
Di kamarku yang cerah di penuhi dengan wallpaper pink begitu memancarkan kenyamanannya namun tidak dengan hatiku yang kusam dan sedih.
Benda pipi yang berlogo apel di gigit itu terus berbunyi.
Terlihat Datuk kembali menelpon ku lewat panggilan watsup.
Namun aku takut mengangkat ponselku yang terus berdering.
Aku takut apa nanti yang akan di tanya datuk?
Aku takut dia marah akibat kelakuanku yang tidak pulang semalaman sehingga membuat semua khawatir.
Ketukan pintu tedengar dari luar.
"Nyonya ..
Serapan sudah siap..
Mari kita serapan.." ucap bibi inem dari luar
"Iya Bibi..
Dara akan segera keluar.." jawab ku dengan sangat lesu
"Lohhh kenapa lagi itu si Eneng...
Huu entahlah urusan anak muda zaman sekarang..ada yang merajuk..ada yang membujuk terus di beri perhatian lebih." Celoteh bibi inem yang masih tertangkap tidak begitu jelas oleh telingaku.
Aku beranjak keluar dari kamarku.
Aku juga sedikit khawatir kalau kalau nanti sewaktu makan bibi dan para ajudan banyak bertanya.
Apalagi ada ratusan panggilan telepon watsup yang dengan sengaja tidak ku angkat.
Ku langkahkan kaki ku menuju meja makan.
Terlihat semua mata yang duduk di sana sedang menatapku dengan sangat lembut,
Senyuman terlihat dari bibir setiap orang yang duduk di sana membuatku sedikit lega.
Aku duduk di kursi yang telah di sediakan mereka.
Hanya keheningan yang terjadi di meja makan itu.
"Hem ini masakan apa ya bik namanya?" Sambil menunjukan sayur yang terletak di hadapanku, aku mulai berbicara untuk mengurangi kesenyapan pada ruangan ini.
"Ya buk nyonya ?
Eh ini namanya sayur yang di asami nyonya.."
" Hem sayur yang di asami berarti yang sudah dari 3 hari yang lalu dong bik..
Tapi kok enak ya.." sebenarnya dara sudah tau sih itu masakan yang di asami, namun dia hanya ingin membuka bicara agar tidak ada kecanggung di meja makan itu.
"Bukan ibu nyonya..
Maksudnya makanan basi ya nyonya ?
Bukan.
Ini sayur yang di asami..masaknya pakai asam yang lumayan banyak.
Hem sebenarnya ada yang ingin bibik inem sampaikan pada ibu nyonya.."
"Ya ada apa bik ?" Jawabku dengan sangat santai sambil menyantap makanan yang tersedia.
Walau sebenarnya jantungku mulai deg deg kan.
Pertanyaan apa yang akan di lontarkan bibik kepada ku.
"Datuk terus menghubungi kami semua ibu..
Bertanya..
Katanya nyonya gak angkat telepon Datuk?"
Aku terdiam. Kebingungan mau jawab apa atas pertanyaan bibi barusan.
"Oh itu ya,
__ADS_1
I-y-a bik nanti dara angkat bik.."
"Sama sekalian ini perintah Datuk terhadap kami semua ajudan nya untuk mengikuti nyonya kemana saja hendak keluar, kita siap menemani full 24 jam standby." Salah satu ajudan datuk mengatakan perintah Datuk kepada ku.
"Oh kenapa begitu ya pak?
Apa itu tidak merepotkan kalian ya pak?"
"Tidak sama sekali nyonya,
Kita selalu siap mengemban tugas yang di berikan Datuk terhadap kita." Ucap salah satu ajudan datuk dengan muka datar.
"Apa lagi untuk menjaga ibu boss nyonya kita di kota ini, kami selalu siap siaga .." kembali membuka bicara ajudan datuk yang lain
"Wah sangat beruntung sekali ibu nyonya,
Nyonya akan selalu terlindungi kemana pun berpergian." Bik inem ikut mendukung perintah yang di buat Datuk itu.
Hatiku sangat kesal,
Masa iya kemana mana harus di temani ajudan datuk yang semua pakaian nya hitam, berkaca mata hitam kemana pun itu.
"Kok jadi kayak film film yang ada di tv ya..
Kemana mana harus di kawal ajudan..
Apanya yang beruntung bik..
Itu sama saja tidak ada kebebasan untuk dara bik..
Hais Datuk ini ada ada saja sih emang aku penjahat apa kemana mana harus di jaga, harus di kawal. " aku sangat kesal dan muak saat mendengarkan semua perintah perintah Datuk untuk ku.
"Ya sudah jalani saja nyonya,
Lagian lebih enak dong ibu nyonya, kemana pun kita pasti lebih aman.."
"Hais terserah kalian semua saja deh,!" Aku berdiri lalu meninggalkan meja makan itu,
Aku berjalan ke taman belakang.
Meratapi nasib, bagaimana hari hari ku jika di kawal.
Apa di kawal juga?
Aku mulai jenuh dengan semua aturan aturan Datuk.
"Halo nak..
Apa kabar kamu nak..
Kenapa tidak menelpon ayah sejak semalam nak,
Dari semalam ayah menunggu telepon dari kamu..
Apa kamu sakit nak.." suara ayah lewat panggilan telepon mengurangi rasa kesalku.
di saat pikiranku kacau ayah memang selalu ada, bahkan dari kejauhan dia mungkin juga sedang merasakan kegundahan hatiku.
Ayah masih saja terus memikirkan gadis kecilnya ini,
Membuat hatiku lebih nyaman saat dekat dengannya.
"Iya ayah..
Nanti dara pulang ya..
Dara pengen istirahat di rumah ayah..
Boleh ayah ? "
"Sangat boleh sayang,
Malah ayah sangat senang,
Biar nanti ayah tidak berjualan..
Ayah ingin menikmati hari hari bersama putri ayah..
Ayah ingin masak, beresin rumah, makan, nonton bersama putri ayah..
__ADS_1
Ayah rindu kebersamaan kita yang dulu nak.."
Mendengar ucapan ayah membuat hatiku seperti tersayat sayat pisau perihnya.
Semenjak aku tinggal di apartemen ini, mungkin memang ayah selalu sendiri dan kesepian.
"Ayah jangan ngomong gitu deh, dara jadi sedih dengarnya.." tak terasa air mata mengalir di pipiku
Bagaimana nanti jika aku sudah menikah?
Ayah pasti akan lebih kesepian. Pikirku
"Uda dulu ya ayah..
Dara siap siap dulu ..
Sampai ketemu ayah .."
Dara menutup telepon nya
Dia menyeka air matanya yang tadi jatuh di pipinya.
Tiba tiba Bibi menghampiriku.
"Ibu nyonya...
Jangan sedih ya..
Itu tidak menyakiti atau merugikan nyonya kok perintah yang telah di buat Datuk itu...
Itu yang terbaik ndok..
Jangan nangis lagi ya.."
"Baik bik..
Bik...
Dara mau pulang kerumah ayah,
Tapi sepertinya nginap.
Gak apa apa kan bik dara tinggal."
"Baiklah buk..
Datuk sudah diberitahukan buk ??" Tanya bibi
Mendengar kata Datuk saja rasanya sudah kesal bagaimana mau permisi. Celotehku didalam hatiku
"Belum bik ..
Tapi dara pasti permisi kok bik..
Dara kekamar dulu ya bik,
Mau siap siap.." berlalu pergi meninggalkan bibi dari taman belakang.
"Baik nyonya..."
Dikamar aku bingung cara mengabari Datuk ,kalau aku hendak pulang kerumah ayah.
'datuk dara izin kerumah ayah ya..
Dan kayaknya dara nginap..
Boleh ya Datuk ...' pesan wats up di kirim dara melalui ponselnya dan langsung menaruh ponselnya kedalam tas.
Dia tak ingin jawaban apa pun itu dari Datuk ,yang terpenting baginya dia sudah permisi meski lewat pesan.
Dara membawa tas kecil yang di sandangkan di tubuhnya, serta tas ransel kecil di tangannya.
Dia berjalan ke arah pintu apartemen hendak keluar.
Namun saat hendak keluar menuju lobby apartemen, dua orang ajudan datuk mengikutinya.
Membuatnya semakin kesal dan berjalan lebih cepat lagi.
*******
__ADS_1