Perjodohan Menjerumuskanku Ke DUNIA MALAM

Perjodohan Menjerumuskanku Ke DUNIA MALAM
Bertahan atau menyerah (kemewahan atau kemiskinan)


__ADS_3

Di lobby 2 orang ajudan datuk seperti kehilangan arah hendak mengikutiku.


Ku injak keras pedal gas pada mobil yang kukendarai.


Mobil melaju kencang.


"Hahaha Gue bebas! Gue bebas!


Lagian gak perlu juga deh kayaknya di ikuti kayak orang Nara pidana saja deh gue.."


Ku pasang musik lagu kesukaanku dan aku ikut menyanyi nyanyi di dalam mobil.


*****


mobil yang di kendarai dara sudah hampir sampai ditujuan.


Saat masuk gang kecil rumah ayah,


Ada banyak ibu ibu rempong yang sedang menggosip di sana.


Aku harus menebalkan telinga ini demi kewarasan mental.


"Ayah.."


Dara mengetuk pintu rumah.


Dan seketika ayah membukanya dan mempersilahkan masuk.


Terlihat ayah sedikit kebingungan.


"Kamu sendirian nak?


Kemana para ajudan datuk ?" Ayah melirik kearah luar memastikan adakah orang lain diluar sana.


"Iya ayah..


Emangnya kenapa ayah " darah heran melihat tingkah ayah yang tidak lepas pandangannya kearah luar sana seperti sedang menunggu seseroang.


"Kemana para ajudan datuk nak?


Bukankah setiap langkahmu di jaga oleh para ajudan datuk nak??"


"Oh itu ya ayah.


jadi ayah sudah tau ya. Pasti Datuk sudah beritahu ayah ya..


Dara gak suka di ikutin terus kayak gitu ayah, kesannya dara kaya Nara pidana yang hilang. Dara.." namun pembicaraan singkat antara ayah dan dara harus terpotong ketika klakson mobil sedan hitam bergerak parkir tepat disamping mobil dara.


2 orang lelaki tegap berbaju hitam dengan kaca mata hitam keluar dari mobil tersebut.


"Oh itu ternyata para ajudan datuk, ayah pikir kenapa mereka tidak menjaga dan mengawasi kamu nak, Ternyata itu mereka...


Ayah sudah lega..


Ayuk kita masuk " ayah memberi senyuman tipis kepada kedua ajudan datuk serta bergegas mengajak masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Aku sedikit jengkel melihat senyuman ayah,


Ayah seperti senang jika aku di kawal kedua ajudan itu.


"Apaan sih ayah.!" dara masuk kedalam rumah langsung kekamarnya karna sangkin kesalnya.


Di ruang 2 orang ajudan dan ayah sibuk bercerita,


Namun hatiku semakin kesal saat melihatnya.


Bahkan ajudan datuk juga ikut menginap dirumah ayah.


"Aku pikir aku bebas dari pengawal pengawal itu.


Hu ternyata tidak malah ayah ikut senang kalau aku selalu di ikuti mereka." dara marah sendiri didalam kamarnya.


***


***


Pagi ini aku bangun dari tempat tidur dari sudut ruangan yang super sederhana.


Semenjak perjodohan itu, ini kali pertama dara menginap di rumah ayah.


Aku sudah siap siap hendak keluar menemui Ninda sahabatku.


Hanya dia satu satunya orang yang sudah mengetahui keadaanku serta kehancuran hidupku.


Mobil yang kukendarai berlaju dan di ikuti mobil sedan dari belakang.


Ini membuat dara semakin risih dan marah.


Bahkan saat kerumah ayah sebenarnya dia ingin curhat pada ayahnya, namun harus gagal karena terhalang oleh kedatangan kedua pengawal Datuk.


Dara telah mengirim pesan watstup pada Ninda dimana tempat mereka hendak ketemuan.


Di salah satu cafee di kota Medan.


Saat dara memarkirkan kendaraannya, dara melihat mobil sedan para ajudan datuk ikut serta memarkirkan mobil yang berdekatan dengan mobil dara.


Bahkan salah satu ajudan ikut masuk kedalam cafee.


"Sebenarnya apa sih maunya mereka!"aku menghampiri Ninda dan menghempaskan tas Gucci mungil yang kusandang diatas meja tepat di hadapan Ninda duduk.


"Kenapa lagi sih dara,


Bawa santai saja bisa gak sih" Ninda sedikit kesal dengan tingkahku.


"Well aku tau..


Ya terus mau gimana lagi coba?


Sudah itu jalannya,


So jalani aja dengan senyuman gak perlu merepet, yang cape kamu juga." Ninda mencoba menenangkan keadaan.

__ADS_1


"Aku benar benar muak akan hidupku nin.


Sepertinya aku ingin menyerah dengan hidup seperti ini. aku ingin menyerah dengan perjodohan ini."


"Terus Lo mau ngapain pergi dari Datuk terus semua kemewahan ini akan kembali ditarik oleh Datuk.


Lo mau hidup susah lagi ?" Ninda menasehati sahabatnya itu lalu kembali menghisap rokok yang ada di tangannya.


"Aku bingung Ninda,


Gimana dong.


Bisa gak sih perjodohan dibatalkan tapi uang serta mobil dan barang barang mewah itu semua bisa tetap menjadi milikku.?"


"Emang Datuk bodoh?


Datuk itu orang yang berkuasa,


Apa saja bisa di buatnya.


Jadi jangan mimpi deh.


Sudahlah jalani aja dara.


Inikan mimpi kita dari dulu, bisa jadi orang kaya dan tidak di remehkan orang orang." Ninda menasehati sahabatnya namun sambil melirik kearah orang yang duduk dekat dari meja mereka.


"eh loe kenal dengan orang yang duduk di situ, berbadan tegap, mengenakan baju hitam serta kaca mata hitam itu?


sepertinya dia nguping pembicaraan kita deh, mencurigakan banget deh." tanya Ninda sembari melirik kearah ajudan datuk.


"itu ajudan datuk Ninda, kamu tau semenjak aku nginap dirumah kamu, Datuk menyuruh 2 ajudannya untuk menjagaku, bahkan mengikutiku kemana pun aku pergi. Ini membuatku semakin kesal dan ingin membatalkan pernikahan ini! Belum nikah saja Datuk sudah banyak aturannya. Apalagi kalau dia sudah jadi suamiku. Bisa mati aku Ninda.! "


"oh begitu ya..


jadi apa langkah loe selanjutnya?"


"Itu yang membuatku bingung nin, aku ajak kamu ketemu pengen cerita dan minta saran dari kamu."


"kalau untuk itu gue nggak berani kasih saran dara, karena ini tentang masa depan loe, loe yang jalani.


gue takut salah, apalagi Datuk orang kaya dia bisa saja menghancurkan hidup loe." Ninda kembali menasehati sahabatnya itu lalu kembali menghisap rokok yang ada ditangannya.


Ternyata ajudan datuk mendengar ucapan mereka dan langsung memberitahukan kepada Datuk. Memang Jacky ajudan datuk itu sering melihat dara dengan pandangan yang sedikit aneh, entah karena suka atau karena benci.


Dara melirik kearah yang diberitahukan Ninda tadi."itulah yang membuatku semakin tidak sanggup berada didalam sandiwara ini, perasaanku untuk Datuk sama sekali nggak ada Ninda, tapi Datuk membuat banyak peraturan didalam apartemen, sehingga membuatku semakin nggak betah berada didalamnya. Datuk menyuruh 2 orang ajudannya untuk selalu mengikutiku kemana pun aku pergi. Aku sudah nggak tahan nin..


benar benar nggak tahan. Tapi aku juga nggak mau hidup miskin nin, menjadi orang kaya sudah menjadi impian kita dari dulu, cuma ini kesempatannya.


apakah mengikuti drama ini atau memutuskannya ? Aku benar benar bingung Ninda, sedangkan pernikahanku tinggal hanya 3 Minggu lagi. Waktunya terlalu singkat untuk berfikir." terlihat dari wajah dara seperti beratnya beban yang di pikulnya membuat Ninda sahabatnya itu ikut iba melihatnya lalu menghampiri dara dan memeluk sahabatnya itu.


"terlalu naif untuk kita jika meminta petunjuk pada Tuhan, tapi sepertinya hanya itu jalan satu satunya." sembari mengelus puncak kepala dara.


"Kenapa jalan hidup kita gini gini amat ya nin, padahal kita masih gadis remaja yang harusnya merasakan indahnya pacaran cinta cinta monyet gitu, tapi kita harus merasakan dilema karena orang orang yang dewasa" mereka saling berpelukan dan tanpa di sadari mereka, air mata mengalir dipipi mereka.


*******

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2