
Setelah membaca pesan tersebut, Silvana segera pergi ke rumah sakit. Sedangkan Mira mengantar Zafran setelah Silvana berhasil meyakinkan bahwa dia akan baik-baik saja. Di dalam mobilnya, Silvana menelpon Sam. Ingin mengabarkan kalau dia sudah dalam perjalanan.
"Hallo Sam." sapa Silvana kemudian.
"Kau dimana?" tanya suara di sebrang.
"Aku di perjalanan menuju rumah sakit." jawab Silvana tanggap. "Jangan biarkan pelakunya pergi. Tunggu aku. Bawa dia ke tempat yang tersembunyi di rumah sakit itu." lanjut Silvana.
"Baiklah." sanggup Sam.
Silvana pun Menambah kecepatan laju mobilnya setelah memutus panggilan. Tangannya menggenggam kemudi dengan kuat. Rasa benci semakin membesar kepada keluarga suaminya yang tak tahu diri itu. Bisa-bisanya mereka mencoba melukai keluarganya.
Mobil Silvana sudah terparkir cantik di depan rumah sakit kota sebelah tempat orang tua dan adiknya berada. Dia lalu dengan cepat keluar dan berlari setelah menanyakan kepada resepsionis dimana adiknya dirawat.
Langkah kaki yang berlari itu terhenti di depan sebuah kamar. Silvana masuk. Disana dia menemukan adiknya sedang terbaring,sepertinya sedang terlelap. Sedang ibunya terlihat menangis kecil di dekat brankar.
"Ibu." panggil Silvana. Sang ibunda pun membalikkan badan melihat Silvana dengan. Deraian air mata.
Wanita itu memeluk anaknya erat. Tangis Silvana pun tumpah. Merasa tidak berguna karena tidak bisa melindungi orang-orang yang paling disayanginya itu.
"Maafkan Sisik bu." ucap Silvana di tengah isak tangisnya.
"Kamu tidak salah apa-apa nak. Ini sudah takdirnya." ucap ibu sambil melirik ke arah adiknya.
"Sisil akan balaskan semuanya Bu. Percaya pada Sisil." Silvana mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Sudahlah nak. Adikmu tidak sampai dilecehkan. Hanya saja dia mengalami pukulan keras di punggungnya ketika dia melawan." ucap Ibunya mencoba menahan amarah Silvana.
"Akan aku buat pelakunya tidak dapat berdiri tegak bu." ucap Silvana penuh benci sambil melepas tangan ibunya. Dia harus menyelesaikan yang lain.
Silvana berlalu tanpa memperdulikan panggilan ibunya. Dia bergegas ke tempat yang tadi sudah Sam konfirmasikan. Dia ingin tau, siapa yang berani mengganggu keluarganya.
"Sam." panggil Silvana sambil mengetuk pintu. Pintu kemudian terbuka dari dalam. Silvana segera masuk dan bertanya dimana pelakunya. Sam hanya menunjuk menggunakan mata. Enggan berbicara dengan Silvana yang sedang emosi.
Silvana lalu menghampiri seorang lelaki yang kepalanya ditutup karung. Silvana membuka karung tersebut, dan tak sengaja melihat tato kecil di leher si pelaku. Tato yang dulu juga dia miliki, tapi dia hapus karena takut dimarahi ayahnya.
"Siapa yang membayarmu." tanya Silvana tanpa basa-basi. Sam yang tak jauh hanya mendengarkan dengan seksama.
"Tidak ada." Jawab lelaki itu.
__ADS_1
Silvana melayangkan sebuah pukulan yang khas ke dada pelaku. Seketika pelaku tersebut terbelalak. Dia nyatanya juga tahu pukulan itu, untung saja Silvana tidak menggunakan kekuatan penuh. Kalau tidak, dia pasti akan mati.
"Maafkan aku." ucap lelaki itu kemudian. Sam yang mendengar hanya terbengong-bengong. Tak menyangka Silvana bisa melakukan itu sehingga pelakunya memohon. Padahal yang Sam lihat, pukulan itu tidak terlalu keras.
"Aku terpaksa melakukannya karena mereka menyandera orang tuaku yang terlilit hutang dengan mereka." lelaki itu mulai menjelaskan.
"Siapa mereka.?" tanya Silvana tak sabar.
"Bang Regar." jawabnya jujur.
"Siapa Regar? Keluargaku tidak punya masalah dengan lelaki bernama Regar itu." bantah Silvana.
"Bang Regar adalah seorang rentenir dan pembunuh bayaran. Banyak anggotanya. Tapi jika tugasnya bukan membunuh, maka dia akan mengumpankan anak orang yang punya hutang besar kepadanya." jelas lelaki itu lagi.
"Baiklah, antarkan aku ke lelaki bernama Regar itu nanti. Aku akan membayarkan hutang keluargamu. Tapi sebelum itu, kita harus bertemu seseorang." putus Silvana kemudian. Dia lalu melepas ikatan lelaki yang kemudian diketahui bernama fatah itu. Lalu membawanya ke mobil dengan pengawasan Sam di depan, dan Silvana di belakang memegang lengannya.
*******
Mobil milik Silvana berhenti di sebuah rumah kecil yang cantik dengan halaman luas itu. Silvana melangkah mantap diikuti Sam dan lelaki yang tadi dengan sama bingungnya.
"Assalamualaikum." panggil Silvana.
"Waalaikumsalam. " jawab seorang lelaki dari dalam.
"Oh singa betinaku. Apa kabar kau Nak? Apa kau baik-baik saja.?" ingatan orang tua itu tidak buruk sama sekali, meski Silvana sudah 7 tahun tidak menginjakkan kaki di pendopo ini.
"Aku baik guru." jawab Silvana dengan senyuman. "Guru sendiri bagaimana.?" tanya Silvana
"Yah, beginilah." jawabnya. Lalu tak sengaja melihat seorang muridnya di belakang Silvana.
"Loh Fatah, kok kamu bisa bersama Sisil?" tanya Guru Li
"Itu, tadi…." ucapan Fatah terbata.
"Nanti aku ceritakan guru." Silvana mengambil alih pertanyaan itu.
"Fatah, apa kau ingat dengan kak Sisil yang biasanya dipanggil Singa Betina ketika kau masih kecil dulu? " tanya Guru Li pada Fatah.
"Ingat Guru." jawab Fatah setelah beberapa saat menghadirkan memori.
__ADS_1
"Ini dia singa betina itu." ucap Guru Li bangga.
Fatah hanya tersenyum kaku. Tidak menyangka dia sudah mengganggu adik dari kakak seniornya yang sudah mendapat julukan Singa di tempat beladiri terbaik ini. Nyalinya seketika ciut. Sedangkan Sam yang mendengarkan percakapan itu hanya berusaha menerka-nerka. Tidak ingin ikut campur di pembahasan yang dia bukan termasuk didalamnya.
"Begini Guru Li… …" Silvana akhirnya menceritakan kejadian yang menimpa Fatah dan keluarganya sebelum meminta bantuan perlindungan dari gurunya itu untuk keluarga Fatah. Sang Guru mendengar dengan seksama. Sesekali menganggukan kepala tanda mengerti.
"Apa sekiranya Guru bisa?" tanya Silvana di akhir penjelasannya.
"Mereka akan tinggal di sini." setuju Guru Li kemudian. Setelah itu dia berjanji pada Fatah kan bertemu di sini besok untuk menemui Regar secepatnya dengan membawa uang banyak untuk menolong keluarga Fatah.
******
Setelah disuguhi makan dan minuman, Silvana dan Sam pamit pulang. Mereka akan menuju kembali ke rumah sakit. Setelah itu pulang kerumah untuk menyiapkan perlengkapan yang diperlukan, dan juga uang tentunya.
"Aku baru tau kalau kau adalah murid seorang Guru Li yang terkenal dimana-mana itu. Apalagi kau sampai memiliki gelar Singa di sana." puji Sam sambil tetap fokus ke jalan.
"Tidak ada yang tau. Begitupun seluruh keluargaku. " jawab Silvana datar.
"Kalau begini aku jadi takut." Kelakar Sam.
Ting..
Suara notifikasi masuk di ponselnya, dia dengan sigap mengambil dari saku celananya. Lalu membuka sebuah tautan yang dibagikan di grup para pengusaha.
"Silvana lihat. Alex masuk rumah sakit." seru Sam.
"Aku tidak tahu kalau akan separah itu." ucap Silvana santai.
"Maksudmu? " tanya Sam khawatir.
"Kemarin dia mengirim beberapa preman bayaran untuk mengganggu Zafran karena dia tau aku jalan sama Tuan William." jelas Silvana. "Aku hanya memberi tendangan kecil di tongkat laknatnya itu." lanjut Silvana tetap biasa.
Sam cekikikan karena berusaha menahan tawanya.
"Ketawa saja. Aku tidak akan membunuhmu hanya karena itu." ucap Silvana ketika tau Sam hendak tertawa.
"Sungguh aku takut padamu Silvana. Aku takut kau memotong tongkat saktiku." kelakar Sam.
"Dengan senang hati jika kau ingin memperpendek ukurannya." jawab Silvana sekenanya.
__ADS_1
"Apa itu sangat panjang? " tanya Sam, kali ini dia sampai menoleh dan memandang dengan tatapan menggoda pada Silvana. Wanita yang dipandang hanya memutar bola matanya malas.
"Ya." jawab Silvana dengan singkat, padat,dan jelas.