
"Kuserahkan putriku padamu Nak." Ucap Ayah Alana seraya memindahkan tangan Alana kepada Alan. Pria itu menerima sang gadis.
"Baik. Terima kasih atas kepercayaannya. Saya akan menjaga Alana dengan baik."
Alan membawa Alana ke depan Pendeta. Untuk mengucapkan ikrar perkawinan mereka.
"Bisakah acara ini dipercepat, aku sangat gerah dengan gaun ini." gerutu Alana sesekali mengibaskan tangan. Terlihat kepanasan.
"Bisakah kamu diam dan lakukan apa yang mereka mau. Ini hanya sehari, tidak bisakah kamu menahannya?" balas Alan heran dengan sikap Alana yang selalu mengeluh didepannya. Bukankah gadis itu selalu menuruti keinginan orang tua mereka. Justru ketika bersamanya, Alan sering mendengarnya mengeluhkan hal-hal tak penting.
Acara kembali dimulai, Alan dan Alana melakukan janji suci pernikahannya. Sampai mereka dinyatakan sah menjadi pasangan suami-istri. Mama Alan maupun Ibu Alana sampai menangis dikursi paling depan. Begitu terharu melihat anak mereka akhirnya bersatu. Keluarga dan para tamu undangan saling memberi selamat pada kedua pengantin.
"Selamat Alan..." Alana melirik seorang wanita cantik berambut cokelat dengan dress berwarna biru muda. Wanita itu cukup lama bersalaman dengan Alan. Tatapannya begitu sendu, sarat akan kesedihan. Entahlah mungkin hanya perasaan Alana, wanita itu seolah tengah patah hati. Dilihat dari Matanya yang berkaca-kaca, dan hidung sedikit merah. Wanita itu sedang menahan tangisnya.
"Hmm. Terima kasih." Alan memutus kontak mata mereka. Alana bisa melihat sikap acuh sang suami pada wanita itu. Alana berpikir, Wanita itu pasti bukan hanya temannya, Alana merasa mereka berdua memiliki hubungan spesial?
'Bodo amat dia punya hubungan dengan wanita itu. Selama pria menyebalkan ini tak menggangguku saja sudah untung.' pikir Alana sederhana. Jika ia tidak diusik, maka ia tidak akan mengusik siapapun.
Wanita itu mendekati Alana dan memberinya selamat. Setelah itu, dia pergi. Alana tahu, ucapan wanita itu tidak sepenuhnya tulus. Alana tidak peduli. Justru bukankah jauh lebih baik jika Alan mendapatkan gadis yang mencintainya. Dengan begitu ia bisa bebas dari pernikahan laknat ini.
"Aku lapar." gumam Alana seraya memegangi perutnya. Berdiri selama 2 jam, dipajang seperti boneka toko, sungguh melelahkan fisiknya. Mau makan cemilan didekatnya saja, ia kesulitan, saking banyaknya tamu.
Alan mendengar itu. Ia melihat Ibunya yang berdiri tak jauh dari sana. Alan mendekat. "Ma, apa Mama sibuk?"
"Tidak Al, ada apa?"
"Bisa Mama ajak Alana makan, aku takut dia pingsan disini." ucap Alan, bukan merasa khawatir tapi hanya tak ingin istrinya merusak acara. Tiba-tiba pingsan ditengah banyaknya tamu berdatangan. Sungguh merepotkankannya, pikirnya ribet.
"Astaga, menantuku kelaparan? Mana, Mama akan mengajaknya makan dulu." Tak menunggu jawaban Alan, Mama langsung menghampiri Alana.
"Sayang, kamu lapar ya?"
"Eh, emb..." tiba-tiba didatangi Mama Alan membuat Alana kebingungan, bagaimana beliau bisa tahu?
"Ayo ikut Mama, kita cari makanan sayang. Duh, kasian sekali menantu cantikku ini." tanpa babibu, Mama Alan langsung menggandeng Alana pergi. Mengajaknya menuju Pantry makanan yang berderet penuh dengan berbagai makanan lezat. Mama mengambilkan makanan untuk Alana, sedangkan gadis itu telah duduk di sebuah ruangan kecil didekat pantry. Ruangan yang dipergunakan khusus untuk ibu-ibu yang menyusui.
__ADS_1
"Duh ma, malah ngerepotin mama." Alana terharu melihat mama membawakan begitu banyak hidangan makanan di meja dengan bantuan para pelayan.
"Makan yang banyak sayang. Jangan ragu menghabiskannya. Diluar masih banyak makanan. Kalau kurang kamu bisa minta lagi ya. Mama keluar dulu. Mau menyambut para tamu. Mama tinggal ya sayang." Mama mengecup kening Alana dengan sayang. Seperti anak kandungnya sendiri.
"Makasih ya ma."
"Sama-sama sayang." Mama langsung keluar dari ruangan, meninggalkan Alana seorang diri.
Air liur gadis itu hampir menetes melihat makanan lezat didepannya. Merasa kelaparan, Alana langsung sikat semuanya.
^
"Dimana dia?"
"Siapa Pak?" Felix mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan ambigu sang Bos.
"Gadis kecil itu! Siapa lagi?" Gerutu Alan menolak menyebut istriku. "Dia dibawa ibuku pergi, ini sudah satu jam dan dia belum kembali. Cari dia."
"Kemana Pak?"
"Maaf, saya akan mencarinya." Baru saja Felix melangkah, Mama Alan datang menghampiri mereka.
"Al, dimana Alana?"
"Lho, bukannya tadi sama Mama? Dia tidak disini Ma."
"Benarkah? Mama pikir dia sudah kembali. Tadi mama tinggal untuk menemui tamu."
"Dimana Mama meninggalkannya?" tanya Alan.
"Di ruang sebelah Pantry Al. Coba kamu lihat kesana." perintah Mama.
"Oke Ma." Alan segera pergi menuju tempat yang ditunjukkan sang Mama. Ia masuk kedalam ruangan, mencari sosok istrinya.
Tak membutuhkan waktu lama, hanya 3 detik, mata elangnya sudah menemukan sosok itu diatas sofa. Terbaring lemah dengan mata terpejam. Apa gadis itu tertidur?
__ADS_1
Alan mendekat dan berjongkok disampingnya. Dengkuran halus terdengar ditelinga Alan. Alana benar-benar tertidur. Bagaimana bisa disaat acara penting ini dan bahkan diantara banyaknya orang datang diluar sana, Alana bisa tertidur begitu lelap?
Dia mencari gadis itu, bingung harus menemukannya dimana, tapi gadis itu malah tidur nyenyak disini layaknya mati suri. Ckck, rasanya Alan ingin melemparnya ke jalan Raya.
"Bangun. Kenapa kamu tidur ditempat ini!" Alan menggoyangkan bahu Alana, agar gadis itu terbangun.
"Emmm, apaan sih.. " Bukannya membuka mata, Alana justru menepis tangan Alan dan berguling kesamping, memberikan punggungnya untuk ditatap sang suami.
Tentu saja Alan dibuat kesal dengan tingkahnya itu.
"Bangun Alana, ini acara pernikahan bisa-bisanya kamu tidur disini. Tamu-tamuku sudah menunggu!" Kembali menggoyangkan bahu sang istri, namun lebih keras dari sebelumnya.
"Hiiishh!! Pergi sana!! Ganggu orang tidur saja!" sentak Alana, tanpa sadar tangannya mengibas ke arah kepala Alan. Hingga berhasil memukul kepala bagian samping pria itu.
Kesal, marah begitulah reaksi Alan. Ia ingin sekali menarik Alana dari Sofa dan melemparnya keluar. Membiarkannya menjadi tontonan orang banyak.
Tapi niatnya terurungkan saat Mamanya datang.
"Al, kenapa lama sekali. Lho, Alana tidur Al?" Mama terdiam memperhatikan menantunya begitu nyenyak tertidur. Ia tersenyum maklum lalu mendekat. "Duh, menantu Mama kecapean ya. Al, bawa Alana ke kamar gih. Kasian kalau tidur disini." perintah Mama.
"Gak sekalian dibangunin aja Ma."
"Jangan Al, kasihan Alana. Cepat bawa dia kekamar dan temani dia. Biar Mama urus para tamu." titah Mama Alan.
"Tapi Maa.."
"Gak ada tapi-tapian... Cepetan Al!"
Meskipun kesal, Alan tetap melakukan perintah ibunya. Ia perlahan menggendong Alana untuk dibawa ke kamar.
"Al, lewat dalam saja. Bawa ke kamarmu ya Nak." ujar Mama memberi titah kembali. Yang mana mungkin tak mampu Alan menolaknya.
"Baik Ma." menjawab lesu seraya melirik sebal ke Alana yang masih tertidur nyenyak. Benar-benar seperti Putri tidur. "Dasar kebo!" gerutu Alan pelan
"Alan!"
__ADS_1
"I-iya Ma. Alan bawa dia keatas." Tak mau sang ibu kembali marah, Alan segera membawa Putri tidur itu pergi.