
Silvana memasuki gedung tua itu bersama Fatah. Dari kejauhan Sam dan Louis hanya menatap punggung Silvana yang semakin menghilang di telan pintu rusak milik gedung tua yang menyeramkan tersebut.
"Aku sangat mengkhawatirkannya Daddy." ucap Sam tiba-tiba. Louis hanya menatap anaknya lewat spion depan. Raut wajah khawatir benar-benar sangat terlihat.
"Percaya saja padanya. Dia akan baik-baik saja. Sekalipun dia masuk ke dalam perangkap wanita durjana itu, dia pasti bisa menemukan jalan keluar." Louis mencoba menyakinkan Sam. Lebih tepatnya meyakinkan dirinya sendiri yang juga sangat khawatir. Bayangan 25 tahun yang lalu masih terngiang jelas di ingatannya.
"Apa Silvana sekuat itu Dad? " tanya Sam lagi.
"Pastinya lebih dari yang kau tau." Louis menjawab yakin. Ya, dia yakin Silvana wanita yang kuat. Dia tidak akan menyerah di tengah jalan. Tidak akan pernah menjadi seseorang yang bisa dikelabui siapapun.
Di dalam, Silvana melirik sana sini. Bau ruangan yang pengap dan lembab sangat mengganggu indra penciumannya. Dia sudah naik ke lantai 2. Tapi belum bertemu dengan siapapun. Satu ransel uang pun masih di punggungnya.
"Dimana mereka?" tanya Silvana kepada Fatah di belakangnya.
"Ruangan itu." Fatah memberitahu. Silvana meneruskan langkahnya dan langsung menendang pintu kayu rusak di tempat yang tadi Fatah tunjukkan. Benar saja, ada sepasang orang tua yang diikat disana. Juga tiga orang lelaki berwajah seram dengan badan kekar.
"Sudah datang rupanya." sambut seseorang yang mempunyai wajah paling sangar.
"Lepaskan mereka." pinta Silvana tanpa ekspresi.
"Lucu sekali sayang… ." preman gila itu mulai berani menggodanya.
"Lepaskan atau aku patahkan tulang kalian." ancam Silvana.
"Sayangnya bos kami masih ingin bertemu"
"Lepaskan dulu mereka dan biarkan mereka pergi. Urusan bos kalian denganku lakukan setelahnya." tawar Silvana tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Serahkan dulu uang itu." pinta preman itu.
"Lepaskan dulu mereka." hardik Silvana. Tiga preman itu gelagapan. Apalagi mendapatkan tatapan tajam yang menusuk itu. Membuat mereka linglung bagai orang terhipnotis.
Tiga preman itu dengan cepat membuka ikatan Bapak dan Ibu Fatah. Membuat sepasang orang tua itu berlari ke arah Silvana.
"Jangan pernah berurusan dengan mereka lagi. Kalau butuh apa-apa, hubungi saja salah satu orang ini." ucap Silvana sambilemberikan 3 kartu tanda pengenal kepada Bapak Fatah.
"Terima kasih banyak Nak." ucap wanita paruh baya itu.
"Cepat bawa mereka pergi Fatah." titah Silvana yang segera diangguki oleh pemuda tersebut.
Kini tinggal mereka berempat. Silvana dan 3 orang preman. Silvana melempar tas yang sejak tadi bertengger di punggungnya.
"Isinya 100 juta." ujar Silvana acuh. Regar, si ketua preman membuka tas itu dan tersenyum seram setelah menemukan tumpukan uang benar-benar memenuhi tas.
Silvana yang tahu akan berhadapan dengan siapa hanya membalikkan badan dengan tenang. Menatap lurus dan tajam pada seseorang yang dia kenali.
"Seharusnya kau tidak ikut campur urusanku, menantu." ucap Wanita ular itu.
"Seharusnya pula kau tidak menyerang keluargaku. Dan menaruhkan semua hal karena berani melakukan itu." balas Silvana. Dengan tenang dia menghampiri seorang ibu mertua yang telah berani mengganggu keluarganya. Sebenarnya Silvana tahu, siapa dan bagaimana peran wanita licik di hadapannya ini. Jadi, selama 5 tahun menjadi menantunya, dia hanya mencari informasi yang cukup.
"Kau anak baru kemarin sore. Tau apa tentang aku?" tantang Sarah. Silvana hanya tersenyum kecil dengan mengangkat satu sudut bibirnya. Meremehkan Sarah yang jelas-jelas wajahnya sudah merah sebab marah kepada wanita yang berstatus menantu tersebut.
"Banyak. Aku tahu banyak tentangmu. Jadi jangan sampai aku keluar dari sini, polisi datang ke mansion dan meringkus keluargamu semuanya." Silvana balas menantang. "Tentang kamu yang seorang penjual manusia. William seorang penyelundup senjata ilegal. Dan anakmu yang bodoh itu seorang pengedar narkoba kelas kakap. Waw… sebuah keluarga dengan porsi yang ideal sekali." jelas Silvana sambil bertepuk tangan.
Mendengar itu, amarah Sarah dengan cepat tersulut. Dia memberi perintah kepada para bawahannya yang banyak untuk meringkus Silvana. Pada akhirnya, Silvana yang sendiri pun harus bertarung. Beberapa kali Silvana terkena pukulan. Hingga pada akhirnya, dia kalah dan tersungkur pingsan di tanah.
__ADS_1
Melihat itu, si ibu mertua yang jahat tertawa puas. Merasa sudah berada di atas angin karena telah meringkus seorang yang dianggap sebagai penghalang. Sarah bahagia karena Silvana sudah masuk ke dalam perangkapnya. Tanpa dia tau, sebenarnya perangkap itu adalah milik Silvana yang telah dimasuki dengan senang hati oleh Sarah. Dalam hati kecil Silvana yang pura-pura pingsan itu, dia tertawa terbahak-bahak. Menertawakan seorang wanita yang sedang menikmati akhir dari hidupnya. Tak berapa lama, Seseorang menggendongnya di pundak. Membawa Silvana menuju tempat yang mana tempat itu memang tujuan Silvana selama ini. Tempat penampungan gadis-gadis yang akan dijual oleh si biadab, Sarah.
*******
"Ayah, Silvana dalam bahaya." ujar Sam yang sedang mendengarkan suara-suara pukulan lewat benda yang tadi Silvana berikan. Tapi sayangnya, dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia harus mengantar keluarga Fatah ke rumah Guru Li. Juga harus datang menjaga Anna dan ibu Silvana.
"Dia akan baik-baik saja Sam." tukas Louis yang juga tak bisa melakukan apa-apa.
"Pak Louis dan Pak Sam tenang saja. Singa betina ajaran Guru Li tidak boleh diragukan. Karena meragukan mereka adalah kekalahan terbesar untuk seekor singa. Kak Silvana akan baik-baik saja. Dia bahkan bisa mematikan seseorang dengan satu pukulan. Jika Kak Sisil masih memilih bertarung, itu berarti dia sedang ingin bermain-main." jelas Fatah yang sangat paham apa dan bagaimana sebuah kriteria Singa betina di pendopo tempat dia belajar bela diri. Sam dan Louis menghela nafas lega. Setidaknya penjelasan seperti itu membuat mereka sedikit lebih tenang.
"Kamu dan keluarga akan saya antar ke rumah Guru Li. Dan saya mohon jangan lagi berurusan dengan siapapun yang akan membahayakan seperti ini. Jika butuh apa-apa silahkan hubungi kami." ucap Louis lebih kepada orang tua Fatah. "Jangan sampai orang yang tidak bersalah menjadi korban." lanjutnya.
"Baik Pak, maafkan saya. Saya tidak tahu jika akhirnya akan seperti ini." sahut ayah Fatah dengan penuh penyesalan. Louis hanya mengangguk mengiyakan.
Sam yang sedang fokus menyetir tiba-tiba teringat sesuatu. Sesuatu yang luput dari perhatian orang-orang disekitarnya. Pun luput dari pikiran Silvana. Sejak berangkat tadi, dia tidak sekalipun menitipkan Zafran kepada siapapun.
"Daddy, sepertinya kita telah melupakan sesuatu." ujar Sam tiba-tiba. Semua orang melongo tegang termasuk Fatah dan keluarga.
"Ada apa Sam?" tanya Louis.
"Zafran. Silvana tidak menyinggung anak itu sama sekali." jawab Sam. Semuanya seperti baru saja tersadar tentang hal tersebut.
Tiba-tiba saja suara yang lain muncul di alat yang Silvana berikan.
"Aku akan menjadikan Zafran sebagai alat untuk mengancam Silvana Pa. Dia sangat mencintai anak itu. Jika kita menghardik Silvana menggunakan Zafran. Tentunya, dia akan membuang segala bukti gila ini." ucap seseorang yang entah Sam tak tau siapa. Dia menekan pedal rem tiba-tiba. Semua orang terpental ke depan sebelum kembali ke keadaan semula.
"Dad, " panggil Sam lirih. Louis menoleh dan melihat wajah Sam tegang tak seperti biasanya. "Zafran dalam bahaya." lanjutnya. Louis terbelalak, mengganggu Zafran adalah mengganggunya.
__ADS_1
"Telepon Mira sekarang." titah Louis cepat.