
Siska keluar dari rumah nya, yang kecil dan berdinding kayu jati, namun indah san sejuk, ia masuk ke mobil nya, untuk pergi ke kampus tempat ia menuntut ilmu.
Siska memang serba sendiri, tidak ada yang membantu dia dari dulu, hingga ia hidup dengan mandiri, ayahnya tidak terlalu perhatian dengan nya, asalkan dia bisa makan.
Dan sekarang di daerah Malang lah ia tinggal. Siska memutuskan untuk tobat dari niat jahatnya itu. Dan meneruskan pendidikan nya di kota Malang, tanpa sepengetahuan orang lain termasuk ayahnya.
Ia masuk ke dalam mobil nya, mobil yang ia beli dengan usaha nya selama ini. Hari ini ia akan ke kota, untuk kuliah dan melihat usaha roti bakar nya yang ada di kota.
Dua jam perjalanan dari rumahnya menuju kota Malang, akhirnya Siska pun sampai di kampus tempat ia menimpa ilmu, dan kampus yang tidak pernah ia datangi selama ini.
Ia hanya mengunakan ponsel nya saja untuk kuliah dan sekarang ia harus datang langsung ke kampus, karena tidak lama lagi ia harus praktek lapangan.
"Akhirnya aku datang juga ke kampus, jauh memang tapi tidak apa, setidaknya aku tidak tinggal di kota" ujur nya berjalan menuju kelasnya.
Selama satu jam di kampus akhirnya ia pun meninggalkan kampus dan melanjutkan perjalanan menuju toko roti bakar milik nya.
Setiap satu Minggu sekali Siska memang sering datang ke toko roti miliknya untuk melihat hasil penjualan nya setelah Minggu, dan sekarang ia akan datang setiap hari ke tempat ini.
Sampai di toko Siska pun masuk dan mulai membantu karyawan nya membuat pesanan orang yang memesan roti bakar.
"Mbak istirahat aja dulu" ujur Yuni.
"Tidak apa, aku tidak capek" sahut Siska.
"Tapi mbak" kata Yuni tidak enak.
"Tidak apa" sahut Siska.
Siska pun melayani pembeli dengan baik, ia bahkan lupa jika perutnya belum di isi, setelah pengunjung seperti ia pun masuk ke ruangan nya, dan mengeluarkan bekal dari tas nya.
Dan Siska tidak mau terlalu ingin menghabiskan uang dengan seenaknya, ia membawa bekal dari rumah bukan berarti ia tidak bisa membeli. Tapi sekarang ia harus berhemat, karena selama ini ia mengunakan kartu ATM dari ayahnya, dan sekarang ia mengembalikan kartu ATM itu.
Setelah makan siang, Siska pun kembali ke kasir untuk membantu Yuni melayani pembelian lagi. Jam menunjukkan pukul tiga sore, dan Siska pun pamit pulang pada Yuni.
Hari pun hampir malam Siska baru saja sampai di rumah yang kecil namun nyaman menurut nya, setelah memarkir kan mobil nya, ia pun masuk ke dalam rumah nya.
Baru saja duduk di kursi ruang tamu nya, ia baru ingat jika ia harus menanam kangkung yang ia beli tadi, untuk menambah penghasilan nya.
"Lagi apa mbak sore begini?" Tanya Santi tetanga sebelah rumah nya.
__ADS_1
"Lagi mau buat bedengan buat nanam kangkung mbak" sahut Siska.
"Oh, mbak mau gunakan lahan ini untuk menanam kangkung?" Tanya Santi lagi.
"Iya, lumayan buat nambah penghasilan" sahut Siska.
"Iya juga sih mbak, oh iya besok aku mau panen padi mau ikut tidak?" Tanya Santi.
"Boleh mbak, aku juga libur kuliah besok" sahut Siska.
"Oh lagi kuliah ya mbak?" Tanya Santi.
"Iya aku lagi kuliah Mbak, mbak tinggal sendiri di sini?" Tanya Siska.
"Iya aku sendiri, kalau mu ikut besok jam tujuh ya" kata Santi.
"Baiklah mbak, besok aku datang ke rumah mbak" sahut Siska.
"Aku pamit dulu ya" kata Santi.
"Iya silahkan" ujur Siska.
"Sudah siap dan waktu nya makan" kata Siska.
Dan tiba saja ada yang mengetuk pintu rumah nya, Siska pun membuka pintu rumah nya, dan ternyata Santi yang datang, dengan membawa rantang.
"Kita makan bersama, aku bawa lauk ini" ujur Santi.
"Oh, silahkan aku senang mbak datang" sahut Siska dan langsung membawa Santi ke meja makan.
"Wah enak ini" ujur Santi pada makanan yang Siska buat.
"Ini makan ku dari dulu" kata Siska Menunjukkan sayur asem dan ikan asin.
"Yang benar saja?" Tanya Santi tidak percaya.
"Iya aku hidup di rumah mewah tapi tidak ada orang nya, dan setiap hari aku makan makanan seperti ini, kecuali jika lagi di luar" sahut Siska.
"Aku kira kamu orang kaya?" Tanya Santi.
__ADS_1
"Orang tuaku saja yang kaya, tapi tidak dengan aku" sahut Siska.
"Kenapa begitu?" Tanya Santi.
"Mereka hanya mementingkan kepentingan pribadi, dan keluarga nya"sahut Siska.
"Maaf ya jika kamu sedih dengan pertanyaan ku" ujur Santi
"Tidak apa mbak, apa mbak mau menjadi teman ku?" Tanya Siska.
"Tentu saja, anggap aja aku kakak mu" sahut Santi.
"Terima kasih ya mbak, mau nanya boleh?" Tanya Siska.
"Apa?" ujur Santi.
"Mbak kerja apa di sini?" Tanya Siska.
"Aku guru di kampung ini" sahut Santi.
"Oh, mbak orang sini juga kan?" Tanya Siska lagi.
"Bukan sis, aku sama seperti kamu orang pendatang baru juga, dan aku juga membeli sawah untuk menanam padi, karena mayoritas penduduk di sini adalah petani, jika hanya mengharapkan penghasilan dari menjadi guru tidak cukup, karena setiap bulan aku harus mengirimkan transfer untuk adik ku" jelas Santi pada Siska.
"Jadi mbak punya adik, kalau orang tua mbak dimana?" Tanya Siska.
"Iya, dia ada di Jakarta, untuk orang tua ku mereka di Kalimantan, aku datang ke Jakarta untuk melakukan pendidikan, namun setelah selesai justru malah di tempat kan jauh dari mereka, dan aku juga jarang pulang, karena biaya" kata Santi.
"Oh, lanjut makan mbak" ujur Siska.
Karena tadi mereka hanya ngobrol dan makanan di meja tidak sama sekali tidak mereka sentuhan dan sekarang Santi mulai mengeluarkan makanan nya dari rantang.
Santi memasak ayam kecap untuk makanan malam ini, karena ia memang mau mengajak tetangga baru nya itu makan bersama, dan ternyata Siska sangat sederhana ia hanya memakan makanan seadanya.
Makan malam pun selesai Siska mengajak Santi ngobrol di ruang tamu. Namun malam ini Santi tidak pulang dan menginap di rumah Siska.
happy reading
like, vote, dan komen, terima kasih sudah mau membaca karya receh ini
__ADS_1