Perjalanan Cinta Randy

Perjalanan Cinta Randy
Episode 25


__ADS_3

Cerita Lasni


Hari ini Lasni dan Randy sudah kembali seperti biasa.


Duduk di bangku barisan paling belakang, tanpa bicara dan hanya beberapa kali tatapan mata mereka bertemu di satu titik.


Mereka duduk tidak bersebelahan, tapi dipisahkan oleh jarak sekitar 1 meter lebih yang digunakan sebagai jalan di kelas.


Semua berjalan lancar, mereka menerima setiapa pelajaran dan penjelasan dari dosen yang masuk ke kelas, begitupula dengan teman-teman kelas yang lainnya.


Hari ini adalah jadwal perkumpulan di organisasi yang di masuki Lasni dan Randy.


Sehingga, sepulang dari kampus nanti mereka akan kembali lagi berjumpa di kampus tepatnya jam 3 sore nanti.


Randy tau, kalau Lasni akan datang lebih awal daripada jadwal perkumpulan mereka dimulai.


Karenanya, untuk kali ini pula Randy akan datang lebih awal juga.


Dia ingin menanyakan perihal kejadian di kantin tempo hari. Berbagai alasan dan rangkaian kata sudah di persiapkannya, agar terdengar biasa saja saat dia bertanya nanti.


Jadwal perkuliahan pun sudah berakhir. Semua anak keluar dari kelas dan pulang ke tempat tinggal masing-masing.


Ada yang pulang ke rumah, ke kosan ataupun ke kontrakan. Termasuk Lasni dan Randy.


Randy tidak mengatakan apapun pada Lasni, dan tidak pula menanyakan jam berapa Lasni akan datang ke kampus lagi.


Sesampainya di kos, Randy dan teman-temannya langsung membeli makan siang mereka, karena hari juga sudah siang dan sudah pula jadwalnya untuk makan siang.


Mereka makan dengan santai, dan ditemani banyak percakapan di sela-sela makan siang mereka. Tapi Randy tetap hanya sebagai pendengar seperti biasa.


Selesai makan siang, mereka semua pergi ke salah satu mall di Medan yaitu Manhattan.


"Abiss ini kita kemana ni?", tanya Doni.


"Ya mau kemana rupanya, kita juga engga ada tugas kuliah kan untuk besok?", balas Yadi bertanya.


"Besok kayaknya engga ada tugas ya. Makanya aku mau ngajak kalian semua jalan", kata Doni lagi.


"Iya udah bebaslah yok. Ke Manhattan aja yok", kata Wawan memberi saran.


"Mau beli apa?", tanya Randy mulai bersuara.


"Kalau aku ya engga ada Ran, jalan-jalan aja.


Barangkali ada yang cocok aja nanti baru kita beli", kata Doni.


"Buat malu, laki-laki ke mall cuman jalan-jalan. Kayak perempuan lah, yang suka nya cuman liat-liat tapi engga beli", jawab Randy dengan tatapan malasnya.


"Ayoklah, aku mau beli jaket sama sepatu sebenarnya ini", kata Wawan dengan sedikit nada yang memohon.


"Iya udah ayoklah", balas Randy.


"Hahaha, gitulah. Sesekali kan kita jalan berempat gini kan enak" kata Yadi menimpali persetujuan Randy.


Mereka semua pun bersiap-siap untuk pergi.

__ADS_1


Semuanya masuk ke dalam kamar mandi masing-masing, memilih pakaian santai yang cocok untuk pergi ke mall.


Sambil memakai baju, Randy melihat jam tangannya yang menunjukkan masih jam 13.00, dan rasanya masih sempat dan tidak akan terlambat nanti ke kampus.


Di mall Wawan tidak menemukan jaket dan sepatu yang sesuai dengan keinginannnya. Sudah beberapa toko mereka masuki.


Karena itu, Doni mengajak ketiga temannya nonton bioskop di mall itu untuk mengisi kegiatan sampai sore.


Randy pun melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 13.50 WIB. Mempertimbangkan durasi nonton nanti, rasanya dia akan terlambat nantinya untuk ikut kumpul di organisasinya. Jadi, dia pun menolak ajakan itu.


"Aku engga bisa hari ini, ada pertemuan di organisasi nanti jam 15.00 wib", kata Randy menolak.


"Masih sempat Ran, terlambat dikit engga masalah nya itu", kata Yadi membujuk.


"Udahlah kalian aja ya. Ada juga urusanku di kampus", kata Randy memberi alasan.


"Yaudahlah Ran, kami nonton lah ya.


Loe pulang sendiri engga masalah kan" tanya Doni.


"Iya aman itu Don", balas Randy.


Mereka pun berpisah, Randy pergi keluar mall dan segera menuju kampus, sementara ketiga temannya tadi masuk ke bioskop untuk melihat film yang akan tayang sebentar lagi.


Sesampainya di gerbang kampus, jam sudah menunjukkan pukul 14.30 lewat sedikit.


Randy mengambil hp nya untuk mengirim pesan ke Lasni.


"Las, udah sampai kampus?" tanya Randy.


"Ooo iya", balas Randy.


Lasni tidak menjawab pesan Randy, dia menyimpan hp nya ke dalam saku baju nya. Dia tidak menanyakan apakah Randy sudah di kampus atau belum, karena Randy biasanya datang tepat beberapa menit sebelum pembicaraan dimulai.


Randy yang mengetahui jika Lasni sebentar lagi akan sampai. Jadi, dia pun memutuskan untuk menunggu Lasni di gerbang kampus.


Tepat sekitar 5 menit menunggu, Lasni sampai di gerbang kampus.


Lasni tidak melihat sosok Randy disana, karena dia hanya fokus dengan jalannya tanpa melihat ke kanan dan ke kiri.


Randy yang melihat Lasni sudah masuk kampus dan melewati dirinya, dengan segera dilangkahkannya kakinya dengan cepat untuk mengejar Lasni.


"Las" panggil Randy.


"Eh, iya" kata Lasni spontan dan melihat ke arah belakang dan menemukan Randy yang berjalan ke arahnya.


"Bisa ya jalan engga liat-liat kayak gitu", kata Randy.


"Hahaha, iya. Tadi aku engga liat, cuman fokus ke depan aja", jawab Lasni.


"Yaudah, kita ke atas barengan ya", kata Lasni lagi.


"Iya", jawab Randy.


Mereka pun jalan bersama ke tempat perkumpulan. Menapaki tangga satu per satu hingga ke lantai 4.

__ADS_1


Di ruangan seperti yang sudah di duga oleh Randy. Belum banyak anggota yang datang di jam segini.


Karena jam masih menunjukkan pukul 14.40 wib, sekitar 20 menit lagi baru akan dimulai pembicaraan organisasi ini.


Randy mengajak Lasni untuk duduk di bangku belakang. Dia ingin menanyakan perihal kejadian di kantin tempo hari. Dan dia tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan mereka.


"Las, aku mau nanya", kata Randy mamulai pembicaraan.


"Nanya apa Ran?," kata Lasni penasaran.


"Sebenarnya kemarin itu aku ada di kantin. Aku liat kamu marah dan sedih waktu itu. Apa kamu baik-baik saja dengan Deo?", tanya Randy dengan penuh perhatian.


Semua kata-kata yang sudah dia susun tidak ada yang digunakannya. Dia langsung ke intinya tanpa ada basa-basi sedikit pun.


"Haa?, tapi kamu bilang kalau kamu di lantai atas", tanya Lasni memastikan.


"Iya aku engga maksud bohong waktu itu. Aku cuman mau supaya kamu engga cerita masalah itu ke aku, yang mungkin aja jadi nambah kesedihan dan kemarahanmu kan", jawab Randy.


"Ran, kamu tau Deo selama ini cuman manfaatin aku, cuman jadiin ku pelempiasan dia, dan jadikan aku sebagai alat supaya pacarnya cemburu. Dan setelah itu mereka balikan", kata Lasni menerangkan, dan terdengar sedikit nada kesedihan di setiap katanya.


"Jadi, sekarang ini masih sedih?", tanya Randy.


"Iyalah, aku sedih bukan karena aku sayang kali samanya. Tapi aku sedih karena seakan aku engga ada harganya dimata dia", Lasni.


"Sebenarnya aku khawatir saat itu", Randy.


"Maksudnya?", Lasni.


"Ehh, ee cemana ya", jawab Randy gugup.


"Khawatir gimana?


Ooo, kamu khawatir samaku kan?", tanya Lasni sambil meletakkan tangannya di bahu Randy.


"Iya, aku khawatir. Ngeliat ada yang nangis dan pergi dari kantin.


Iya, aku khawatir samamu. Aku engga suka liat kamu sedih di depanku. Jadi, kalau mau sedih jangan di depanku", jawab Randy.


}•~•~•~•~•~•{


**Sampai disini ceritanya untuk episode kali ini.


Maaf untuk pembaca yang mengikuti cerita nya karena semalam author tidak up eps nya.


Boleh tinggalkan jejaknya berupa Like, Comment, and Rating bintang 5.


Jika suka dengan cerita pengalaman author ini yang dimana author jadikan tulisan.


Bolehlah bantu Vote novelnya, sebagai bentuk dukungan dari para pembaca sekalian dan sebagai support untuk author.


Jika ada kesalahan dalam penulisan baik itu kata atau apapun didalam cerita ini. Author mohon maaf untuk itu. Dan boleh di tuliskan di kolom komentar untuk setiap kesalahan yang author perbuat.


Sehingga, author dapat memperbaikinya dan menjadi lebih baik kedepannya.


Hepiiii Reading****. . .

__ADS_1


__ADS_2