Perjalanan Cinta Randy

Perjalanan Cinta Randy
Episode 22


__ADS_3

Lasni dan Deo


Pagi ini sebelum berangkat ke kampus, Lasni menerima pesan dari Deo.


Bahwa Deo akan menjemputnya di kontrakkannya, supaya mereka berangkat ke kampus bersama.


"Jangan berangkat ke kampus dulu nanti, aku akan menjemputmu.


Jadi, tunggulah aku di kontrakan mu saja", isi pesan Deo.


"Iya, tapi tolong jangan lama ya Deo. Aku harus cepat sampai ke kampus. Soalnya aku nanti harus persentase tugas", balas Lasni dengan memohon.


"Iya, sabarlah.


Tunggu aku, awas kau tidak ada disana saat aku tiba nanti", balas Deo lagi.


"Iya, aku tunggu kok tapi jangan lama ya", pinta Lasni.


"Dia mengatakan akan menjemputku hari ini, tapi dilihat dari setiap kata di pesannya ini. Seperti tidak tampak jika kami sedang pacaran.


Dia bahkan, memanggilku dengan sebutan Kau", batin Lasni.


Lasni sudah siap untuk berangkat ke kampus. Sekarang dia hanya tinggal menunggu kedatangan Deo seperti janjinya tadi.


Dan Iwan yang mengetahui hal tersebut setelah di beritahukan Lasni, sehingga dia pun berangkat ke kampus lebih dulu dan sendirian hari ini.


Sesampainya Iwan di kampus, teman-teman kelasnya menanyakan dimana keberadaan Lasni.


Karena tidak biasanya Iwan datang ke kampus sendirian seperti hari ini.


"Lasni dimana Iwan?", tanya salah seorang teman kelas, namanya Adit.


"Oooh dibelakang masih. Hari ini katanya dia di jemput sama Deo, jadi mereka berangkat ke kampus nanti sama-sama", jawab Iwan.


"Ooo, aku kira dia sakit atau gimana tadinya", balas Adit.


Lasni yang sudah merasa menunggu lama, dan kedatangan Deo yang dia tunggu tak kunjung sampai.


Sebenarnya belum lah terlambat untuk datang ke kampus di jam segini (07.45), hanya saja Lasni sudah terbiasa sampai di kampus dengan cepat.


Jadi dia merasa saat ini dirinya sudah terlambat.


Dengan gelisah dia menanti kedatangan Deo.


Dia merasa serba salah.


Jika dia menunggu dan Deo ternyata tidak jadi menjemputnya, pastilah nilainya terancam karena tidak persentase tugas.


Dan jika dia berangkat sekarang ke kampus tapi ternyata Deo datang ke kontrakannya namun dia sudah tidak ada, pastilah Deo akan sangat marah dengannya.


Lasni sudah sangat bingung dengan pikirannya.


Tepat jam 07.50, Deo pun sampai di tempat Lasni.


Dia melihat Lasni yang sudah tampak gelisah karena lama menunggu kedatangannya.


"Ayo kita langsung berangkat", kata Deo.


"Kenapa lama sekali datangnya", kata Lasni dengan lembut. Padahal saat ini dia sudah merasa kesal pada Deo.


"Iya udahlah. Yang pentingkan aku jemput, dan ga terlambat juga", jawab Deo dengan penekanan suara.


"Iya baiklah", jawab Lasni yang tidak mau berdebat.


Jika saat ini Deo itu adalah Randy, sudah pastilah Lasni akan memarahinya dengan panjang kali lebar.


Karena saat ini, walaupun status Deo sebagai pacarnya.

__ADS_1


Tapi jujur, dia sudah merasa sangat jauh dengan Deo. Dia merasa sudah tidak mengenal Deo yang dulu.


Deo yang meluluhkan hatinya, hingga dia menerima pernyataan cinta dari Deo dulu.


Berbeda dengan Randy saat ini, dia malah merasa sangat dekat dan nyaman dengannya.


Oleh karena itu, dia pasti tidak sungkan untuk memarahi Randy.


Sesampainya dia gerbang sekolah, tampaklah Lasni sedang boncengan dengan Deo.


Sementara Randy, Doni, Yadi, dan Wawan berjalan menuju kelas.


Keempat orang ini memang tidak membawa motor untuk pergi ke kampus. Karena letak kosan mereka juga sangat dekat dengan kampus.


(Tepat di depan kampus).


Lasni yang melihat keempat temannya itu hanya diam. Sebenarnya dia ingin menyapa mereka, namun dia takut jika Deo jadi tidak suka dengan itu.


Dia merasa Deo saat ini sulit untuk tebak.


Di kelas, Randy hari ini memilih untuk duduk di bangku paling depan.


Karena dia melihat Lasni akan duduk di bangku belakang.


Randy berniat untuk menghindari Lasni.


Pelajaran pun berlangsung dengan lancar.


Hanya saja saat ini Randy menyesal akan pilihannya untuk duduk di bangku depan.


Dia tidak bisa bicara dengan teman yang duduk di sampingnya, dan dia harus menyalin semua yang ada di papan tulis, belum lagi pandangannya juga harus terlihat fokus kepada dosen yang menerangkan di depan.


Karena, jika tidak demikian.


Pastilah dosen itu akan memberi perhatian pada Randy, itulah resiko dari duduk di depan.


Semua orang di dalam ruang kelas itu pun berhamburan keluar.


Ada yang ke lapangan dan ada pula yang pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka.


Randy, Yadi, Doni, dan Wawan seperti biasa. Pastilah mereka ke kantin.


Tapi kali ini Adit dan Iwan ikut bergabung dengan rombongan mereka.


Setelah memesan makanan, mereka pun mencari tempat kosong di kantin itu, sebagai tempat bagi mereka untuk menghabiskan makanan mereka.


Tepatnya di sudut kantin ada tempat yang kosong. Sehingga mereka pun mengisi tempat itu, sambil menunggu pesanan mereka diantarkan ke meja mereka ini.


"Kalian tau Deo kan, pacarnya Lasni?", kata Iwan memulai percakapan.


"Iya tau lah Wan", jawab Doni dan Wawan.


"Tadi dia jemput Lasni ke kontrakan. Padahal akhir-akhir ini dia seperti tidak menganggap Lasni itu pacarnya", sambung Iwan.


"Karena, beberapa kali juga Lasni mengeluh padaku, tentang sikap dan perlakuan Deo yang berubah padanya", tambah Iwan lagi.


"Dalam setiap hubungan, hal seperti itu wajar saja terjadi Wan.


Itulah yang di namakan pasang-surut.


Tapi selagi keduanya masih saling bertahan, berarti masih ada rasa di keduanya", jawab Yadi.


"Tapi, disaat seperti itulah banyak terjadi adanya peran dari orang ketiga yang masuk di tengah-tengah hubungan mereka", sambung Adit.


Randy hanya diam saja mendengarkan teman-temannya berbicara tentang Lasni.


Dia merasa tidak perlu membuka suara untuk itu.

__ADS_1


"Tapi, aku rasa hubungan Lasni dan Deo sudah tidak akan lama lagi", Iwan.


"Eh, jangan ngomong gitu Wan. Itu sama aja loe doa kalau meraka akan putus", Doni.


"Bukan gitu Don, akhir-akhir ini. Selain Lasni menceritakan keluhannya akan sikap dan perlakuan Deo padanya. Tapi ada juga hal lain yang membuatku berkata seperti ini.", jawab Iwan sambil melihat ke arah Randy sebenyar, namun tidak ada satupun temannya yang menyadari itu.


Hal lain yang dimaksud Iwan adalah tentang kedekatan Lasni dan Randy.


"Maksudnya ?


Memangnya ada hal lain apalagi Wan?", tanya Yadi penasaran, karena dia juga berharap bisa masuk ke hati Lasni.


"Hahaha, sudahlah lupakan saja perkataanku barusan. Biarlah semua berjalan seperti yang seharusnya", jawab Iwan yang tidak ingin bicara lebih jauh lagi.


Kalau dipikir-pikir, Iwan ini termasuk laki-laki yang banyak bicara.


Bahkan dia sering menceritakan rahasia orang lain.


Tapi dia juga tau sampai dimana batasan dia dapat menceritakan rahasia tersebut.


Tak lama kemudian, makanan yang mereka pesan pun sampai diatas meja mereka.


Semuanya makan dengan tenang, terlebih Randy.


Sejak sampai di kantin, hanya saat memesan lah dia mengeluarkan suara. Dan setelahnya hingga makanannya habis masuk ke dalam perutnya, dia tidak juga mengeluarkan suara.


Setelah mereka semua selesai makan.


Mereka masih punya waktu sekitar 10 sampai 15 menit lagi sebelum jam pelajaran selajutnya dimulai.


"Iwan, jadi kelanjutan ceritamu tadi gimana?", tanya Yadi yang masih penasaran.


"Iya Iwan, lanjutkan ajalah", sambung Adit.


"Udahlah engga berani aku cerita banyak, maaf ya", jawab Iwan.


"Sssttt, diamlah kalian. Lihat itu disana Lasni lagi sama Deo itu", kata Doni sambil menunjuk ke arah orang yang dimaksud.


Seketika semua melihat ke arah yang di tunjukkan Doni, termasuk Randy.


"Eh, kenapa wajah Lasni keliahatan agak merah ya?


Seperti sedang marah atau sedih", Iwan.


"Itu yang di pegang Lasni bukan hp nya kan?", tanya Wawan ke semua temannya.


"Kalau kuliat sepertinya bukan", jawab Iwan.


Randy yang melihat semua itu, dia mencoba menerka-nerka.


Tentang apa yang sebenarnya terjadi diantara kedua orang itu, terutama kepada Lasni.


}•~•~•~•~•~•~•{


**Sampai disini ceritanya untuk episode kali ini ya.


Tetap tunggu kelanjutan ceritanya.


Author mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan kata ataupun tanda baca.


Author sangat mengapresiasikan setiap komentar dari pembaca. Terlebih setiap saran yang pembaca berikan.


Tinggalkan jejaknya berupa Like, Comment, and Rating novel ini bintang 5*.


Jika suka dan tidak keberatan bantu lewat VOTE novel ini, sebagai tambahan semangat buat author untuk update kelanjutan ceritanya.


HEPIIII READING**. . .

__ADS_1


__ADS_2