Perempuan Badai

Perempuan Badai
Tipu muslihat


__ADS_3

Suasana kantor WLA grup sedang ramai. Baru saja kabar bahagia datang, lagi-lagi Silvana memenangkan sebuah tender besar. Otaknya yang brilian dan pandai mengolah kata telah menarik perhatian sebuah perusahaan yang sedang menjalankan proyek besar. Wara-wiri kabar itu sampai di telinga Alex. Semakin hari lelaki itu sering memperhatikan istri yang selama ini tak dianggap olehnya. Ada ketertarikan yang tumbuh begitu saja dalam diri Alex.


Dan disinilah kemudian lelaki yang tak lain adalah putra William itu berada. Duduk di depan sang ayah di ruangan presdir.


"Aku ingin Silvana pindah ke perusahaan milikku Pa." ucap Alex tanpa basa-basi. William menoleh cepat, lalu menyeringai kecil. Sedang di luar sana, Silvana masih mendengar dengan seksama. Tanpa ekspresi karena sambil berpura-pura mengerjakan tugasnya.


"Tidak bisa, dia adalah berlian di perusahaan ini. Pembawa keberuntungan." tolak William tegas. Begitupun tatapannya yang kini berubah sangar.


"Tapi perusahaan papa sudah besar meski tanpa dia." bujuk Alex. "Sedang perusahaanku tetap saja jalan di tempat."


"Itu urusanmu. Lagian salah siapa jadi laki-laki tidak pernah sadar telah memiliki berlian seindah dia." William berkata seolah-olah dia baru menemukan barang bagus selama hidupnya.


Alex menatap William dengan pandangan curiga. Tiba-tiba saja teringat perkataan papanya seminggu yang lalu.


"Jangan bilang papa akan melancarkan aksi seperti yang papa ucapkan minggu lalu." selidik Alex curiga. Sedangkan yang ditanya hanya senyum-senyum sambil melihat Silvana di luar ruangan.


"Itu bukan urusanmu. Bukankah aku sudah bilang, ku beri waktu seminggu untuk itu." William menyahut seolah tanpa beban.


"Tidak bisa begitu, walau bagaimanapun Silvana menantu papa." tolak Alex mulai emosi. Mendengar itu, Silvana berdiri dan membawa map hijau di pangkuannya. Tidak ingin ada perkelahian di antara musuh-musuhnya. Bagi Silvana, hanya dialah yang boleh mengibarkan bendera peperangan.


Wanita itu masuk ke dalam ruangan William tanpa mengetuk pintu dahulu. Lalu menyerahkan map hijau kepada William.


"Ini berkas yang harus bapak tanda tangani." ucap Silvana lembut. Ya, sengaja suaranya dibuat semanis mungkin. Dengan niat ingin menggoda tua bangka tersebut di depan anaknya. Tanpa pikir panjang, Silvana sudah mengantongi tanda tangan dengan cepat. Bahkan William tidak sekilas pun membaca apa isi dari map yang Silvana berikan.


"Nanti kita akan terjun ke proyek langsung, Silvana." ucap William sambil memberi kode dengan senyumnya. Alex yang melihat itu, wajahnya sudah memerah menahan emosi.


"Baik, pak." ucap Silvana menyanggupi.


"Tidak boleh, nanti dia ada acara di rumah." ucap Alex menyela. Seperti tidak terima jika Silvana harus ikut papanya.

__ADS_1


"Maaf, tapi ini sudah tugas saya. Permisi pak." Silvana kemudian pamit dan berlalu kembali ke ruangannya.


"Apa yang kau lakukan. Aku dan Silvana harus melihat proyek besar yang sedang ditangani oleh perusahaan ini." bentak William pada anaknya yang hampir saja merusak rencananya. Dia berpikir, untung saja Silvana membelanya secara tidak langsung. Membuat lelaki tua itu merasa diinginkan pula. Sedang dia tidak tahu apa yang sudah disiapkan Silvana nanti.


"Jika suatu hal terjadi, aku tidak segan-segan melapor pada mama." ancam Alex. William hanya menyambut dengan tawa renyah.


"Kau ini kenapa, tidak mungkin selera Silvana adalah laki-laki tua sepertiku Lex. Kau ini ada-ada saja." ucap William seolah memang tidak ada apapun. Silvana menarik satu sudut bibirnya. Tersenyum seram. "Kau pulanglah. Sebentar lagi aku harus pergi." usir William secara tak langsung. Terpaksa Alex pergi dengan raut wajahnya yang kesal.


"Awas saja kalau papa macam-macam." ucapnya sebelum benar-benar keluar dari ruangan William, papanya.


***


"Apa kau sudah urus surat persyaratan mu? " tanya William di dalam mobil kepada Silvana. Mereka berdua langsung melaju ketika Alex pulang tadi.


"Sudah Pa, bukankah tadi papa sudah tanda tangan? " tanya Silvana sambil memberi tahu.


"Tadi aku membawa berkas ketika Alex ada di sana."


"Kenapa kau tidak memberitahuku. Aku tidak sempat membacanya." ucap William seolah. Menyesalkan sesuatu. Silvana hanya tersenyum kecil. Dia tau mertuanya akan membuat kecurangan, jadi dia mengambil waktu yang tepat untuk meminta tanda tangan tanpa sebuah pertanyaan ini dan itu dari mertuanya yang gila itu.


"Perjanjiannya sesuai yang kita bicarakan kok Pa." ucap Silvana mengatakan yang sebenarnya.


"Kalau begitu, apa kita bisa langsung bermain? " tanya William sambil dengan beraninya memegang tangan Silvana dan meremasnya.


"Terserah Papa saja." Silvana menjawab sok pasrah. William tersenyum puas mendengar itu. Dia pun langsung menuju hotel terdekat. Merasa tak sabar untuk menikmati menantunya yang cantik tersebut.


Mobil sudah sampai di depan hotel. Dengan tenangnya Silvana turun dan masuk untuk cek in diikuti William di belakangnya. Setelah Menerima kartu, Silvana pun lekas berjalan di depan.


"Pa, aku pesan makan dulu. Ini sudah jam makan siang. Aku lapar." ucap Silvana sambil memberikan kunci pada William.

__ADS_1


"Pesankan aku juga." sahut William. Silvana mengangguk, lalu memutar arah menghampiri seorang pegawai hotel yang ada di belakangnya.


Silvana memesan beberapa menu, lalu meminta wanita itu mengantar ke kamarnya. Yang disuruh pun mengangguk lalu pergi dari hadapan Silvana.


"Permainan akan segera dimulai Tuan William." desis Silvana hampir tak terdengar oleh siapapun. Selanjutnya, dengan langkah pasti, wanita itu melangkah menuju tempat, dimana harga dirinya dipertaruhkan sekali lagi untuk sebuah pencapaian yang maksimal.


*****


Silvana masuk kamar hotel yang di pesan tanpa mengetuk pintu. Dia tau kalau William tidak akan mengunci pintunya.


"Lama sekali kau." William bersungut-sungut. Silvana hanya tersenyum menghampiri.


"Papa kok belum mandi. Mandi dulu gih. Bau keringat. Habis itu makan dan Silvana juga akan mandi." ucap Silvana merayu sambil memeluk lengan papa mertuanya. Sumpah demi apapun, Silvana ingin muntah kali ini. Tapi sekuat tenaga wanita itu menahan mualnya.


"Baiklah." William menyanggupi, membuat Silvana bisa bernafas lega.


Lelaki tua itu melangkah menuju kamar mandi. Sedang Silvana mulai mencari tempat yang pas untuk meletakkan sesuatu. Sesuatu yang dapat membuat William dan keluarganya hancur. Beberapa detik kemudian, senyum Silvana mulai semringah ketika melihat laci yang ada di dekat tempat tidur. Lekas wanita itu melangkah dan meletakkan sesuai dengan tempat, dimana wajah William akan terlihat jelas, sedang wajahnya akan aman.


Tiba-tiba bunyi bel mengagetkannya. Silvana segera melangkah menuju pintu. Segera mungkin mengambil pesanannya. Ada lagi sesuatu yang harus dilakukannya sebelum makan siang sebentar lagi.


"Silvana… .." panggilan itu menggelegar dari dalam kamar mandi.


"Iya pa,"


"Ambilkan aku handuk. Aku lupa membawanya." teriak William lagi.


Cepat-cepat Silvana menyelesaikan misinya. Lalu mengambilkan handuk untuk mertua tak tahu diri itu.


Silvana bernafas lega setelah semuanya sesuai dengan apa yang direncanakan. Tak lupa dia mengabari Sam agar menjemputnya di hotel tersebut. Lalu setelah itu duduk tenang di sofa yang mana mejanya telah penuh dengan makan siang yang baru saja dia pesan.

__ADS_1


__ADS_2