Perempuan Badai

Perempuan Badai
Kamar 1 milyar


__ADS_3

Silvana dan Sam sudah rapi dengan baju mereka. Setelah mandi tadi, Silvana memesan sebuah dres panjang dan setelan baju laki-laki yang parlente dari butiknya. Tidak mungkin baginya harus memakai pakaian kerja miliknya lagi. Sam masih terlihat menyugar rambutnya di depan kaca, sambil mencuri pandang ke arah Silvana yang sedang menunggunya.


"Koleksi baju di butik mu boleh juga. Kapan hari aku akan membeli beberapa pakaian di sana." ucap Sam mencoba membelah sepi.


"Datang saja." sahut Silvana datar. "Ayolah Sam. Jangan lama-lama. Zafran pasti menungguku di rumah." lanjut Silvana.


"Aku sudah selesai, ayo." Sam mengajak Silvana yang masih duduk di sofa. Tak lagi peduli Silvana akan mengikuti atau tidak. Sam berjalan kedepan tak menoleh lagi.


Di lobi hotel, Silvana berpapasan dengan karyawan yang tadi siang dia suruh untuk membeli makanan.


"Hey kau." panggil Silvana.


"Iya bu." yang merasa dipanggil menyahut.


"Bisa tolong pertemukan aku dengan manajer hotel di sini.?" tanya Silvana. Lelaki itu terlihat kebingungan.


"Bi, bisa bu. Sebelumnya maaf. Apa ada pelayanan kami yang tidak berkenan? " tanya lelaki itu hati-hati.


"Oh tidak. Pelayanan disini sangat baik. Saya hanya ada keperluan dengan manajer di hotel ini." sanggah Silvana.


"Baik bu, mari ikut saya." ajak lelaki itu. Silvana mengikuti tanpa memikirkan Sam lagi. Ada sesuatu yang lebih penting dari sekedar makan malam.


Lelaki itu membawa Silvana ke meja resepsionis. Di sana juga terlihat Sam sedang berbincang dengan seseorang.


"Baiklah. Deal 1 milyar untuk satu tahun." ucap Sam sambil berjabat tangan dengan lawan bicaranya.


"Maaf Pak Daniel. Ibu ini ingin berbicara dengan anda." ucap lelaki itu. Yang dimaksud menoleh.


"Baiklah. Mari bu keruangan saya saja." ajak lelaki tampan bernama Daniel tersebut.


Silvana mengangguk mengiyakan.


"Tunggu aku di cafe hotel ini. Pesankan aku makan malam." ucap Silvana pada Sam yang menatap bingung ke arahnya.


Silvana sudah duduk di hadapan Daniel dengan tenang.


"Sebelumnya, perkenalkan saya Daniel." ucap Daniel sambil mengulurkan tangan.


"Saya Silvana."


"Baik. Ada yang bisa saya bantu ibu Silvana." tanya Daniel ramah.

__ADS_1


"emm kalau boleh saya tau, apa yang di beli Sam dengan 1 milyar pak?" Silvana bertanya hati-hati.


"Oh itu, dia ingin menyewa kamar hotel nomor 56 selama setahun. Katanya sih sampai dia bisa membeli hotel ini." jawab Daniel sejujurnya.


"Dasar lelaki gila." desis Silvana


"Kenapa bu? " Daniel bertanya setelah remang-remang mendengar desisan Silvana.


"Oh tidak ada apa-apa pak. Saya ingin bertanya, bolehkah saya meminta rekaman diri saya ketika mengunjungi hotel ini dihapus? " tanya Silvana hati-hati.


"Kami menghargai semua privasi orang yang datang kemari bu." jawab Daniel menjelaskan. "Kami tidak pernah memberikan rekaman kepada siapapun kecuali ada tindak kriminal di sini." lanjut Daniel.


Silvana mengangguk kecil. Mengiyakan.


"Saya percaya itu pak. Tapi saya harus memastikan kalau benar-benar tidak ada rekaman diri saya dan transaksi atas nama saya." Silvana mencoba bernegosiasi. Dia menjelaskan bahwa jika seseorang mengetahui dia datang kemari, maka habislah hotel ini.


"Baiklah. Jika itu membuat ibu dan hotel ini aman." ucap Daniel kemudian.


"Ini kartu nama saya pak. Tolong hubungi jika saya harus membayar permintaan saya ini. Saya tidak peduli tentang uang. Saya hanya memperdulikan keamanan saya, anak saya, dan hotel ini." jelas Silvana lagi sambil menyodorkan kartu namanya.


"Baiklah bu, akan saya bantu sebisa saya."


Mendengar itu, Silvana pun lega. Dia segera mohon pamit dan meninggalkan ruangan Daniel.


"Apa kau kebanyakan uang?" tanya Silvana begitu bokongnya duduk di kursi depan Sam.


"Kenapa datang-datang kau marah?" tanya Sam dengan dahi yang merenggut.


"Untuk apa menyewa kamar hotel selama setahun?" tanya Silvana sinis. "Itu tidak berguna Sam." lanjut Silvana sinis.


"Kata siapa tidak berguna. Justru kamar itulah yang nantinya akan aku jadikan apartemen. Lagipula aku menggunakan uangku." jawab Sam acuh tak acuh sambil tetap memakan makanannya.


"Orang kaya akan selalu menghambur-hamburkan uang tanpa melihat itu hal yang penting atau tidak. Huh… " Silvana ngedumel. "Lagi pula apa peduliku." ucapnya kemudian. Merasa percuma menasehati lelaki keras kepala di hadapannya.


"Itu penting Silvana" ucap Sam penuh penekanan. Bahkan saat ini dia juga melepas sendok garpunya hanya untuk melihat Silvana dengan intens.


"Sudah aku bilang, kamar itu saksi kulepaskan perjakaku untukmu. Uang itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan desahanmu tadi." lanjut Sam. Seketika wajah Silvana memerah. 'Sebegitukah aku menikmati permainan Sam.' Tanya Silvana pada hatinya sendiri. Wanita itu menjadi salah tingkah. Karena meski memiliki suami dan anak, baru kali ini Silvana melakukan penyatuan secara sadar.


"Tidak perlu malu, desahanmu sangat menggoda. Sangat cantik." ucap Sam lagi, mencoba mendatangkan segala memori tentang penyatuannya tadi bersama Silvana.


"Jangan menggodaku, dasar laki-laki gila." umpat Silvana sambil memulai makan malamnya. Tidak ingin terlalu lama terlihat bodoh di hadapan Sam.

__ADS_1


"Cepatlah makan. Aku harus segera pulang." ucap Silvana kemudian. Sam hanya cekikikan, senang sekali rasa hatinya ketika bisa menggoda Silvana sedemikian rupa.


"Aku akan mengantarmu pulang." ucap Sam tiba-tiba.


"Tidak perlu, aku pulang dengan taxi saja." tolak Silvana.


"Kalau begitu, aku akan menjadi sopir taxi saja nanti. " Sam lagi-lagi mencoba mencari celah.


"Terserah kau." Silvana menyerah melayani lelaki di hadapannya ini. Meski dia tidak bisa menolak ketampanan dan kenikmatan yang dia dapat dari lelaki itu, Silvana tetap tidak ingin terlihat menyukainya.


"Baiklah. Terima kasih." ucap Sam kemudian.


Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar oleh keduanya.


"Aku sudah selesai." ucap Sam.


"Aku juga." Silvana berujar juga. "Sepertinya taxi pesananku sudah di luar. Aku duluan ya Sam." pamit Silvana sambil mengambil tasnya di kursi sebelah dia duduk.


Sam hanya tersenyum kecil. Lalu berdiri mendahului Silvana. Wanita itu hanya menggeleng bingung. Setibanya Silvana di luar, dia melihat Sam yang memberikan kunci mobilnya pada seseorang.


"Maaf bu, saya tidak bisa menolak penukaran mobil ini." ucap seorang bapak-bapak sambil cengengesan. Silvana melirik ke arah Sam.


"Ayo pulang." ajak Sam. Sedang bapak-bapak itu sudah mulai pergi dengan mobil Sam. Meninggalkan mobil bertulis TAXI di atasnya pada Sam.


"Sam apa kau gila?" protes Silvana lagi.


"Ya, aku rasa begitu. Sejak bersamamu." jawab Sam sekenanya.


"Kau serius menukar mobil mewahmu dengan taxi ini? " Silvana masih tidak percaya.


"Apa aku terlihat sedang berlelucon?" Tanya Sam dengan satu tangan membuka pintu depan taxi itu.


"Kau gila." cecar Silvana. "Aku mau duduk di belakang." ucap Silvana menolak duduk di dekat Sam.


"Tak apa, silahkan. Lagipula sepertinya lebih bebas bermain di jok belakang" celetuk Sam jahil.


Mata Silvana membulat.


"Baiklah. Aku di depan. Dasar mesum." Silvana akhirnya mengalah dan masuk mobil di kursi dekat pengemudi. Sam yang merasa menang hanya senyum-senyum saja. Lalu memutari mobil dan masuk ke balik kemudi.


"Baiklah honey. Mari kita nikmati malam ini." goda Sam.

__ADS_1


"Jijik sekali Sam" Silvana meringis mendengar panggilan honey dari Sam tadi. Lelaki itu hanya tertawa kecil. Lalu tanpa membuang waktu, mulai melajukan mobil taxi tersebut untuk membelah jalan raya kota.


__ADS_2