Perjodohan Wasiat

Perjodohan Wasiat
Akan Menjaganya


__ADS_3

Alan sungguh kaget mendengar permintaan Mama. Pernikahannya dengan Alana belum juga seumur jagung, kenapa Mama minta cucu secepat itu? Ia dan Alana baru saja berciuman, mana bisa melakukan hal lebih jauh dalam waktu dekat ini! Apa mama dan papa tidak pernah merasakan kecanggungan yang sedang ia alami ketika bersama pasangannya? Seenaknya saja meminta cucu!


"Ma, tolong jangan bahas sekarang ya. Kerjaan Alan masih banyak. Toh Alana masih beradaptasi dengan pernikahan ini." ujar Alan.


"Kami dah tua lho Al. Mama mau kamu cepet dapet anak. Pingin gendong cucu yang cantik dan tampan. Salahnya mama dimana?" balas Mama seraya mencebikkan bibir.


"Alan tahu, tapi jangan sekarang ya. Please Ma?"


"Mama cuma mau yang terbaik buat kalian."


"Iya Ma, Alan tahu, Alan bisa mengatur rumah tangga Alan sendiri."


"Huh! Ya sudah, Mama tidak akan bicara lagi!"Mama berdiri dan menghampiri besannya. Sedikit kesal karena putranya susah diajak bicara.


"Salah lagi." keluh Alan memandang mamanya dengan perasaan serba salah.


Setelah berbincang-bincang cukup lama, Mama Alan mengajak mereka makan siang. Kue buatan Alana menjadi makanan penutup mereka. Mama Alan memuji Alana yang bisa membuat makanan seenak itu. Mereka begitu menikmati makan siang dengan hangat.


Kini Alan dan Alana sedang menemani Mama Alan berkeliling rumah. Tiba-tiba saja setelah makan siang, wanita itu ingin melihat-lihat isi rumah.


"Kamar kalian dimana?" tanya Mama.


DEG!


Mata Alana melebar, ia melirik suaminya cepat. Menyikut perut sang suami saking bingungnya menjawab pertanyaan Mama Alan. Kamar mereka terpisah, jika Mama Alan tahu bagaimana?


"Kamar kami ada diujung sana. Lebih baik kita ke bawah yuk Ma. Ayah dan Ibu Alana sedang menu-"


"Mama mau lihat kamar kalian." potong Mama melangkah cepat ke kamar yang ditunjukkan Alan.


"Kenapa kamu biarkan Mama kesana! Cepat cegah mama! Beliau akan tahu kalau kita pisah ranjang!" seru Alana menarik-narik tangan Alan.


"Berisik! Kamu diam saja. Biar aku yang urus." Alan mendengus kesal, ia cepat menyusul Mamanya yang sudah sampai didepan pintu kamarnya.


"Mama mau masuk Al." pinta Mama.


"Ngapain sih Ma. Didalem gak ada apa-apa. Mau lihat apa coba?" cegah Alan.

__ADS_1


"Pokoknya mama mau lihat. Kenapa gak boleh?" balas Mama tak mau kalah.


"Didalem gak ada apa-apa Ma. Mama bakal bosan. Udah yuk kita turun."


"Kamu ini aneh deh Al. Biasanya Mama diijinin masuk kamar walaupun kamu pergi. Ada apa sih didalam sana? Kamu nyembunyiin sesuatu dari Mama ya?!" seru Mama mulai curiga.


"Bu-bukan begitu Ma. Didalam ada barangnya Alana, dia pasti malu miliknya dilihat orang lain." ucap Alan beralasan.


"Malu? Kenapa mesti malu?" Mama Alan menoleh pada Alana yang berdiri tak jauh dari mereka. "Sayang, mama bolehkan masuk kedalam? Gak papa kan?"


"Emb.. Itu.. Te-tentu saja boleh Ma." lirih Alana pasrah. Kalau saja ia tidak bersandar di dinding, mungkin tubuh Alana sudah jatuh kebawah saking tegang dan lemasnya. Sebentar lagi pasti ia dan Alan akan dimarahi habis-habisan. Apalagi ada kedua orangtuanya dibawah.


Apa yang harus ia katakan pada mereka jika putrinya tidak pernah menuruti permintaan mereka. Menjadi istri yang baik dan menjalani tugasnya? Mereka pasti kecewa.


"Kamu denger itu Al. Istrimu tidak keberatan mama masuk. Cepat buka pintunya." ucap Mama.


Alan akhirnya menyerah. Ia berbalik dan membuka pintu kamar. Mempersilakan Mama masuk.


"Al..." lirih Alana sembari memasang wajah takut. Melirik Mama yang sudah masuk lebih dulu.


Seolah terhipnotis kata-kata Alan, Alana menuruti ucapan pria itu. Ikut masuk kedalam kamar. Ia pejamkan mata, menguatkan hati jika terjadi hal diluar kendalinya. Mama pasti akan marah melihat mereka pisah ranjang.


"Kayaknya kamar kalian harus diperbesar lagi deh Al. Coba deh direnov sedikit, biar barang-barang Alana bisa muat disini."


Eh, kenapa suara mama tidak terdengar marah? Justru sebaliknya? Batin Alana menggeliat. Ia perlahan membuka matanya, melihat sekitar.


Kedua mata Alana terbelalak, mulut menganga lebar. Ia melihat kamar Alan telah berubah total. Kamar yang tadi pagi masih mainly berdominasi warna hitam dan abu-abu kini telah disulap berbeda. Hanya cat dinding yang masih sama, namun semua barang-barang telah berganti warna. Ranjang king size abu-abu itu telah diganti menjadi krem, lalu tirai dikanan kirinya juga berubah warna biru laut bercorak bunga dandelion. Dan disamping lemari hitam itu berjejer lemari yang sama persis. Lalu disamping rak buku ada meja rias komplit dengan peralatan make up tersusun rapi sesuai jenisnya. Kamar itu disulap seolah-olah Alana telah tinggal disana.


'Sejak kapan dia merubah isi kamarnya? Pagi tadi belum seperti ini.' pikir Alana heran. Kedua matanya masih sibuk memindai semua tempat.


"Semua terserah Alana, jika dia ingin renov, Alan akan lakukan." ujar Alan.


"Eh? Kok aku?" Alana tertegun. Menatap bingung sang suami.


"Alana sayang, minta Alan perluas kamar ini ya. Biar nanti barang-barang kalian ditempatkan ditempat khusus. Nanti buat walk in closet agar ruangan ini sedikit luas." nasehat Mama Alan.


"Emb, begitu ya Ma."

__ADS_1


"Iya sayang."


Bukannya Alana ingin menolak, tapi kamar ini sudah sangat luas, seukuran lapangan bola basket, ckck. Mau dibuat seperti apa lagi?


"Ter-terserah Mama saja." Mau gimana lagi, toh ini bukan kamarnya, mau dirubah gimanapun itu hak Alan danĀ  mamanya yang berhak mengatur semuanya. Yang penting Mama Alan tidak tahu jika mereka pisah ranjang selama ini. Itu sudah cukup menyelamatkan nyawanya hari ini.


^


"Kalau begitu kami pulang ya. Alan kalau kamu libur, ajak Alana kerumah ya." pinta Mama Alan.


"Iya Ma. Pasti." jawab Alan.


"Nak Alan, tolong jaga Alana ya. Maafkan sikap dan perilakunya yang membuatmu kerepotan. Dia sudah sebesar ini, tapi kadang dia sangat manja. Tolong jaga dia baik-baik." Ibu Alana berucap dengan pandangan berharap. Titik sendu mewarnai wajah beliau.


Alan terdiam sesaat, melihat sekilas Alana disampingnya yang juga menatapnya. Ia kemudian tersenyum kecil, lalu berucap mantap, "Saya akan menjaganya. Dia akan selalu menjadi tanggungjawab saya."


Senyum diwajah orang tua Alana merekah. Mereka percaya telah menemukan pria yang tepat untuk putrinya. Pikiran mereka menjadi lebih tenang.


"Kalau begitu kami pulang dulu ya. Kalian baik-baik. Alana, Mama tunggu kedatanganmu dirumah." ucap Mama seraya memeluk Alana. Mendekapnya penuh rasa sayang.


"Iya Mama. Hati-hati dijalan ya."


"Iya sayang."


Kedua orangtua Alana tersenyum melihat sang anak dicintai oleh keluarga suaminya. Harapan yang selalu mereka inginkan, kebahagiaan sang Putri telah berada ditangan orang-orang yang tepat.


^


"Apa itu tadi?"


Alana mengekori Alan yang baru saja menutup pintu. Mempertanyakan berbagai pikiran yang membuat kepalanya penasaran.


"Apa?" Alan bertanya balik.


"Kenapa kamarmu bisa berubah drastis seperti itu? Bagaimana caramu mengubahnya? Tadi pagi belum seperti itu?" Alana melontarkan berbagai pertanyaan dikepala sejak tadi.


"Tidak perlu heran seperti itu. Semua sudah kusiapkan sebelumnya. Aku tahu Mama akan mengkroscek semua tempat dirumah ini. Tentu saja, kamar tempat paling utama." jelasnya. Alan mendekatkan wajah seraya menyeringai kecil. "Akalku lebih cepat dari bicaramu. Jadi jangan meremehkanku." ucap Alan seraya berkedip berbangga diri. Pria itu berjalan menjauh, meninggalkan Alana yang tertegun mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2