Perjalanan Cinta Randy

Perjalanan Cinta Randy
Episode 23


__ADS_3

Perasaan Lasni


Saat ini perasaan Lasni bercampur, antara sedih dan marah.


Semua perasaan itu ditujukannya kepada Deo.


Percakapannya dengan Deo di kantin ini cukup untuk mengacaukan harinya.


"Aku engga tau saat ini gimana perasaanku", kata Deo.


"Apa maksud kamu?


Apa yang mau kamu katakan sebenarnya?", jawab Lasni.


"Iya, aku ngerasa kalau kita sebaiknya cukup sampai disini aja.


Jujur aku udah engga ada rasa apapun samamu, aku udah engga sayang lagi samamu", kata Deo.


"Jadi kamu mau apa, kenapa kamu bilang kayak gini sekarang", Lasni.


"Lebih baik kita udahan aja sampai disini. Dan aku juga punya hubungan sama cewek lain.


Sebenarnya, selama ini kamu itu selingkuhan ku.


Dan aku udah punya pacar sejak SMA dan masih berjalan sampai sekarang", kata Deo.


"Ohh!! 😣


Jadi, selama ini aku jadi selingkuhan kamu gitu", tanya Lasni yang seperti sedang menahan marahnya.


"Di awal masuk kuliah dulu, aku lagi ribut sama Diana, dia pacarku sejak SMA.


Jadi, aku dekati kau hanya untuk buat dia cemburu. Aku cuman mau tau bagaimana respon nya, Apakah dia masih sayang atau engga sama aku?", kata Deo.


"Iya, itu artinya kamu cuman jadikan aku alat untuk kelancaran hubunganmu sama pacarmu itukan!!", Lasni.


"Iya, jadi sekarang aku mau kita udahan aja.


Kita engga usah dekat dan berhubungan apapun lagi.


Aku juga tau kalau kau dekat dengan Randy.


Sebenarnya, aku marah saat pertama kali aku tau kau sering dekat sama Randy.


Tapi, karena aku juga udah baikan sama pacarku. Jadi aku biarkan kau terus untuk dekat dengan Randy", jawab Deo.


"Apa semua ini juga diketahui Randy haa!!", tanya Lasni emosi.


"Dia seharusnya gatau tujuanku ini. Karena kami juga tidak terlalu akrab", Deo.


"Jujur aku benci samamu ya Deo, karena kau udah jadikan aku mainanmu dan kau jadikan aku alat untuk memperbaiki hubunganmu dengan pacarmu, terlebih kau jadikan aku seperti wanita jahat. Kau jadikan aku selingkuhanmu.


Sumpah ya, otak mu itu picik kali.

__ADS_1


Tapi makasih udah jujur sekarang, dan aku juga udah gamau lagi ada urusan apapun diantara kita", kata Lasni yang sudah emosi, marah, dan sedih. Dia berdiri dari tempatnya duduk dan pergi meninggakan Deo dengan segala rasa benci dihatinya. Rasa benci dan sedikit terselip rasa sedih pastinya.


Lasni merasa sedih, karena dia merasa seakan dirinya tidak punya harga diri. Dia di perlakukan seperti sebuah alat, dia di perlakukan seperti sebuah barang.


Hanya dimanfaatkan disaat orang lain butuh. Dan dibuang bagaikan sampah saat sudah tidah dibutuhkan lagi.


Dia tidak sedikitpun sedih karena hubungannya dengan Deo berakhir. Tapi jujur, di awal mereka kenalan dulu. Memang Lasni sangat terbuai dengan sosok Deo dan perlakuannya.


Lasni saat ini hanya ingin menenangkan diri, menyakinkan diri jika dia memang sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Deo.


Walaupun tadi pagi dia merasakan sesuatu hal dalam hatinya.


Karena tadi pagi dia berangkat ke kampus dengan Deo.


Dan dia tidak menyangka hal seperti ini terjadi saat sekarang, siang ini di kantin.


Rasa sedih karena ditinggal bukan yang mendominasi hatinya, tapi rasa sedih karena di permainkan dan marah akan hal itu memenuhi hati dan pikirannya.


Randy yang melihat kepergian Lasni itupun langsung bergegas beranjak dari tempatnya duduk.


Meninggalkan beberapa lembar uang untuk membayar makanan dan minumannya tadi.


"Don, ini uang ku. Tolong nanti bayarkan ya", kata Randy.


"Eh, mau kemana Ran?", tanya Doni karena melihat Randy yang tiba-tiba ingin pergi.


"Kelas bentar, ada yang ketinggalan tadi", jawab Randy tanpa menoleh lagi. Tapi dia berusaha sebiasa mungkin dalam melangkahkan kakinya, supaya tidak terkesan buru-buru dan tidak mencurigakan bagi temannya karena kepergiannya.


Tidak ada satupun dari teman-teman Randy yang curiga kemana perginya Randy. Mereka percaya jika Randy pergi ke kelas untuk mengambil barangnya yang tertinggal.


Semua percaya, namun tidak untuk Iwan.


Iwan tau mengenai kedekatan yang terjadi antara Randy dan Lasni.


Dimana awalnya dia hanya mengira mereka hanya sebatas teman. Tapi lambat laun Iwan yang mengenal sifat Randy yang tidak biasa dekat dengan orang lain terutama wanita, dia jadi ragu dengan kedekatan mereka.


Apakah Randy dekat dengan Lasni, dan hanya menganggap Lasni sebagai seorang teman biasa. Atau dia dekat dengan Lasni karena menganggap Lasni itu spesial dalam hatinya. Itulah yang dipikirkan Iwan selama ini.


Sampai pada saat Lasni menanyakan kepada dirinya tentang Randy.


Seakan mencari tahu tentang Randy, dan mencoba lebih mengenal lagi.


Padahal jika dipikir-pikir oleh Iwan. Bukankah Lasni seharusnya lebih mengenal Randy dibanding dirinya.


Randy menemukan sosok Lasni yang duduk di kursi yang tidak jauh ke toilet wanita.


Dia pun menghapiri Lasni, karena sempat terlihat tadi olehnya bagaimana ekspresi Lasni saat meninggalkan kantin, atau meninggalkan Deo tadi.


Randy khawati, dia berpikir jika Lasni pasti sedang bersedih yang mungkin dikarenakan kata-kata kasar Deo atau perlakuan Deo, atau apapun itu pikir Randy.


"Las, kenapa disini?", tanya Randy.


"Engga ada, cuman duduk. Habis dari toilet tadi", jawab Lasni dengan berusaha setenang mungkin, menyembunyikan rasa marahnya yang dia simpan karena perkataan Deo tadi.

__ADS_1


"Engga ke kantin untuk makan?", tanya Randy, seolah dia tidak tau apapun tentang apa yang dia lihat tadi.


"Aku udah dari kantin kok tadi. Berarti kamu tadi engga ke kantin ya?", tanya Lasni lagi memastikan.


"Iya engga, aku tadi di lantai atas. Tenang disana, engga terlalu ribut", kata Randy kembali berbohong sambil menunjukkan tangannya ke atas loteng gedung kampusnya ini.


"Oh iya baguslah. Tapi apa engga lapar sekarang?", tanya Lasni.


"Udah makan tadi di antarin Doni", jawab Randy asal.


Lasni bingung dengan jawaban Randy barusan.


Tadi dia bilang kalau dirinya di atas loteng, sekarang dia bilang udah makan di antarin Doni tadi.😧


"Baguslah kalau begitu, sebentar lagi udah masuk kita. Ke kelas yuk", kata Lasni.


"Iya Las", jawab Randy lembut.


Saat ini sikap dan tata bahasa Randy sangat lah ramah, tidak tampak sedikitpun sifat dingin dan cueknya.


Mungkin karena sedari tadi dia mengkhawatirkan keadaan Lasni yang pergi begitu saja dari kantin tadi dengan ekspresi antara sedih dan marah.


Dia juga melupakan jika dia ingin menjaga jarak dengan Lasni.


Padahal baru tadi pagi dia terang-terangan ingin membatasi dirinya dengan Lasni.


Dengan duduk dibangku paling depan disaat dia tau Lasni akan duduk di bangku paling belakang.


Tapi setelah melihat Lasni yang sepertinya tidak seperti yang dia bayangkan, diapun cukup tenang di dalam hatinya.


Karena, dia membayangkan jika Lasni akan menangis dan marah-marah saat dirinya datang menghapiri Lasni tadi.


Randy juga penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi. Namun, dia tidak mau menanyakan itu sekarang.


Mungkin nanti, disaat situasi dan suasananya sudah lebih tenang, pikir Randy.


}•~•~•~•~•~•~•{


**Sampai disini ceritanya untuk episode kali ini.


Maaf untuk pembaca yang mengikuti cerita nya karena semalam author tidak up eps nya.


Boleh tinggalkan jejaknya berupa Like, Comment, and Rating bintang 5.


Jika suka dengan cerita pengalaman author ini yang dimana author jadikan tulisan.


Bolehlah bantu Vote novelnya, sebagai bentuk dukungan dari para pembaca sekalian dan sebagai support untuk author.


Jika ada kesalahan dalam penulisan baik itu kata atau apapun didalam cerita ini. Author mohon maaf untuk itu. Dan boleh di tuliskan di kolom komentar untuk setiap kesalahan yang author perbuat.


Sehingga, author dapat memperbaikinya dan menjadi lebih baik kedepannya.


Hepiiii Reading**. . .

__ADS_1


__ADS_2