
"Kamu datang Abhi."
Pak Jonathan bangun dari tempat duduknya, ketika Abhi masuk kedalam ruangan kerja milik direktur Utama perusahaan keluarga Abhi.
Ruangan yang didesain luas, bergaya Room Modern Europe. Menyuguhkan pemandangan pusat kota dibalik dinding berpelitur kaca. Ruangan orang nomor satu di perusahaan Real Estate Citrulux Group.
"Papa sendiri yang memintaku datang. Sekarang apa yang harus Abhi lakukan?" Abhi duduk didepan Pak Jonathan, menyandarkan punggungnya disofa. Menatap datar kepada laki-laki yang selalu mendidiknya keras untuk menghadapi masa depannya.
"Kita akan lakukan kunjungan ke perusahaan Pak Alan sekalian makan malam. Kamu siapkan diri untuk pertemuan ini. Nantinya papa akan serahkan kerjasama dengan Giovani Group padamu. Surya akan membantumu." jelas Pak Jonathan, menyebutkan asisten pribadinya.
"Aku bisa sendiri Pa. Om Surya lebih baik menjaga Papa saja. Encok papa bisa kumat kapan-kapan kan." celetuk Abhi.
"Anak kurang ajar, haha. Tapi memang benar ucapanmu. Akhir-akhir ini Papa sering mengeluhkan pinggang Papa. Sepertinya sudah saatnya Papa pensiun." ucap Pak Jonathan seraya menerawang. "Tapi tetap saja, Surya akan ku suruh membantumu. Kamu masih perlu belajar dan bimbingan darinya. Mengerti Abhi?"
Abhi menghela nafas panjang. Ia mengangguk pasrah. Titah paduka telah berkumandang. Tak mungkin bisa dibantah oleh siapapun.
"Bagus. Ayo kita berangkat."
Mereka pergi bersama menuju kantor Giovani Group. Pertemuan yang akan menentukan keputusan kerjasama pada proyek Citrulux Group bersama Giovani Group.
^
"Kemana? Kenapa mendadak sekali?"
Bibir Alana mencebik kesal pada Alan yang tiba-tiba mengajaknya pergi makan malam. Alana sedang berbaring di tempat tidur seketika terduduk saat pria itu masuk begitu saja kedalam kamarnya. Memberitahu jika nanti malam ada acara makan malam bersama rekan bisnisnya.
Memangnya haruskah ia ikut? Itu adalah pertemuan bisnis, dan Alana tak mengerti hal semacam itu.
"Sudah ikut saja. Makan malam ini hanya sebentar. Kamu siap-siap, nanti jam 7 akan ada yang menjemput."
"Aku tidak mau ikut!"
__ADS_1
"Kamu membantahku?" Alan bersedekap tangan dengan alis terangkat.
"Kenapa harus aku yang ikut?" suara Alana berubah memelas.
"Karena kamu istriku. Apalagi."
"Bilang saja pada rekanmu kalau istrimu sedang tidak enak badan."
"Kamu sehat untuk apa berbohong."
"Perutku agak sakit, beneran deh." Alana mengangkat dua jari tangannya.
"Oh, kamu ingin aku mengatakan pada mereka jika istriku sedang hamil? Ok fine." Alana berucap asal, langsung berbalik badan berniat pergi.
"Eh apa-apaan itu! Jangan ngaco deh." Alana melompat dari tempat tidur nampak syok mendengar perkataan konyol Alan. Dia segera mendekati pria itu. "Jangan bertindak macam-macam ya!" ancamnya.
"Kamu yang mau macam-macam denganku. Apa ini? Kamu tidak mengijinkanku keluar? Mau menggodaku dengan pakaian itu?"
Alana terkesiap dengan penampilannya sendiri, buru-buru ia turunkan kaos yg tersingkap sampai bawah. Berdiri agak kikuk dengan kepala menunduk malu.
"Jangan membuatku mengulang kejadian pagi ini. Kamu tahu aku pria normal." bisik Alan menggeram pelan. Berbicara tepat di telinga Alana. Nafas memburu pria itu membuatnya merinding dalam sekejap. Bayangan kejadian tadi pagi terlintas begitu saja dikepalanya. Membuat pipi Alana memerah.
Tak mau berpikir yang bukan-bukan, Alana segera menjauhkan diri. "N-nanti aku akan siap-siap. Sudah sana pergi." berbicara tanpa memandang Alan.
"Good. Pakai ini. Jangan sampai telat oke." Alan mengangsurkan paperbag kepada Alana. Gadis itu langsung menerimanya tanpa bertanya lebih lanjut. Kentara sekali jika Alana masih malu atas penampilannya sendiri. Begitu menggemaskan, pikir Alan.
'Oh ****! Jangan mulai lagi!' desah Alan dalam pikiran kotornya. Pria itu buru-buru berjalan keluar dari kamar. Berduaan dengan Alana, bisa berakibat buruk bagi otaknya.
^
Mobil iring-iringan pemilik perusahaan Citrulux Group telah sampai di depan lobi kantor Alan. Dari dalam mobil Mercy mewah turun dua pria berbeda generasi. Berjalan masuk kedalam gedung dengan langkah tegas. Keduanya diikuti oleh beberapa orang dibelakangnya. Sebelum mereka sampai di meja Resepsionis, seorang pria dewasa berkacamata menghampiri mereka.
__ADS_1
"Selamat datang Pak Jonathan." Pria itu membungkukkan badan. "Senang melihat anda disini. Saya Felix, asisten Pak Alan. Beliau sudah menunggu anda didalam. Mari ikut saya, akan saya pertemukan Anda dengannya." ujar Felix.
"Baiklah. Terimakasih." balas pak Jonathan.
Hanya Pak Jonathan dan Abhi yang dibawa Felix ke tempat Alan. Sisanya, diminta untuk menunggu di ruang lobi. Mereka bertiga masuk kedalam lift eksekutif. Lift yang dikhususkan untuk pejabat tinggi perusahaan saja.
Tak sampai menunggu lama, mereka telah sampai di lantai atas, dimana ruangan pemilik perusahaan berada. Felix membukakan pintu untuk keduanya setelah mengetuk pintu lebih dulu.
"Selamat sore Pak Jonathan." Alan langsung menyambut kedatangan mereka dengan senyum lebar. Berdiri dari tempat duduknya dan berjalan penuh Wibawa kearah rekan bisnisnya. Alan menjabat tangan Pak Jonathan dengan rasa percaya diri tinggi.
"Apa saya terlambat Pak Alan?" tanya Pak Jonathan.
"Sama sekali tidak. Saya justru merasa senang karena Anda menerima undangan saya meninjau perusahaan ini secara langsung. Dan, Anda juga ikut ternyata." Alan menjabat tangan Abhi yang berdiri disamping Pak Jonathan. "Seharusnya saya menyambut kalian lebih baik dari ini." ucap Alan terdengar menyesal. Sebenarnya ia sudah tahu, akan kehadiran Abhi.
"Haha, tidak perlu sampai seperti itu Pak Alan. Saya tidak enak jika merepotkan Anda." canda Pak Jonathan. Membalas ucapan Alan dengan gurauan.
"Tidak sama sekali. Mari silahkan duduk." Alan mempersilahkan mereka duduk di sofa. Sedangkan ia duduk didepan mereka.
"Saya akan menyiapkan minuman."
"Suruh Sofia saja, kamu ambilkan berkas kerjasama di mejaku ya." pinta Alan.
"Baik." Setelah itu, Felix menelfon sekretaris Alan untuk membuatkan minuman bagi kedua tamu mereka. Felix mengambil berkas yang dimaksut Alan dan membawanya pada pria itu.
Alan terus mengajak Pak Jonathan bicara. Menjelaskan lebih rinci rencana proyek yang ia ajukan sebelumnya. Sedangkan Abhi, pria itu mendengarkan percakapan mereka sesekali melirik ruangan milik Alan.
Bisa dibilang Alan orang yang rapi. Setiap detail dekor ruangan serta peralatan didalamnya, penataan tempat dan letak begitu rapi. Tak ada debu yang terlihat, bahkan di sudut meja sekalipun. Namun ada satu hal yang mengganjal di benak Abhi. Soal....
"Permisi. Maaf mengganggu sebentar. Ini kopi dan tehnya. Silakan dinikmati."
Seorang wanita cantik datang sembari membawa nampan berisi cangkir minuman yang mengepulkan asap. Meletakkannya perlahan diatas meja. Abhi memperhatikan wanita itu. Baru ia sadari jika pandangan sang wanita sesekali melirik kearah Alan. Bukan hanya sekali bahkan beberapa kali. Senyum kecil juga nampak terlihat diwajahnya namun hanya sekilas. Dan itu hanya ditujukan pada satu orang. Abhi merasa ada sesuatu pada wanita itu. Melihat dari gelagatnya, wanita itu seperti .... menyukai Alan?
__ADS_1