Perempuan Badai

Perempuan Badai
07. Pertemuan Kedua.


__ADS_3

Setelah menjemput Zafran yang menjalani les privat dan ekstrakurikuler, Silvana berniat membawa anaknya itu bertemu dengan Sam. Di Perjalanan menjemput Zafran tadi, Silvana menelpon Louis untuk membuat janji temu hari ini. Tapi ternyata beliau sedang ke luar kota. Dan meminta Silvana untuk membicarakan dengan Sam.


Alhasil, wanita itu pun membuat janji dengan Sam. Mereka membuat janji untuk bertemu di butik Silvana, tempat dimana dulu dia bertemu dengan Nenek Elizabeth.


Mobil Silvana sudah terparkir dengan cantik di depan butik. Melihat itu, Sam pun berinisiatif memarkir di dekat mobil Silvana. Memastikan pula kalau dia sudah benar-benar datang.


"Selamat siang. Saya ada perlu dengan Nyonya Silvana." sapa Sam sopan kepada seorang karyawan yang membukakan pintu untuknya.


"Anda Tuan Samuel? " tanya Lidya yang memang diperintah untuk menunggu Sam datang oleh Silvana.


"Benar." Sam menyahut cepat.


"Mari saya antarkan ke ruangan bu Silvana." ucap Lidya, kemudian mengambil langkah di depan Sam.


Beberapa saat kemudian, Lidya membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Karena tadi bos nya sudah meminta begitu. Karena tak ingin ketukan pintu akan membangunkan putra semata wayangnya.


"Silahkan masuk pak. Anda bisa bisa menunggu di sofa sebentar. Ibu Silvana sedang menidurkan Tuan Zafran di kamar." terang Lidya saat melihat raut kebingungan di wajah Sam.


"Baiklah." Jawabnya kemudian sebelum benar-benar masuk.


Samuel duduk di sofa yang disediakan. Sesekali menoleh-noleh ke beberapa pojok ruangan. Ruangan yang simple tapi elegan. Menggambarkan kepribadian penghuninya yang tegas namun penuh pesona.


10 menit sudah berlalu sejak Sam menunggu. Dia mulai gelisah, dia berfikir jangan-jangan Silvana ikut ketiduran di dalam. Memastikan pikirannya salah, Sam mengambil ponselnya dan mengirimi pesan singkat kepada Silvana, memberitahukan kalau dia sudah ada di sofa ruangannya.


Tiba-tiba, klekkk.


Pintu kamar itupun terbuka. Seorang wanita cantik keluar dengan busana kantor yang tadi di pakai.


"Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau akan ikut tertidur tadi." ucap Silvana merasa tak enak hati. "sudah menunggu lama?" Tanyanya lagi dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"15 menitan. Lumayan lah." jawab Sam sedikit cengengesan.


"Maaf, kau bisa mengatakan jika ada yang aneh denganku." Silvana merasa diejek karena melihat Sam tersenyum sambil menunduk.


"Tidak, tidak ada yang aneh. Aku hanya berpikir, jika saja aku tidak mengirimimu pesan. Aku bisa seharian di sini." ujar Sam mencoba membuat lelucon.


Silvana menoleh dan menatap bingung, tidak mengerti apa yang Sam katakan.


"Aku tidak bangun karena pesan darimu." sanggah Silvana yang merasa tak membaca pesan apapun.

__ADS_1


"Hah?"


"Tas dan ponselku ada di meja." lanjut Silvana sambil menunjuk meja yang bertengger di atas meja kerjanya.


"Hehe, maafkan aku." ucap Sam sambil menekuk wajah malu.


"Kenapa minta maaf?" tanya Silvana.


"Ya minta maaf saja. Sudah mengira kau bangun karena pesanku." jawab Sam mati kutu.


"Bagiku itu bukan kesalahan." Silvana mengelak sambil melihat Sam intens. Sam mendongak, tak sengaja bersitatap dengan mata coklat Silvana.


'Kenapa tatapan matamu sangat mematikan Silvana.' lirih Sam.


"Tidak usah takut. Aku tidak segalak tatapanku." lirih Silvana seolah tau apa yang Sam pikirkan. Sam menggaruk kepala yang tak gatal. Sam semakin salah tingkah.


Silvana menghela nafas berat. Lalu membenarkan duduknya sebelum berbicara pada Sam.


"Aku ingin bertanya perihal rumah ibu yang aku minta dulu." tanya Silvana tanpa basa-basi.


"Daddy tidak menyetujui kalau rumah ibumu ada di dekat rumah kami. Itu terlalu berbahaya. " jawab Sam sesuai dengan yang daddynya perintahkan.


"Lalu bagaimana?"


"Baiklah, masalah itu biar kupasrahkan pada kalian berdua." Silvana berujar. "Tapi kali ini aku sedang mengalami masalah serius Sam." lanjut Silvana. Sam menoleh cepat. Layangkan tatapan khawatir meski dia belum tau apa yang akan Silvana sampaikan.


"Masalah serius bagaimana?" Tanyanya tak ingin lama-lama penasaran.


Silvana diam, lalu mengambil ponselnya di tas yang terletak di meja. Setelah didapat, dia duduk dan memutar percakapan suami dan mertuanya yang tadi dia dengar. Beberapa lama ruangan hening, Sam mendengarkan dengan baik. Lalu wajahnya berubah tegang ketika percakapan itu bisa dibilang ancaman yang serius.


"Apa kau tidak tau apapun tentang keluarga suamimu Sil?" tanya Sam kesal. Sebenarnya dia sudah tau dari dulu tentang bisnis gelap keluarga William. Tapi daddynya selalu menyuruh Sam diam saja, dan membiarkan Silvana tau dengan sendirinya. Mungkin karena Louis tau, Silvana tidak akan mudah percaya kepada siapapun.


"Kalau sudah begini bagaimana?" tanya Sam benar-benar khawatir. "Libra Group terlanjur bekerja sama dengan perusahaan William." lanjut Sam kesal.


"Masalah kerjasama, biarkan berjalan sesuai alur bisnis Sam. Bahkan kau boleh memberi suntikan dana dengan jumlah besar kesana. Aku ada rencana lain untuk hal itu. Itu urusanku dan Tuan Louis. Sekarang yang kutakutkan adalah keamanan ibu, adikku, dan Zafran. Mereka dalam bahaya jika aku tidak memenuhi nafsu setan Alex." jelas Silvana lagi, tapi raut wajahnya tetap tidak gentar. Dia memang sangat khawatir, tapi sikap tenangnya itulah yang membuatnya selalu berpikir panjang sebelum bertindak.


Sam juga terlihat berfikir. Beberapa saat mereka diam.


"Berarti ini semua bermula karena kau tidak mau melayani dia sebagaimana seharusnya." ucap Sam mengutarakan pendapatnya. "Keluarga suamimu memang keluarga setan." lanjutnya emosi.

__ADS_1


Silvana menatap Sam intens dengan penuh pertanyaan. Dia baru tau saat ini jika keluarga suaminya bermasalah.


"Kau tau banyak tentang keluarga William?" tanya Silvana penuh selidik. Sam menoleh, nyengir kuda karena merasa salah bicara pada Silvana. Dia lupa pesan Louis untuk berpura-pura tidak tahu tentang keluarga William di depan Silvana.


"Tidak terlalu banyak. Hanya beberapa poin penting saja." Sam menjawab seolah dia hanya berargumen tanpa tau kenyataan.


"Sudahlah. Kapan-kapan kita bertemu lagi untuk membahas ini. Aku butuh mengetahui beberapa hal tentang keluarga William. Sekarang aku hanya ingin fokus untuk melindungi orang-orang yang kemungkinan akan di serang untuk mengancamku." Ucapnya sambil membuang pandang ke arah lain.


"Lalu bagaimana rencanamu selanjutnya.?" tanya Sam mencoba mencari jalan keluar bersama.


"Carikan aku bodyguard wanita yang bisa merangkap menjadi pengasuh Zafran. Wanita yang kelihatannya lugu namun mematikan. Aku butuh itu untuk melindungi putraku." pinta Silvana kemudian.


"Baiklah, akan aku carikan." Sam menyanggupi.


"Tolong jangan pikirkan masalah gaji. Aku akan membayar tinggi asalkan dia benar-benar bisa menjaga Zafran dan bisa setia pada tuannya tanpa peduli suap siapapun." ucapnya lagi.


"Itu bukan masalah besar Sil." sanggup Sam.


"Aku tunggu kabar terbaik darimu secepatnya." Silvana berkata dengan harap sepenuh hatinya.


Ruangan sepi kembali. Entah Sam ataupun Silvana masih memikirkan sesuatu di kepala mereka masing-masing. Hingga pada akhirnya.


"Silvana" panggil Sam.


"ya?"


"kenapa kau tidak mau melayani Alex seperti seorang istri pada umumnya? Apalagi ini sudah tahun kelima kau menjadi istrinya? " akhirnya Sam memberanikan diri untuk menanyakan apa yang sejak tadi mengganjal di hatinya.


Silvana tersenyum. Terlihat cantik meski tersirat luka dalam senyuman itu.


"Aku tidak mau diperkosa lagi. Apalagi hanya atas nama istri. Aku tidak pernah mencintainya. Dan sampai kapanpun tidak akan pernah. Jika sampai saat ini aku bertahan, tak lain hanya karena aku tak mau menjadi sebuah mami dan keluarga yang gagal untuk Zafran. " jawab Silvana tegas. Matanya kosong menatap Sam yang terdiam, terdiam karena bisa merasakan betapa sakit luka itu membekas


"Aku turut prihatin tentang hal itu. Tapi aku yakin, kau adalah wanita kuat." ucap Sam dengan tak sengaja mengusap pundak Silvana. Wanita itu menoleh cepat, membuat Sam menarik tangannya seketika.


"Maaf." Sam berujar cepat.


Silvana hanya mengangguk kecil dan menunduk. Entah kenapa seperti ada listrik yang menyengat dari telapak tangan Sam.


"Kalau begitu aku pamit dulu."Pamit Sam kemudian, sembari berdiri dan merapikan jas. "tolong sampaikan pada Zafran. Salam hangat dariku." ucap Sam sebelum benar-benar pergi.

__ADS_1


"Aku akan bawa dia bertemu Nenek Elizabeth secepatnya. Kau bisa bermain dengannya di rumahmu." Silvana memberitahu dan di sabut anggukan dan senyum hangat oleh Sam.


"Aku pulang." ucap Sam sekali lagi. Entah mengapa terasa berat meninggalkan wanita tersebut. Sam merasakan ada sesuatu yang tertinggal di sini, di dalam diri Silvana.


__ADS_2