
"Menyebalkan! Sok pinter, sok hebat!" omel Alana. Ia mendaratkan bokongnya di kursi dapur. Menggerutu tak jelas sambil mencomot kue miliknya yang masih tersisa sedikit.
"Ada apa Nona? Kenapa marah-marah begitu?"
Susan menghampiri Alana dan duduk didepannya. Mengamati perubahan tak biasa dari sang Nona Muda. Seharusnya kedatangan keluarga menjadi momen bahagia dalam hidup, bisa mempengaruhi mood baik juga bukan, tapi kenapa tidak dengan hati gadis didepannya?
"Apa terjadi sesuatu di pertemuan dengan orang tua Nona?"
"Tidak. Semua berjalan baik." jawab Alana.
"Lalu?"
"Si Kutu kupret itu! Dia sok sok an hebat dengan merubah isi kamarnya! Katanya dia bisa melakukan hal yang tidak bisa kulakukan, dan aku lebih lambat darinya! Enak saja!" dumel Alana.
"Sejak kemarin Pak Alan memang sudah menyiapkan semua. Dia tahu jika Nyonya Besar akan mengecek seluruh rumah. Jadi kami diminta melakukan apa saja yang disuruh. Tolong jangan diambil hati." ucap Susan.
"Bagus juga sih rencananya. Karena itu, aku tidak dimarahi Mama dan Kedua orangtuaku. Hah! Tapi aku tetap tak suka cara bicaranya!"
Alana turun dari kursi dapur, "Sekarang Jilo lagi apa?" bertanya pada Susan tentang anjing barunya.
"Dia selesai makan Nona. Mau dimandikan Pak Damang." menyebut tukang kebun rumah Alan.
"Bagus. Aku juga mau ikut mandiin kalau gitu." seru Alana bersemangat. Ia segera berjalan cepat menuju kandang Jilo di dekat taman depan.
Alana melewati ruang tamu, membuka pintu dekat taman dan berbelok ke kanan. Kandang berukuran 2 x 1 meter itu sudah terlihat dihadapannya. Hari ini Alana berniat bersenang-senang dengan anjing imutnya.
"Halo Pak Mang, gimana Jilo? Apa dia nakal?" menyapa tukang kebun dirumah itu yang kini sedang menyiapkan bak mandi Jilo disamping kandangnya.
"Eh Non Alana, enggak kok Non. Jilo anjing yang pintar, nurut lagi. Sekarang mau bapak mandiin." balas Pak Damang.
"Biar Alana saja ya Pak. Pak Mang lanjutin ngerjain lainnya ya." pinta Alana.
__ADS_1
"Beneran Non? Non Alana gak capek? Agak susah loh mandiin anjing."
"Gak susah kok Pak, Alana udah biasa mandiin anjing. Dulu tetangga Alana punya 5 anjing, mereka minta Alana buat ngerawat mereka. Hihi, jadi gak jadi masalah jika harus mandiin si Jilo." ujar Alana terkikik geli.
Memang saat didesa, Alana sering melakukan pekerjaan diluar kemampuan wanita sekalipun. Seperti Ngojek bentor, ngerawat anjing kucing, pergi ke pulau seberang cari sembako, ngurus persawahan, dan lain sebagainya. Ini belum seberapa, Alana sudah merasakan hidup keras walaupun kedua orangtuanya masih ada. Alana bukan orang yang suka bermanja ria dengan mereka. Alana tahu kondisi ekonomi keluarganya. Ia tidak pernah menutup mata atas kesulitan orang tuanya. Ia ingin bekerja keras dan memenuhi setiap kebutuhan keluarga. Ia lakukan apapun asalkan pekerjaan sesuai kemampuan dirinya.
"Ya udah, bapak tinggal ya Non. Jika butuh apa-apa panggil saja." ucap Pak Damang beranjak berdiri.
"Iya Pak. Siap.."
Alana mengambil Jilo didalam kandang, ia bawa ke bak mandi yang sudah terisi air, secara perlahan Alana membersihkan Jilo.
Setelah selesai memandikan, Alana mengeringkan bulu Jilo dengan hairdryer khusus hewan. Ia duduk dikursi rotan dengan Jilo di pangkuannya. Begitu asyiknya Alana sesekali menyanyikan lagu kesukaannya.
"Dah selesai. Kamu terlihat tampan Jil. Kita main yuk!"
Alana melingkarkan tali dileher Jilo, dan membawanya menuju halaman rumah. Ada 2 penjaga yang kebetulan lewat, Jilo yang lincah tanpa diduga mengikuti kedua penjaga itu.
"Eh, kamu mau kemana?"
"Jilo berhenti! Dasar ya kamu ini, nakal banget." ujar Alana gemas. Alana menangkap anjing itu dan menggendongnya. Ia terkejut, ketika mengetahui jika ia sudah berada diluar rumah. Ia melirik pintu dibelakangnya.
"Rupanya ada pintu lain ya. hmm, ada bagusnya nih. Aku bisa keluar tanpa diketahui siapapun. Capek sekali dikurung dirumah terus." gerutu Alana. Alana berencana menggunakan jalan itu saat ada kesempatan bagus. Sebenarnya ia tidak ingin kabur, tapi sesekali saat ia bosan, keluar rumah sebentar pasti cukup menyenangkan.
Alana menurunkan Jilo berniat masuk kedalam rumah. Jika ia tidak kembali Alan pasti akan mencarinya.
Namun ketika ia hendak kembali, Alana tak sengaja melihat Abhi keluar dari rumah. Pria itu berpakaian rapi. Sepertinya berniat pergi.
Alana bimbang haruskah ia menyapanya atau memilih masuk kedalam rumah? Ia takut jika Alan memergokinya ada diluar rumah tanpa seijinnya jika berlama-lama disana.
"Hah..." Alana menghela nafas panjang. Bagaimana pun juga Abhi selalu baik padanya. Bukan sikap yang baik mengacuhkan pria itu. Toh mereka berteman. Saling menyapa apa salahnya? Pikir Alana.
__ADS_1
"Abhi.."
"Hai Al," Abhi yang hendak masuk ke mobil, kembali menutup pintu menemui Alana yang menghampirinya. "Kenapa kamu ada disini?" Senang melihat gadis itu.
"Hanya lewat. Eh lihat kamu mau pergi." jawab Alana menyunggingkan senyum kecil.
"Kamu sedang ajak Jilo jalan-jalan yah?" Abhi mengambil Jilo dan menggendongnya. "Apa dia rewel?"
"Tidak. Sama sekali tidak rewel. Dia anjing yang pintar." kata Alana ceria.
"Syukur deh. Kalau ada apa-apa kamu beritahu aku ya. Nanti aku bantu cara merawatnya. Dia juga udah vaksin sih, tapi bulan depan lebih baik cek kesehatan ke dokter."
"Iya juga ya. Kamu kayaknya paham sekali merawat mereka. Juga sangat perhatian." puji Alana.
Abhi tergelak, "Benarkah? Kalau aku perhatian sama kamu, apa juga boleh?"
Alana terdiam, menundukkan kepala saat dilontarkan pertanyaan semacam itu. Kenapa pertanyaan singkat itu terasa mengaduk isi perutnya.
"Aku bercanda Al. Maaf ya." Abhi tersenyum seraya mengusap kepala Alana, menyadarkan lamunan wanita itu. Ia tahu ucapannya membuat Alana merasa tak nyaman. Ia tidak boleh membuat hubungan mereka memburuk karena keegoisannya.
"Kamu mau kemana? Kok rapi banget?" tanya Alana.
"Aku mau ketemu seseorang Al. Karena ditempat kerjanya, harus berpakaian seperti ini untuk menghargainya juga bukan. Kenapa, aku terlihat tampan ya?" ucap Abhi mengulum senyum.
"Hmm, gak kayak kamu biasanya. Tapi aku lebih suka penampilan kamu seperti ini. Lebih dewasa." celetuk Alana.
"Haha, jadi penampilanku kemarin terlihat biasa ya. Kayak anak kecil gitu?" goda Abhi tertawa.
"Gak gitu juga.. Cuma sekarang tuh lebih bagus. Iiih, kamu tuh dipuji kok makin nyebelin sih!" Alana melengos seraya mencebikkan bibirnya. Dengan tangan bersedekap didada.
"Haha, iya iya. Maaf ya. Dan terimakasih karena sudah memujiku. Selama ini belum ada wanita yang memujiku seperti itu."
__ADS_1
"Boong deh, mana ada wanita yang belum pernah memujimu. Pasti banyak yang mencari perhatian dengan cara itu." ucap Alana tak percaya begitu saja. Abhi orang yang ramah, baik, tampan pula. Mana mungkin ada wanita yang mengacuhkannya. Abhi ini tipe pria welcome pada semua orang.
"Aku serius. Tidak ada wanita yang mampu membuatku berterimakasih karena itu. Kecuali kamu Al."