
Sengatan mentari pagi membangunkan tidurku pagi ini.
Seluruh badanku terasa sangat amat berat.
Aku teringat kejadian di mana Datuk menodaiku.
Aku langsung beranjak duduk dan melihat seisi ruangan ini.
"Dimana aku ini.."pekik suara dara sangat lantang.
Membuat Ninda yang berbaring di sampingnya langsung beranjak duduk.
"Aku mohon Jangan mendekat .." kembali Ninda menjerit.
Ternyata Ninda juga mempunyai trauma
Saat melayani pria pria hidung belang.
Mereka berdua adalah gadis remaja yang masih di bawah umur namun mempunyai trauma ****.
Aku terheran dan terdiam melihat Ninda.
Aku melihat ada banyak cairan bening mengalir di pipinya.
Aku gak tau apa yang membuat dia menangis dalam tidurnya.
"Kamu kenapa Ninda..??
Apa kamu menangis ??" Tanya ku kebingungan.
"Gue gak apa apa kok...
Loe sihhh tiba tiba menjerit "Ninda menjawab lantang sembari mengusap air matanya.
"Maafin aku nin..
Aku baru melihat tempat ini..
Jadi wajarkan aku takut.."
"Haiss ya udah dehh tidur lagi sana...!
Gue Masi ngantuk tau.." Ninda kembali membaringkan tubuhnya lalu menarik selimut.
Dara terdiam.
Dia sedikit bingung mau mandi tapi segala perlengkapan mandi dimana.
Perut keroncongan mau makan apa.
Dara juga sedikit takut saat hendak keluar kamar itu.
Dara juga kepikiran bagaimana keadaan di apartemen.
1 malaman ini dia tidak pulang apa yang akan terjadi nanti?
Rasa takut Mulai menghantui dara.
Bagaimana nanti kalau aku pulang?
Apa yang harus ku lakukan?
Dara memberanikan diri membangunkan sahabatnya itu.
"Ninda...
Aku lapar.." suara lembut dara membangunkan Ninda.
Sebenarnya Ninda juga sudah kepikiran sahabatnya sejak terbangun tadi.
"Well.." Ninda beranjak duduk dan meraih benda pipih yang berlogo apel di gigit tersebut dan memesan makanan lewat aplikasi grab food.
"Tunggu sebentar ya..gue sudah pesan makanan..loe mandi sana..." Ninda menunjukan ruangan kecil di sudut kamarnya.
"Handuknya di mana?
Aku boleh pinjamkan??" Tanya dara
"Itu di kamar mandi..
Loe pakai baju gue aja ya..baju Lo sudah jorok tadi malam.."
"Ok..." dara pergi ke kamar mandi
__ADS_1
Tidak lama kemudian makanan yang di pesan Ninda datang dan di terima oleh Ninda.
Setelah dara siap mandi Ninda menawarkan makanan yang di pesannya lewat aplikasi grab food itu.
Dara sedikit heran dari mana makanan tersebut.
Mereka berdua makan dan bersiap siap hendak kembali ke apartemen datuk.
"Ninda...kamu pesan makanan lewat hp kan? Gimana sih caranya?
Ajarin aku dong..." tanya dara lembut
"Hahhaha ini aja masa loe gak tau sih..
Loe tinggal download aplikasi grab..
Dari sana loe nanti paham kok ...
Makanya kalau punya ponsel keren itu jangan di buat main game aja..."
"Hehe iya ini..maklum dong aku orang kaya baru..."
Mereka bercanda ria.
"Eh nanti gue ikut ya ke apartemen datuk?
Gue pengen tau boleh ya..loe ada gak foto Datuk? Gue pengen tau Datuk loe itu gimana sih wajahnya.."
"Hem mendingan kamu gak usah tau aja dehhh...jelek
Uda tua, gemuk besar, emang sih kulit nya putih..tapi kelihatan tua nya, dia itu cocok nya aku panggil kakek.." jawab dara dengan polos.
"Eh jangan ngejek Loh gitu gitu itu calon suami Lo hahaha.."
"Apaan sih ..
Uda deh jangan ngejek Ayuk kita ke apartemen datuk nantik aku kena marah pula...kamu kan tau aku gak pulang 1 harian.
Aku uda gak tau lagi bakalan apa yang di perbuat Datuk sama ku nanti.
Hu terima aja deh.."
"Ya uda Ayuk gue juga Uda kepikiran karena uda bawa Lo nginap di sini.."
Dara mengetuk pintu apartemen.
Segera bibi pembantu membukakan pintu.
"Nyonya dari mana saja?
Kami semua kecarian bahkan Datuk sudah marah.
Serrr jantung dara deg deg kan Saat mendengar bibi mengatakan Datuk marah.
Ternyata sudah ada banyak panggilan di hp dara baik dari ayah, ibu, Datuk, bibi pembantu bahkan para ajudan.
"Iya bi...
Dara nginap di rumah teman dara..
Ini orang nya...
Tapi benaran Datuk marah ya bi?? " tanya dara dengan lesu.
"Iya nyonya.."
Tiba tiba ayah datang bersama para ajudan datuk.
"Dara..dari mana saja kamu nak.." tanya ayah.
"Ayah...." dara memeluk pria separuh baya itu.
"Kata mereka semalaman kamu tidak pulang ya??" Tanya ayah
"Iya ayah, dara nginap tempat Ninda..sahabat dara..
Ayah kenalkan sama Ninda sahabat dara di sekolahan.." dara menjelaskan
"Om .." Ninda menyapa serta salam tangan ayah.
" kalian tidak apa apa kan??"
"Kita tidak apa apa kok om.. maaf ya om dan semua sudah buat masalah..
__ADS_1
Ninda pikir dara Uda permisi sama semua..
Tapi ternyata tidak..
Sekali lagi Ninda minta maaf ya om, bibi dan semuanya sudah merepotkan kalian.."
"Baiklah..yang penting kalian tidak apa apa..
Om baru bisa lega..
Dari tadi malam om sudah sangat gelisah..
Sudah dari tadi malam Datuk nelpon ayah..
Jadi ayah kebingungan apa yang harus ku perbuat sudah larut malam..
Hanya berdoa yang bisa ayah lakukan hingga pagi ini baru bisa kesini.."
Tiba tiba ibu juga datang ke apartemen ini, bersama ajudan datuk yang lain.
Ternyata Datuk langsung memberitahu kepada semua keluarga ku, bahwa aku tidak pulang semalaman.
Hati yang kecewa Masi melekat di dalam diriku saat melihat ibu dari kejauhan
"Gimana mas apa dara sudah ketemu?" Tanya ibu ketus kepada ayah
"Dia sudah pulang..tapi jangan marahi dia..
Biar ini menjadi urusan ku rose.."kata ayah kepada ibu.
"Ok..baik..
Jika sudah di sini dan baik baik saja..lebih baik saya pergi..
Dari pada saya emosi melihat kelakuan anakmu itu !!" ibu kembali beralu pergi.
"Om..Ninda permisi pulang juga ya...sekali lagi minta maaf ya om.." kembali menyalam ayah dan pergi..
"Iya nak..hati hati ya.." ucap ayah dengan lembut.
Ada rasa takut di wajah Ninda saat masuk ke apartemen ini.
Mungkin saat melihat para ajudan datuk yang tegap, berkulit hitam serta wajah yang datar menggunakan kaca mata hitam itu.
Ayah mengajak ku duduk di kursi tamu.
Seperti ada hal yang ingin di bicarakan nya pada ku.
Aku mulai gemetaran.
Aku takut aku tidak bisa menjawab pertanyaan ayah nanti untuk.
Semenjak aku kenal Datuk dan merasakan kemewahan itu Mala membuat hubungan ku dengan ayah seperti kurang baik.
Aku menjadi orang yang penakut dan seperti orang kebingungan menjalani hidup.
"Dara...apa yang membuat mu seperti ini nak..??
Ayah lihat semenjak kamu kenal Datuk dan hidup di sini, ayah seperti tidak mengenal putri ayah yang dulu,
Yang selalu ceria,
Lalu sekarang kenapa ayah sering melihat mu murung nak..." tanya ayah sangat lembut dengan wajah yang sedih
Aku hanya menangis menjawab pertanyaan ayah.
Dan mulai berbicara secara terbata bata.
"Dara baik baik saja ayah...
Dara boleh permisi istirahat tidak ayah...
Dara ngantuk banget.." pinta ku dengan lembut
Ayah tidak mau memaksa untuk bertanya lebih banyak lagi.
Dia tidak mau menghukum putrinya itu dengan cara yang keras.
Aku pergi dari hadapan ayah dan pergi ke kamarku di apartemen.
Ayah kembali pulang kerumah kontrakan kami dengan membawa hati yang sedih di antarkan oleh para ajudan datuk.
*******
__ADS_1