Perempuan Badai

Perempuan Badai
Skakmat untuk mertua gila.


__ADS_3

Sudah seminggu sejak Silvana mendengar percakapan William dan Alex di ruangan presdir itu. Tapi belum ada apapun. Silvana tetap saja menolak untuk melayani Alex. Meski beberapa kali lelaki itu merayu dan meminta maaf padanya. Tapi luka tetaplah luka. Apalagi sudah bercokol begitu lama.


Senin pagi ini William tidak punya jadwal kemanapun. Dia hanya sibuk mengurusi suntikan dana dari LIBRA Group yang terlihat sangat royal. Tak henti-hentinya William membicarakan hal itu pada Silvana. Dan wanita itu hanya menanggapi dengan senyuman kecil saja.


Tiba-tiba di tengah-tengah lamunan tentang rentetan aksi balas dendam berkeliaran di kepalanya, wanita itu di kagetkan oleh sebuah panggilan dari ruangan William.


"Saya Silvana, ada yang bisa saya bantu pak? " tanya Silvana se formal mungkin.


"Kamu siap-siaplah. Kita akan mengunjungi proyek di lapangan." ucap William datar.


"Baik pak." sanggup Silvana. Dia menyeringai kecil. Tidak menyangka semuanya akan berjalan lebih cepat dari perkiraannya.


15 menit kemudian. Mereka sudah melaju di tengah jalan raya yang normal. Tidak ada macet sedikitpun. Silvana diam saja di samping kemudi. Karena William menolak menggunakan sopir. Jadi Silvana sudah bisa menduga rencana licik lelaki tua itu.


"Ekhem." William berdehem. Silvana menoleh sejenak. Lalu kembali fokus melihat kedepan.


"Boleh aku tanya sesuatu Silvana? " tanya William memulai percakapan.


"Silahkan Pa."


"Mungkin ini agak pribadi. Tapi papa sangat penasaran." ucapnya hati-hati.


"Tanyakan saja pa." ucap Silvana memancing.


"Kenapa kamu tidak mau melayani Alex? "


Huraaa. Akhirnya pertanyaan itu muncul juga. Meski Silvana mengira pertanyaan ini akan terlontar, tapi dia tidak menyangka mertuanya akan menanyakan ini secepat itu.


"Gak nafsu aja Pa. " jawab Silvana datar.


"Kenapa bisa gak nafsu. Alex kan tampan juga perkasa." William mencoba memancing Silvana. Hingga dia tidak sadar kalau dirinya sendirilah yang sedang memakan umpan.


"Kalau memang gak nafsu ya mau bagaimana lagi pa." jawab Silvana.

__ADS_1


"Trus kamu nafsunya sama yang bagaimana. Biar nanti papa ngomong sama Alex supaya dia bisa berubah dan membuat kamu nafsu." lelaki itu masih saja berpura-pura naif.


"Kalau aku nafsunya kepada seseorang yang seperti papa bagaimana? " skakmat Silvana pada mertuanya yang rada gila itu. Tanpa sadar William menginjak pedal rem mendadak. Untung saja tidak ada mobil lain di belakang. Dan untung pula Silvana memakai seatbelt dengan benar.


"Kenapa pa? " tanya Silvana pura-pura takut.


"Nggak papa sayang. Papa hanya refleks saja tadi. " jawab William sedikit gugup. Kemudian menjalankan mobil itu lagi.


Beberapa saat, mobil masih hening. Sepertinya William masih shock.


"Papa baik-baik saja? " tanya Silvana sambil memegang lengan mertuanya. William menoleh sejenak.


"Apa ada alasan lain, kenapa kamu lebih suka lelaki sepertiku? " bukan menjawab, william malah balik bertanya pada Silvana.


"Ada pa."


"Apa? " William mulai tertarik pada percakapan yang Silvana buat.


"Karena orang seperti papa tidak akan berpikir dua kali ketika aku meminta uang maupun hal lainnya." ucap Silvana. "Apalagi ada alasan Zafran jika papa memberikan sesuatu padaku." pancing Silvana lagi.


"Memangnya kau akan meminta apa padaku? " tanya William kemudian.


"Sebelum aku meminta, apa papa mau jalanin skandal setelah ini? " suara Silvana tak lupa di lembut-lembutkan.


"Katakan saja." William mendesak.


"Aku ingin satu buah mansion mewah dan uang hasil dari WLA group sebanyak 40%" Silvana menjawab tanpa ragu.


"Itu pemerasan namanya." lirih William dengan senyum liciknya.


"Aku meminta syarat dengan hal yang masuk akal bukan. Aku memberikan tubuhku pada papa seutuhnya." Silvana membalas perkataan mertunya itu. Meski sebenarnya muak dan ingin muntah. Silvana tahan agar supaya aksinya tidak mencurigakan.


"Apa kau serius tentang perkataanmu? " William kembali memastikan. Silvana tersenyum senang, merasa berjalan lancar langkah pertamanya.

__ADS_1


"Kalau papa serius, kenapa aku tidak? Sudah 5 tahun aku tidak pernah disentuh laki-laki." ucap Silvana mengiyakan.


"Kalau begitu, buka bajumu sekarang. Kalau kau berani, maka besok kau boleh antar surat-surat persyaratan dan aku akan menandatanganinya." ucap William enteng. "atas namakan semuanya dengan nama Zafran. Tapi sebelum dia dewasa, semua itu atas namamu." lanjutnya tak karuan karena merasa nafsu sudah berada di ubun-ubun.


Silvana mengangguk mengiyakan saja. Dia tau hal ini akan terjadi. Tapi sebuah wujud dari konsekuensi, dia siap menjalaninya. Perlahan Silvana membuka jas hitamnya. Setelah itu, berlanjut ke atasan putihnya yang tipis. Lalu, terlihatlah harta berharganya. Sebuah gundukan yang membusung seolah menantang siapapun yang melihatnya. William meminggirkan mobilnya. Lalu berfokus melihat gundukan Silvana yang kencang dan bulat sempurna. Tangan lelaki tua itu terulur hendak menyentuh, tapi Silvana menghalangi.


"Setelah transaksi selesai, kita akan melakukannya pa." tolak Silvana. Wajah William berubah muram. Tapi dia tidak bisa memaksa menantunya itu. Karena dia hanya meminta Silvana membuka baju, bukan untuk dia sentuh.


"Kamu pintar juga rupanya. " puji William.


"Terima kasih Tuan William. " ucap Silvana sambil mengancingkan kembali atasannya.


William pun kembali melajukan mobilnya. Nafas beratnya masih terasa. Silvana berhasil mengusik kelelakiannya. Membuat William merasa tertantang dan merasa harus secepatnya bisa mengendarai Silvana di atas ranjang panasnya.


Silvana telah rapi kembali dengan jasnya. Dia sudah duduk tenang seperti tidak ada apapun yang baru saja terjadi. Dia duduk manis di dekat William, meski sebenarnya dia sangat kesal dan mengutuk mertua setan itu setiap saat. Jika bukan karena sebuah pembalasan dendam. Dia tidak sudi melakukan hal itu. Apalagi kepada lelaki laknat yang tidak tahu malu. Dan mirisnya, sifat itu menurun kepada anaknya, Alex.


Ting.. Sebuah notif terdengar dari ponsel Silvana.


Wanita itu langsung merogoh di tasnya. Dan membuka pesan tersebut.


"Aku baru saja menyelamatkan seorang gadis yang berhasil kabur dari markas Alex dan ibunya. Kini gadis itu dalam masa pengobatan di rumah sakit. Setelah sehat nanti, kita akan mewawancarai dan meminta keterangan. Dia akan sangat berguna. Ttd, Samuel" membaca email itu, Silvana tersenyum kecil. Merasa bahagia karena rencananya mendapat dukungan dari orang-orang yang baik.


Silvana dengan cepat membalas email tersebut.


"Lakukan yang menurutmu dan Tuan Louis terbaik. Aku percaya pada kalian. Ttd, Silvana" pesan balasan pun terkirim. Senyum Silvana belum pudar. Sejenak dia memejamkan mata.


"Bantu kami pa, restui kami bisa membongkar semua kejahatan lelaki biadab ini." lirih Silvana dari dalam lubuk hati paling dalam.


"Kenapa kau Silvana?" tanya William penasaran.


"Mira mengirimkan video Zafran yang sedang berlatih bela diri." Jawab Silvana sekenanya.


William hanya diam saja. Tetap fokus menyetir meski sesuatu dibawah sana masih terasa ngilu karena butuh pelampiasan.

__ADS_1


'Nikmati dulu prosesnya, Tuan William. Karena ketika singa betina sudah bertindak, maka kau akan lebih memilih mati daripada bernyawa tanpa bisa bernapas' Lirih hati Silvana ketika menangkap tingkah William yang masih gelisah dan butuh pelampiasan.


__ADS_2