silvana hanya tersenyum kecil saja. Menunggu sesuatu bereaksi di tubuh tua bangka itu. Semenit, dua menit, mata lelaki itu merah. Dan dengan perhitungan cermat Silvana, William tiba-tiba menyergap Silvana dengan buas. Dengan senyum seramnya, Silvana lari ke atas tempat tidur. Mengambil posisi yang pas agar wajahnya tidak terekspos.


William seketika mengejar dan memeluk Silvana. Seperti layaknya obat itu bereaksi, William dengan buas hendak membuka baju-baju Silvana. Dengan cepat dia menggaruk punggung mertua gilanya itu sampai luka-luka. William meringis, sambil mencekik Silvana agar dia tidak bisa menghindar lagi.


Silvana melirik jam di atas layar televisi yang besar. Dalam hati, Silvana menghitung.


'Satu, dua, tiga.'


Brakk.


Tubuh tegap William jatuh ke atas tubuh Silvana. Kali ini lelaki itu benar-benar sudah tidur lelap. Seringaian Silvana terlihat. Lalu melempar lelaki itu ke sebelahnya.


"Jangan bermain-main denganku, orang tua bangsat." sergah Silvana sambil bangun dan merapikan bajunya kembali.


Wanita itu mengambil kertas yang sudah dia siapkan sejak di kantor. Lalu meletakkan di dekat kepala William.


'Aku sudah ada di parkiran.' satu pesan masuk di ponsel Silvana saat dia mendengar nada pesan ketika memasukkan kamera kecil ke dalam tas.


'pergilah ke kamar nomor 56, lantai 3' balas Silvana. Setelah itu, dia memakai sepatu kantornya. Lalu bersiap pergi ke kamar yang sudah dia pesan tadi. Sebenarnya tadi Silvana memesan 2 kamar. Untuk dirinya pribadi dan kamar yang ditempati William saat ini.


Silvana keluar kamar. Dan berjalan beberapa langkah lalu memasukkan kartu kamarnya. Setelah itu dia masuk dengan tenang dan duduk di sofa menanti Sam.


Tok tok tok.


Silvana bangun dan segera membuka pintu. Wajah Sam yang tampak kebingungan menyambut pandangan Silvana. Tanpa banyak kata, Silvana menarik tangan Sam.


Dengan wajah polos yang kebingungan, Sam hanya mengikuti tanpa protes sedikitpun.


"Aku butuh bantuanmu." ucap Silvana kemudian setelah sama-sama duduk di sofa. Dengan pandangan mata yang seperti biasanya Silvana, dia memandang dalam ke mata Sam.

__ADS_1


"Bantuan bagaimana?" Sam bertanya kebingungan. Mendengar itu, Silvana jadi salah tingkah. Dia berfikir lebih baik tidak melakukan hal ini. Namun jika tidak ada tanda apapun, William pasti curiga kepadanya.


Dengan memantapkan hati, Silvana mencoba untuk memberanikan diri mengucapkan sesuatu yang mungkin bagi orang lain tidak akan masuk akal.


"Kau sudah tau kan apa alasanku tidak mau disentuh Alex." tanya Silvana sambil menunduk.


"Heem, lalu? " Sam menjawab sebagaimana mestinya. Karena dia memang benar-benar tau alasannya.


"Aku baru saja menjebak William." ucap Silvana kemudian. Tetap dengan menunduk.


"Hah? " Sam terbelalak. Tidak menyangka langkah Silvana sampai jauh begini. "Ini sangat bahaya Silvana. Kau tau apa konsekuensi jika dia tau kau membohonginya." lanjutnya. Merasa kesal karena Silvana melakukan itu sendirian. Sam tau siapa William. Dan sangat bahaya jika dia tau kalau Silvana telah mempermainkannya.


"Maka dari itu aku butuh bantuanmu." ucap Silvana.


Sam menatap bingung.


"Bantuan apa yang berguna ketika kau sudah mempermainkannya seperti sekarang.?" tanya Sam gemas dan kesal.


"Baiklah. Sekarang ceritakan." pinta Sam.


"Sebenarnya aku sudah menjebak dia masuk kedalam perangkapku.,,,,," Silvana pun menceritakan semua yang telah berhasil dia lakukan kepada William. Dalam diam, Sam mencerna semuanya. Sesekali dia menelan ludah mengingat betapa nekad nya wanita itu menjalankan aksinya. Jika saja Daddynya tau apa yang dilakukan Silvana. Dia pasti akan menghentikan wanita itu. "Dan sekarang aku butuh bantuanmu untuk membuat tanda seperti orang selesai bercinta kebanyakan. Setidaknya agar aku punya tanda seperti orang habis bercinta jika di menanyakannya." Silvana mengakhiri ceritanya dengan memberitahu Sam bantuan seperti apa yang Silvana inginkan.


Lelaki itu tiba-tiba terdiam membeku. Menatap tak percaya pada wanita di hadapannya. Banyak pertanyaan yang hadir di otak Sam.


"Kenapa harus aku Sil.?" tanya Sam lirih seolah tak percaya.


"Apa kau rela aku diperkosa tua bangka gila itu? " tanya Silvana dengan tatapan tajamnya. "Jika kau tak sanggup, kau boleh pulang. Masih banyak lelaki yang mau menolongku. Apalagi masalah intim seperti ini." emosi Silvana tiba-tiba tersulut mendengar pertanyaan Sam. Dia tau hal ini gila. Tapi Silvana berpikir kalau Sam lah lelaki yang tepat untuk menolongnya. Tapi malah dia mendapat pertanyaan bodoh seperti itu.


"Aku tidak menolaknya Sil. Aku hanya bertanya, kenapa tiba-tiba aku yang ada di pikiranmu.?" Sam mencoba menjelaskan maksud pertanyaannya.

__ADS_1


"Jika aku meminta bantuanmu, itu artinya aku percaya padamu. Bodoh sekali kau ini." umpat Silvana. Dia sebenarnya gemas melihat Sam terkejut seperti itu, tapi tiba-tiba dia memikirkan sesuatu.


"Sam." panggil Silvana.


"Ya." Sam menyahut sambil menoleh memandang wanita cantik di hadapannya.


"Apa kau tidak normal? " tanya Silvana kemudian. Sam langsung terbelalak.


"Apa yang kau katakan? Mengendaraimu semalaman juga aku mampu." jawab Sam tak terima. "Darimana pikiran itu datang?" tanya Sam kesal. Merasa dilecehkan dengan perkataan Silvana.


"Katakan. Seperti apa bantuan yang kau ingin. Kita akan lakukan sekarang." ucap Sam datar. Kali ini, tiba-tiba saja Silvana yang gemetaran takut. Dia baru tahu. jika Sam marah, terlihat menakutkan juga.


Silvana sedikit berfikir. Bantuan seperti apa yang dia butuhkan. Apa mungkin sampai membuat tanda merah saja?


"Katakan cepat." gertak Sam dengan nafas yang naik turun.


"Aku juga tidak tau Sam." kali ini, Silvana lah yang benar-benar terpojokkan. Membuat dia mengutuk diri karena berani berkata demikian pada Sam. Ternyata laki-laki bisa marah sedemikian rupa ketika keperkasaannya diragukan.


"Baiklah. Meminta bantuanku, berarti menyerahkan semuanya padaku. Mari kita lakukan." ucap Sam datar. Lalu dengan sigap dan tanpa aba-aba, dia mengangkat tubuh Silvana. Membuat si empunya tubuh terbelalak dan ketakutan.


Tubuh Silvana diturunkan sepelan mungkin di atas pembaringan. Entah mengapa kali ini Silvana tidak menolak, pun tidak merasa ketakutan. Kini Sam sudah berada di atas tubuhnya. Memandang dalam ke mata Silvana yang kini terlihat sayu. Ada sesuatu yang berkedut di bagian bawah tubuh Silvana. Membuat wanita itu tak lagi bisa berpikir jernih.


"Katakan batasannya." sergah Sam. Silvana menatap kebingungan. Tak mengerti maksud Sam. Silvana jadi benci dengan otaknya yang tiba-tiba lemot begini di keadaan seperti ini.


"Katakan!!! " kini suara Sam berubah parau. Hasrat sudah menguasai tubuhnya, tapi meski begitu, dia masih bisa menggunakan logikanya agar tidak melampaui batas, yang mana bisa membuat Silvana benci kepadanya setelah ini.


"Jangan memasukiku." ucap Silvana pelan. Entah bagaimana suaranya sekarang dia tak lagi peduli. Melihat bibir bawah Sam yang membelah tengah, membuat dia kehilangan akal sehat. Silvana tidak bisa berbohong jika sekarang debaran jantung dan tubuhnya meminta lebih. Tapi dia pun masih punya akal sehat untuk tetap mempertahankan harga dirinya yang tinggal secuil di hadapan Sam.


"Baiklah."

__ADS_1


Beberapa detik kemudian, bibir Sam sudah mendarat di wajah Silvana. Menciumi wajah cantik itu dengan penuh perasaan. Tak melewatkan sedikitpun pahatan indah yang tersaji di hadapannya. Sam adalah lelaki normal, sangat tabu baginya jika harus mengatakan tidak tergoda pada pesona Silvana.


Kini dua insan dewasa itu sudah saling memagut. Tidak ada lagi sebuah kesepakatan atau akad bantuan disini. Sam maupun Silvana sangat menikmati sebagaimana sepasang kekasih pada umumnya. Mereka mulai melupakan segalanya. Yang ada hanya suara ******* dan *******. Membuat keduanya semakin lama semakin hilang akal.


__ADS_2