Perjodohan Wasiat

Perjodohan Wasiat
Abhigantara


__ADS_3

"Selamat siang Pak."


"Siapa namamu."


"Nama saya Susan."


Wanita yang dibawa Felix untuk menjaga istrinya datang diruang kerja Alan. Felix juga ada disana, menyiapkan beberapa berkas yang diperlukan. Dalam resumenya, Alan cukup setuju atas pilihan Felix. Susan seorang mantan pengawal kepala pejabat. Karena alasan menikah, ia harus meninggalkan pekerjaannya dahulu. Usianya 35 tahun, perawakannya tinggi, berwajah tegas dan juga datar. Tipe orang yang selalu mendengarkan perintah dan tentunya patuh dengan atasan. Alan suka pilihan Felix. Dengan begitu, ia bisa mengawasi Alana lewat Susan.


"Kamu akan mulai bekerja hari ini. Antar kemanapun istri saya pergi. Dan beritahu padaku apapun kegiatan yang dia lakukan." ujar Alan.


"Baik Pak. Saya siap melaksanakan perintah." jawab Susan mantap.


"Bagus. Ayo akan kuperkenalkan istriku padamu." Alan berdiri dan berjalan keluar ruangan. Diikuti Susan dibelakangnya.


^


"Mulai hari ini Susan akan menjagamu. Kemanapun kamu pergi!" ucap Alan tegas. Alana melirik wanita kaku dibelakang Alan. Dari sekali lihat saja Alana tahu tipe wanita seperti apa Susan itu. Dia sebelas duabelas seperti suaminya. Kaku dan dingin. Mau kemanapun, tetap saja bayangan pria itu menghantuinya. Benar-benar sial!


"Terserah. Sana keluar, aku mau tidur." Alana bersiap mengerubuti tubuhnya dengan selimut.


"Bukannya kamu mau pergi? Kenapa malah tidur?" tanya Alan mengernyitkan dahi. Gadis itu tadi berkeinginan keras untuk keluar rumah. Dan sekarang setelah ia dapat orang untuk menjaganya, gadis itu malah tidur. Apa yang ada dipikirannya sebenarnya?


"Nanti kalau aku mood. Sudah sana pergi!" seru Alana mengusir mereka.


"Susan akan menunggu didepan pintu. Panggil dia jika kamu mau pergi. Dan ingat Alana, jangan membuat masalah diluar sana. Mengerti kamu." ujar Alan kembali mengingatkan.


"Hm." Ingin sekali Alana menolak, tapi apa yang bisa ia lakukan. Semua harus sesuai keinginan Yang Mulia bukan?


^^


Sore hari, Alana terbangun. Ia melirik jam dinding dikamarnya. Sudah Pukul 4 sore. Alana merasa bosan jika terus-terusan berada didalam kamar. Alana turun dari tempat tidur. Lalu menuju kamar mandi. Ia mulai membersihkan diri sebelum keluar dari kamar. Mungkin berjalan-jalan sore bisa menghilangkan rasa bosannya. Ia akan berkeliling komplek.


"Dimana dia?"


"Maksudnya Pak Alan Nona?" tanya Susan.


"Iya. Dimana dia."


"Masih diruang kerja Nona. Apa perlu saya beritah-"

__ADS_1


"Tidak usah. Kamu ikut aku keluar. Aku mau berkeliling." Alana berjalan ke tangga. Susan langsung mengikutinya dibelakang.


"Saya akan memberitahu Pak Alan jika Nona akan keluar." ujar Susan.


"Terserah kamu." Alana tahu semua yang dilakukannya pasti akan diketahui oleh Alan. Ia tidak mau memusingkannya. Menghirup udara diluar sekaligus merelaksasikan kaki adalah tujuannya sekarang. Ia tak mau diganggu melakukan apa yang ia mau.


Alana keluar dari gerbang rumah. Ia melihat sekeliling. Rumah-rumah elit memenuhi komplek itu. Ada dua jalan berbeda jalur dengan tengahnya ditumbuhi tanaman seperti taman kecil. Ada dudukan dibuat khusus untuk beristirahat dibawah pohon. Alana menyeberang jalan dan duduk disalah satu kursi. Angin sore rupanya berhasil menyegarkan pikiran Alana. Udara disana bersih tak seperti di pusat kota.


Sebelum menikah, Alana pernah diajak Mama Alan ke tengah kota untuk membeli barang-barang pernikahan. Melihat kota yang begitu ramai serta banyak kendaraan berlalu lalang, membuat udara disana tak layak dihirup. Terasa sesak dan panas. Sangat berbeda dengan disini dan kampung halamannya.


"Apa Nona mau kubelikan air?" tawar Susan.


"Emb, boleh. Dimana kamu beli?" Alana penasaran.


"Disana ada toko Nona. Saya akan beli disana sebentar." Susan menunjuk toko yang berjarak hanya 20 meter.


"Oke. Belilah. Sekalian buat kamu." ucap Alana.


"Baik Nona. Tolong jangan pergi kemana-mana saat saya pergi." pinta Susan.


"Iya. Sudah sana pergi."


Sekitar 10 meter dari tempatnya, Alana melihat seekor anjing berwarna putih kecoklatan berjalan kearahnya. Anjing itu mungil dan berhidung pesek. Bulu-bulunya begitu halus dan indah. Tanpa sadar, Alana berdiri berniat mendekati anjing itu. Ia ingin memegangnya saking gemesnya.


Tin tin!


Pandangan Alana sontak teralihkan pada kendaraan roda empat yang melaju dari arah berlawanan. Kecepatannya cukup tinggu. Melaju semakin dekat. Alana melirik anjing yang berjarak 5 meter darinya. Hanya tinggal beberapa meter saja, mobil itu akan sampai ketempat anjing itu.


Tak mau berpikir terlalu lama, Alana segera berlari menuju anjing itu. Tubuhnya yang kecil membuat langkah Alana semakin cepat. Namun kecepatannya tak membuat jarak semakin dekat, mobil itu pun juga tak mengurangi laju kecepatannya. Alana meraih anjing itu, melompat di rerumputan pinggir jalan. Berguling berkali-kali sampai berhenti dengan anjing itu dalam dekapannya.


"Shu!!"


"Nona!!"


Entah suara darimana, Alana mendengar Susan dan seseorang memanggilnya. Alana duduk tanpa melepaskan anjing kecil itu. Seorang pria tiba-tiba mendekatinya.


"Astaga, kamu tidak apa-apa?" Pria itu berjongkok disamping Alana. Memperhatikan dengan wajah cemas. Alana menggeleng pelan. Tatapan mereka sejenak bertemu.


Pria itu bermata coklat dengan bulu mata lentik. Memiliki alis tebal serta hidung yang mancung. Pria itu menatap Alana cukup lama.

__ADS_1


"Nona, anda tidak apa?" Susan memutus pandangan mereka. Wanita itu baru saja sampai dan berdiri disamping Alana.


"Ayo." Pria itu mengulurkan tangannya pada Alana. Membantu gadis itu berdiri.


"Terima kasih."


"Aku yang harusnya berterima kasih. Kamu sudah menyelamatkan anjingku. Aku sangat terima kasih ya." ujar pria itu. Mengambil alih anjing kecil itu dari Alana.


"Boleh tahu, apa kamu orang baru disini? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya." tanya pria itu.


"Iya, aku baru hari ini pindah." jawab Alana.


"Oh ya, salam kenal. Aku Abhigantara. Panggil Abhi saja. Siapa namamu?"


"Alana."


"Oh ya, Alana terima kasih ya sudah menyelamatkan anjingku ini."


"Siapa namanya? Dia lucu." timpal Alana seraya mengusap kepala anjing itu.


"Dia Shu. Kamu menyukainya?"


Alana mengangguk. Terlihat senang bisa menyentuh Shu.


"Kamu mau punya seperti ini?" tanya Abhi.


Alana mendongak, sorot mata Abhi terlihat serius. Alana langsung mengangguk cepat.


Abhi tersenyum, "Akan kubawakan anjing seperti ini. Kamu tinggal dirumah sebelah mana?"


"Disana, rumah no. 9 Warna putih." Alana menunjuk rumah Alan yang berdiri megah diantara lainnya. Abhi mengernyitkan dahi.


"Jadi itu rumahmu? Kamu tinggal bersama siapa?" tanya Abhi sedikit heran. Setahu pria itu, rumah itu lama sekali tidak dihuni. Dan sepertinya telah berganti pemilik. Dan gadis ini lah pemilik baru. Sebenarnya siapa Alana?


"Aku tinggal..."


"Nona kita harus pergi. Pak Alan sudah mencari Nona." sela Susan. Menarik tangan Alana menjauh.


"Alana, besok ketemu disini ya?" seru Abhi.

__ADS_1


"Iya! Sampai jumpa. Sampai jumpa juga Shu!!" balas Alana seraya melambaikan tangan. Menatap anjing lucu itu dengan gemas. Gadis itu berbalik dan mengikuti langkah cepat Susan.


__ADS_2