
Mencoba Menghindar
Pagi ini Randy sebenarnya tidak ingin pergi ke sekolah.
Dia ingin dirumah saja bersantai dan tak ingin bersitatap dengan orang-orang terutama dengan Ade.
Namun orang tuanya memaksa, bahkan mengancam akan menarik motornya jika tidak pergi ke sekolah.
Tentu saja dia sangat menyayangi motornya dan tidak rela jika motornya di ambil darinya.
Jadi dengan terpaksa dia pun berangkat ke sekolah.
Disekolah pastilah dia bertemu dengan sosok orang yang dihindarinya.
Ade malahan datang menghampiri Randy, karna sejak semalam dia merasa jika Randy ini sedang menghindar darinya.
Tidak lupa Ade juga membawa Tedi untuk menemaninya.
Begitulah selalu yang terjadi diantara mereka.
Siapapun diantara mereka yang terlibat masalah baik itu dengan orang lain atau pun dengan sesama mereka, maka mereka bertiga akan menyelesaikan masalah tersebut bersama.
Melihat Ade dan Tedi datang ke arahnya, Randy seketika pura-pura tidak tau dan tidak mempedulikan kedua sahabatnya yang sudah akan menyapanya.
Tedi pun menepuk pundak Ade, seakan mewakili kata, biar aku yang bicara dengan Randy.
Tedi pun duduk disebelah Randy, dan bertanya apakah temannya ini ada masalah dengan Ade.
"Kenapa Ran?,
Lagi ribut sama Ade?,
Apa masalahnya, cerita sama gue Ran. Biar kita selesaikan baik-baik. Karena masalah engga akan selesai kalau engga kita omongin.
"Engga ada masalah apapun Ted,
Tapi apakah seseorang bisa dikatakan teman jika dia membohongi temannya sendiri?", tanya Randy.
"Tedi yang mendapati jawab Randy yang sudah tampak kesal di wajahnya itu, malah jadi bingung.
Apa sebenarnya yang terjadi antara mereka?", dalam pikiran Tedi bertanya.
Kita bertiga harus bicara, dan kalian berdua harus meluruskan masalah kalian.
Ingat, kita udah bersama selama 5 tahun ini.
Terlebih kita dua Ran, Loe sama gue udah berteman sejak kecil.
"Ingat itu Ran, kita sudah berteman sejak dulu. Sejak kita di Taman Kanak kanak (TK). Apapun yang terjadi, aku ada disampingmu," kata Tedi dengan lugas, dan pergi kembali ke bangku nya
Randy yang mendengar kata-kata itu langsung dari Tedi membuat dirinya lebih tenang.
Dia teringat sahabatnya sejak kecil itu. Sahabat yang tidak pernah sekalipun mengecewakannya.
Sudah belasan tahun mereka bersama, bahkan mereka sudah saling mengganggap saudara satu sama lain.
Dan dia pun merasa perlu bicara dengan Ade, mengapa orang yang dianggap teman itu, malah membohonginya.
Awalnya mengatakan jika dia mendukungku untuk bersama Filla, tapi disisi lain dia masih menggenggam Filla dan enggan melepasnya.
Apakah Ade ingin membuktikan jika dia lebih baik daripada diriku?
Atau dia ingin menunjukkan jika dia bisa mendapatkan apapun yang iya mau. ''pikir Randy"
__ADS_1
Sepulang sekolah mereka berdua Randy dan Ade sudah ditarik oleh Tedi.
Sementara Ade dan Randy sudah tau apa maksud dari tindakan Tedi ini.
Membuat keduanya hanya diam saja, bahkan mereka tidak tau mau dibawa kemana oleh Tedi.
Ternyata Tedi membawa kedua temannya ini ke parkiran sekolah.
Seperti seorang kakak yang membimbing adiknya berjalan, menarik tangan mereka berdua.
Orang yang melihat pemandangan itu, hanya bisa diam tanpa tanggapan apapun.
Karna itu sudah biasa diliat mereka.
Semua orang juga tau kalau mereka selalu bersama karena mereka bertiga memang teman akrab.
Namun lain dengan Filla yang melihat kejadian itu.
*Filla yang heran menatap kepergian ketiga lelaki itu, karena dia tau jika ketiga orang itu memang berteman akrab, tapi dia tidak tau sejauh apa keakraban pertemanan mereka.
Dia juga sebenarnya takut jika terjadi keributan diantara 3 orang yang sudah bersahabat sejak lama itu.
Namun, dia juga tidak bisa berbuat apapa untuk itu. Jadi dia pun memilih menyimpan kebingungannya itu sendiri.
"Sekarang sebaiknya aku secepatnya pulang ke rumah saja", pikir Filla*.
Di parkiran, Tedi meminta Ade dan Randy membawa motor mereka masing-masing. Dan meminta untuk kedua orang itu mengikutinya dari belakang.
Ade dan Randy pun menurut saja dengan apa yang dikatakan Tedi, tanpa ada yang mau bertanya mengenai kemana Tedi akan membawa mereka.
Tedi membawa kedua temannya ini ke cafe.
Cafe yang biasa mereka kunjungi setiap hari libur.
"Sesampainya di Cafe, Tedi memesankan minuman yang biasa mereka pesan di cafe ini, dan dua porsi kentang goreng untuk menemaninya.
Karna mendengarkan kedua orang ini menceritakan masalahnya pastilah membosankan," pikir Tedi
Namun dua orang ini terus diam, tanpa ada yang mau memulai pembicaraan.
Ini membuat Tedi jadi jengkel.
"Ran, kamu duluan cerita," ujar Tedi memecah keheningan.
"Engga ada yang bisa ku mulai Ted," jawab Randy cuek dan memalingkan wajahnya kearah lain.
Jujur sebenarnya Tedi sangat jengkel melihat Randy menjawab seperti itu.
"Yaudah kalau gitu loe duluan De.
Loe ceritakan semuanya, tentang apa yang sebenarnya terjadi", kata Tedi ke Ade.
"Randy suka sama Filla, dan dia ga suka kalau Filla jadi korban gue.
Dia gamau kalau Filla sedih karena cuman jadi mainan gue doang Ted.
Jadi, gue pun nurutin apa mau Randy. Gue juga ngejauhin Filla.
Gue jauhin karena gue takut Filla malah sakit hati karena gue.
Dan gue udah jelasi ke Randy, kalau gue engga akan ganggu Filla lagi, engga akan dekat samanya lagi, tapi entah kenapa Randy malah seperti ini.
Gue juga gak tau," Ade pun menjelaskan semuanya. Semua yang dia tau.
__ADS_1
Namun mendengar itu, Randy seketika memasang tampang yang tidak senang dengan penjelasan Ade.
"Udahlah De, jangan munak kali.
Jelas-jelas semalam loe kerumah Filla kan, padahal kemaren-kemaren loe bilang ga akan nyakitin Filla, dan loe nyerahin Filla ke gue.
Iya gue memang suka sama Filla, tapi apalah gue.
Dia bakal milih loe, kan loe orang paling hebat yang bisa dapati semua cewek satu sekolahan kita," *k*ata-kata Randy keluar begitu saja beserta emosinya.
"Engga gitu Ran, gue semalam cuman ngantarin Filla.
Dan gue mau jelasin semuanya ke dia.
Kalau gue ga suka sama dia, dan cuman nganggap dia teman ga lebih.
Gue juga minta dia ngejauhin gue.
Dan lagi, gue bilang kalau loe suka samanya, jad gue nyuruh dia, sebaiknya ngebuka hati buat loe Ran," Ade berusaha menjelaskan semua yang sebenarnya terjadi di waktu dia mengantar Filla, agar kesalahpahaman ini selesai disini.
Tapi Randy tetap tidak bis menerima begitu saja penjelasan dari Ade, dan tetap konsisten dengan emosinya.
Tedi yang menyadari emosi Randy tetap keluar bahkan tidak menurun walaupun sudah mendengar penjelasan dari Ade.
Pukulan kuat mendarat di pundak Randy, tanda supaya Randy percaya dengan penjelasan Ade barusan.
"Ran, loe ga bisa gini.
Kita udah temanan lama, jadi seharusnya loe percaya sama penjelasan teman loe sendiri Ran," kata Tedi
"Dan loe De, jangan sampek loe bohongin kita dua.
Loe tau pertemanan ini kita lebih penting daripada masalah cewek kan," kata Tedi kepada Ade.
"Iya Ted, tau gue.
Dan maaf untuk kesalahpahaman ini Ran," kata Ade kepada Randy.
Setelah membahas masalah mereka, perlahan suasana menjadi hangat.
Seakan mereka tidak ada masalah satu sama lain tadinya.
Berkat Tedi yang sudah mencairkan suasananya dingin diantara Ade dan Randy.
Mereka pun memesan makanan tambahan, karna perut mereka sudah terasa lapar.
Tidak jarang juga mereka tertawa di tengah-tengah acara makan mereka.
Tawa hanya karena pembicaraan kecil yang di selingi candaan dan hinaan kecil yang biasa mereka lakukan satu sama lain.
Setelah menghabiskan makanan, mereka bertiga pun pulang kerumah masing masing.
Mereka pulang dengan suasana hati yang hangat, karena semua masalah diantara mereka sudah tertinggal di cafe tadi.
}•~•~•~•~•~•~•{
**Thank's udah baca, semoga suka sama ceritanya 😁
Jangan lupa kasih like comment dan rating ya
kalau suka boleh kasih vote nya ya👍👍👍
Mohon maaf jika ada kesalahan kata dalam penulisan oleh Author di cerita ini.
__ADS_1
Hepiii Reading**. . .