
Sudah seminggu Silvana aktif bekerja di kantor mertuanya. Tapi tidak ada sekalipun Alex bertanya kenapa Silvana memilih bekerja disana. Semuanya berjalan datar-datar saja. Hanya sesekali Alex datang dan menemui papanya. Seperti hari ini, lelaki itu sudah datang dengan pakaian rapi dan wajah datar seperti biasanya.
"Pagi pa," Sapanya langsung duduk di hadapan lelaki paruh baya tersebut.
"Ada apa Lex? " tanya William to the point.
Alex menarik nafas sejenak. Mengumpulkan beberapa kata yang pantas untuk mengabarkan kabar gembira kali ini.
William menatap intens. Membuat Alex cengengesan sendiri.
"Nanti malam barang-barang kita akan datang pa." ucap Alex lirih seperti biasanya ketika membahas bisnis ilegal yang dijalani oleh keluarga.
"Kamu sudah bilang hal ini pada mamamu? " tanya William biasa. Seolah itu bukan hal yang terlalu berarti.
"Sudah pa."
"Berapa persediaan mamamu?" tanya William lagi. Memastikan kalau transaksi itu tidak gagal lagi.
"Sekitar 25 gadis pa." sahut Alex senang.
"Bagus. Sediakan semua keperluannya. Jangan sampai ada sesuatu yang salah. Ini adalah transaksi besar Lex." Ucap William seolah-olah transaksi yang akan dia lakukan adalah penentu hidup keluarga kedepannya.
"Akan aku lakukan Pa." sanggup Alex. Senyumnya mengembang menakutkan.
Sedangkan di luar sana, wajah silvana memerah. Baru saja dia mendengar sesuatu yang tak pernah diketahui tentang keluarga suaminya. Ternyata di balik sosok mama mertua yang lembut dan anggun. Ada rahasia besar di dalamnya. Wanita anggun itu juga adalah salah satu bagian dari transaksi gelap tersebut.
Silvana terdiam beberapa saat di kursinya. Sebelum dua orang di dalam ruangan presdir itu kembali bersuara.
__ADS_1
"Aku dengar papa bekerja sama dengan Libra Group? Ada apa pa? Kenapa bisa jadi begini.?" tanya Alex beruntun seolah tidak suka perusahaan keluarganya bekerja sama dengan Libra Group.
"Kau tenang saja. Aku sudah meminta suntikan dana yang besar dari perusahaan itu. Tinggal menunggu waktu saja. Akan aku buat perusahaan milik anak Louis itu bangkrut seperti milik ayahnya dulu." ucap William sambil menerawang jauh bersama senyum kejamnya.
Di tempat yang lain. Silvana yang masih terlihat biasa saja dan bekerja mulai tersenyum geli.
"Kita lihat saja, siapa yang akan hancur di sini papa mertua." ucapnya dalam hati.
Entah kenapa semakin kesini dia semakin tidak mengerti ada apa sebenarnya antara papa mertuanya dengan ayahnya dan juga Tuan Louis. Tapi meski dia belum mengerti. Tekadnya sudah bulat. Dia akan membuat para pendosa menerima ganjarannya. Anggap saja ini hanya bayaran untuk harga diri Silvana yang harus diinjak-injak ketika dulu meminta pertanggung jawaban dari Alex atas kehamilannya.
Tiba-tiba saja air matanya menetes. Masih teringat jelas bagaimana seorang wanita paruh baya yang masih cantik dan anggun melemparkan beberapa lembar uang ratusan ribu kepadanya. Tak ada satupun yang iba padanya saat itu. Hingga saat William mengetahui hal tersebut, dia menyetujui permintaan Silvana agar Alex menikahinya. Dia tidak tahu apa motivasi lelaki tersebut. Tapi yang jelas pasti ada alasan di balik perlakuan itu. Hanya mungkin saat ini belum sampai.
Tak sengaja Silvana menoleh ke dalam ruangan. Dan tak sengaja pula tatapannya bertemu dengan tatapan Alex. Lelaki itu mengedipkan mata menggodanya. Silvana hanya menghela napas. Ya ruangan antara presdir dan sekretarisnya memang hanya terbatasi oleh kaca. Tapi kedap suara.
"Apa kau belum berhasil juga menghandle Silvana?" suara William tiba-tiba terdengar. Silvana kaget. Tapi tetap saja dia mengangguk-anggukan kepala seperti orang yang sedang menikmati alunan lagu. Tentu saja dia harus begitu. Karena di telinganya terdapat satu headset yang melekat.
"Kenapa bisa begitu? Kau ini bagaimana. Tugas kecil begitu saja tidak becus." sergah William pada anaknya. "Apa perlu papa turun tangan untuk hal ini?" tanya William kemudian.
"Apa tidak terlalu bahaya skandal itu Pa? Lagian papa gak mungkin bisa membujuk dia dengan uang. Dia bukan tipe wanita murahan." ucap Alex membantah. Lebih terkesan tidak terima.
"Kalau kamu mengurus begitu saja tidak becus." olok William lagi.
Di tempatnya, Silvana masih kebingungan. Entah apa yang mereka rencanakan sebenarnya. Tapi perasaan Silvana sudah tak nyaman.
"Kalau kamu tidak bisa melumpuhkan dia dalam seminggu. Maka papa yang akan turun tangan. Dia tidak akan membantah jika papa mengancam akan menghentikan pengobatan ibunya." putus William kemudian. "Wanita secantik itu pasti sungguh nikmat." lanjutnya.
Silvana membelalakkan mata seketika. Tapi enggan menunjukkan ekspresi tersebut. Silvana mulai paham keadaan. Ternyata semua keluarga William sama saja. Tidak ada kebaikan apapun dari mereka. Sekalipun ada, pasti hanya menutupi kebusukan mereka saja.
__ADS_1
"Selama 5 tahun, kau tak pernah menggagahinya Lex? " tanya William masih tak percaya pada perkataan anaknya dua minggu lalu.
"Tidak pa. Tidak sama sekali" jawab Alex apa adanya. "Dia bahkan tidak mau menerima apapun jika aku yang memberikan. Dia hanya memakan hasil dari tangannya sendiri. Bahkan dari Zafran pun dia tak mau jika tidak dimakan bersama. Masa iya aku juga harus membuat anak sialan itu mabuk juga. Itu sangat merepotkan pa." jelas Alex.
Saat ini, Silvana merasa semua sudah keterlaluan. Alex bahkan tidak menganggap Zafran anaknya. Jadi bukan tidak mungkin keluarga itu menyakiti Zafran. Dan sebagai seorang ibu. Silvana tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi. Dia harus satu langkah didepan keluarga William untuk melindungi keluarganya sebelum semuanya terlambat.
Dengan sigap wanita itu mengambil ponselnya. Dan mengetikkan beberapa kalimat lalu menekan tombol send. Setelah itu, dia merapikan meja dan mulai melangkah ke ruangan William.
"selamat siang pak. Saya izin dulu untuk setelah ini. Saya ingin menjemput Zafran. Karena sopir tiba-tiba izin. Setelah itu saya akan langsung kerumah ibu. Mengantar check up." pamit Silvana.
William memandang sejenak.
"Kerjaan kamu sudah selesai semua? " tanya William kemudian.
"Sudah pak." Tangkas wanita itu.
"Kalau begitu kau boleh pulang lebih awal. Tapi jangan lupa, senin lusa ada rapat dengan perusahaan Libra group yang harus kamu hadiri. Itu harus kau yang persentase." William mengingatkan sebagaimana memberi peringatan kepada sekretarisnya yang lain.
"Baik pak. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk kerjasama tersebut." Silvana mengangguk dengan mantap.
"Ya sudah, kau boleh pulang." William mempersilahkan. Silvana menunduk sekedarnya. Lalu melayangkan tatapan yang mematikan untuk Alex yang sedari tadi memelototi lekuk tubuhnya. Alex tersentak, dan berdehem kecil seolah tak ada apa-apa. Sampai Silvana keluar dari ruangan tersebut, Alex baru berbicara pada papanya.
"Tatapan Silvana sangat mematikan pa." keluh Alex. "Aku baru saja lupa bernafas beberapa detik karena tatapannya."
"Kau tau Lex? " Tanya William serius. "Tatapan seperti itu akan terlihat sexy ketika sedang mencapai puncak kenikmatannya." lanjut William.
Di ruangannya, tak sengaja Silvana menjatuhkan bolpoin nya saking kagetnya mendengar sang papa mertua yang sangat dihormati berkata demikian. Lekas Silvana menunduk mengambil bolpoin tersebut. Tanpa dia tau, ada dua pasang mata lelaki yang memperhatikan bagian belakang tubuhnya.
__ADS_1
"Aku akan membunuh kalian berdua. Itu janjiku." Janji Silvana dalam hatinya.