
Seorang wanita terikat di sebuah kursi kayu yang terlihat masih kokoh meski sudah pudar warnanya. Kepala wanita itu ditutup karung sejak dia dibawa pergi tadi. Tidak bisa melihat bukan berarti buta akan segalanya. Dia tau sedang bersama siapa saja di dalam mobil yang membawanya tadi. Pun dia tau kemana dia dibawa. Perangkat pintar itu sangat berfungsi, tidak heran hanya beberapa orang yang memiliki. Itupun hanya para mereka yang benar-benar punya relasi di pasar gelap kelas kakap.
"Buka !!!!!" titah suara seorang wanita. Tiba-tiba saja penutup kepala terbuka. Silvana mengerjap menyesuaikan matanya dengan sinar matahari yang masuk leluasa ke ruangan dimana dia ada saat ini.
Silvana melihat ke sekeliling. Dia baru tau, mansion mertuanya memiliki ruang bawah tanah seperti ini. Yang jelas, Silvana tau ruangan ini kedap suara. Karena terbuat dari kaca yang memiliki 2 sisi berbeda. Dari bawah, ini adalah kaca biasa seperti kaca jendela kebanyakan. Tapi dari atas, kaca ini akan memantulkan bayangan seperti cermin. Unik sekali.
"Selamat datang menantuku." ucap Sarah sambil duduk di depan Silvana dengan angkuh. Silvana hanya membuang muka dengan senyumnya yang mengejek.
"Jadi disini tempat penyimpanannya?" ujar Silvana tenang. Dan sifat yang seperti inilah yang membuat wanita di hadapannya lepas kendali. Sarah adalah tipikal orang yang suka menindas, jadi dia tidak akan suka melihat tawanannya tenang berada di kandangnya.
"Apa maksudmu? " tanya Sarah membentak. Belum apa-apa, emosinya sudah naik.
"Apa kau tau, sudah sejak lama aku ingin tau tempat ini." jujur Silvana.
"Hahahahaha." Sarah tertawa. "Nyatanya kau memang penasaran pada tempat dimana kau akan berakhir." lanjutnya.
"Benarkah? Bahkan aku ingin tau sampai dimana kamu bisa mempertahankan tempat ini setelah aku mengetahuinya." balas Silvana tetap dengan tenang.
Wajah Sarah tiba-tiba saja memerah. Ingin sekali rasanya dia mencekik Silvana. Tapi dia tidak boleh melakukan itu. Karena dia harus bisa menaklukkan Silvana untuk kepentingannya yang lain.
"Apa sekarang rasa penasaranmu sudah terbayar?" tanya Sarah mencoba ramah meski tak dapat sembunyikan wajah marahnya.
"Sangat terbayarkan Mama mertua." Silvana menyahut santai.
"Kalau begitu tunggulah saatnya. Malam nanti, kau akan tau apa kesalahanmu mencari masalah denganku." hardik Sarah sambil mendorong dahi Silvana dengan satu jarinya. Silvana hanya tersenyum sekilas. Mengingat inilah saatnya dia harus bertindak.
__ADS_1
Setelah memberi perintah kepada beberapa pengawal, Sarah pergi dari tempat itu. Meninggalkan Silvana yang masih terikat seorang diri. Wanita itu mendongak ketika melihat Alex berjalan di atas kepalanya. Terlihat lelaki itu mengobrol dengan mamanya, kemudian lelaki itu menunduk dan tersenyum. Sepertinya Alex sudah tahu kalau Silvana di sandera oleh ibunya.
Tanpa membuang waktu, Silvana membuka ikatan itu dengan sebuah pisau kecil transparan yang menempel di lengan bajunya. Hanya butuh 3 menit, dia sudah terlepas dari belenggu. Secepat kilat Silvana mencari-cari sesuatu di sana. Hingga dia menemukan satu pintu dorong yang pada akhirnya membawa dia ke tempat paling biadab milik keluarga William yang jahat itu.
Terlihat olehnya jalan panjang yang kanan kirinya adalah sebuah kamar mirip Sel polisi. Dengan pintu besi yang terkunci, gadis-gadis belia di dalamnya hanya bisa meringkuk memandang Silvana dengan tatapan frustasi. Kebanyakan isi didalamnya adalah anak remaja yang seharusnya masih duduk di bangku sekolah. Entah mengapa, tiba-tiba saja air matanya jatuh. Dia mengingat bagaimana dulu dia diperlakukan oleh Alex. Apa mungkin selama ini Alex bermain dengan para gadis belia ini untuk merenggut kesucian mereka. Mengingat bahwa pasangan keluarga dengan satu anak itu adalah kawanan orang tak berprimemanusiaan.
"Kak, tolong kami." ucap seorang remaja yang tak jauh dari dirinya. Silvana segera menghampiri, seketika kakinya merosot melihat semangat dalam mata remaja itu.
"Sudah berapa lama kau disini?" tanya Silvana sambil mengulurkan tangan mengusap kepala anak remaja itu.
"Dua bulan kak. Kemarin temanku sudah berhasil lolos. Dan dia bilang akan mengutus seseorang untuk menyelamatkan kami. Kemudian kakak datang. Dan aku yakin kakak lah sang penyelamat itu."terang gadis itu tanpa diminta.
"Kalau benar begitu, sepertinya aku membutuhkan bantuanmu untuk hal ini. Apa aku bisa mempercayaimu?" tanya Silvana.
"Panggil aku dewi kak. Namaku dewi."
"Sanggup kak. Dewi pasti akan membantu kakak." ucap dewi yakin.
"Bagus" seru silvana. "Kalau begitu, dengarkan aku baik-baik." pinta Silvana sungguh-sungguh. Kemudian wanita pemberani itu menjelaskan rencananya pada gadis remaja di hadapannya. Terlihat beberapa kali Dewi mengangguk. Hingga kemudian adu jotos setelah Silvana selesai memberitahukan tugasnya.
Malam sudah tiba. Ruangan itu berubah gelap. Hanya sinar bulan yang terlihat berpendar di sana. Silvana masih duduk di bangku dimana tadi siang dia ditinggal oleh Mama mertuanya. Suara pintu terbuka membawa Sarah, Alex dan William kedalamnya. Mereka bertiga tersenyum puas melihat Silvana masih duduk di tempat.
"Apa kabar sayangku." sapa Alex sambil menghampiri Silvana. Tangan Alex mencoba meraih wajahnya, tapi secepat kilat ditangkis oleh tangan Silvana.
"Hey, kenapa tanganmu terlepas." hardik Sarah.
__ADS_1
"Aku tidak sebodoh yang kalian kira." jawab Silvana meremehkan. Sedangkan William hanya menatap datar tanpa ekspresi.
"Sungguh pemberani." Alex bertepuk tangan. "Aku semakin merindukanmu sayang."
Cuih, Silvana meludah ke sampingnya. Merasa jijik sekali Alex memanggilnya dengan sebutan sayang.
William menghampiri Silvana. Dan melemparkan sobekan kertas ke arah wajah Silvana.
"Bisa-bisanya kamu mengira aku akan diam saja saat kau meminta harta ku atas nama Zafran." ucap William meremehkan. Silvana menahan senyumnya, semuanya berjalan lancar sesuai dengan apa yang direncanakan.
"Sobek saja." tantang Silvana. "Aku masih punya banyak duplikat surat itu dengan tanda tangan asli." lanjut Silvana.
"Jangan harap kamu akan mendapatkan apapun, Lacur." bentak Sarah tak kalah pedas. Silvana hanya diam. Merasa percuma menjelaskan kepada wanita seperti Sarah.
"Aku serahkan dia kepada kalian berdua." ucap Sarah sambil meninggalkan Alex dan William bersama Silvana.
Dua lelaki itu tersenyum licik. Lalu saling pandang, kemudian melangkah menuju Silvana bersamaan. Dengan santai, Silvana berdiri menantang. Memberikan beberapa pukulan keras tanpa ampun kepada sepasang ayah dan anak tersebut. Alex meringis, tapi kemudian tersenyum ketika melihat William berhasil meringkus Silvana dari belakang. Silvana diam saja tidak melawan ketika William meringkusnya, dia hanya memperhitungkan sesuatu yang pasti akan membuat dua orang itu kapok mengganggunya. Dan, bugh, bugh.
"Akhhhh" Alex dan William menjerit bersamaan. Silvana menendang senjata mereka bergantian dengan keras. Tak memberi celah untuk berhenti meringis, dia memukul tengkuk belakang mereka. Ketika hendak memukul lagi, Alex berseru, membuat Silvana seketika diam tanpa kata.
"Sekali lagi kau pukul kami. Maka besok kau akan menemukan mayat Zafran disini." teriak Alex. Seketika lutut Silvana lemas. Bagaimana mungkin dia melupakan keselamatan putranya.
"Sedikit saja ada luka di tubuh Zafran sebab kalian. Maka aku akan mengambil nyawa kalian semua." ancam Silvana meradang. Melihat tatapan Silvana yang marah, William dan Alex memilih meninggalkan wanita itu sendirian. Silvana mengusap wajahnya kasar. Meratapi kebodohannya karena tidak memikirkan anak semata wayangnya tersebut.
Tiba-tiba saja, Silvana mengingat sesuatu.
__ADS_1
"Sam. Tolong pastikan Zafran dalam keadaan baik-baik saja." ucapnya penuh perintah.