Perjodohan Wasiat

Perjodohan Wasiat
Ketahuan!


__ADS_3

Alan bersama rekan bisnisnya, bapak Jonathan turun dari mobil masing-masing. Mereka telah sampai disebuah toko hewan dipusat kota. Sofia ikut bersama Alan mengingat wanita itu memohon agar diijinkan ikut. Tentunya Alan terpaksa membawanya. Ia tidak bisa menolak permintaan Sofia didepan Kliennya.


"Toko disini menyediakan hewan peliharaannya yang Bagus dan sehat. Bapak Jonathan akan puas membeli  disini." ujar Sofia bersemangat. Karena dialah yang merekomendasikan tempat itu.


"Sepertinya begitu ya. Kalau begitu mari kita masuk." ajak Bapak Jonathan berjalan lebih dulu.


Alan mengikuti kliennya dari belakang. Ia masuk kedalam. Tiba-tiba Sofia berjalan menjejerinya. "Al, kamu tidak mau membelikanku? Kamu tahu, aku suka sekali kucing. Lihat itu, lucu-lucu bukan?" Sofia menunjuk-nunjuk deretan kucing yang terpampang di etalase didalam toko. Berbagai jenis kucing ada disana.


"Beli saja. Aku masih sibuk."


"Sibuk apa sih Al, tuh lihat Bapak Jonathan aja masih pilih-pilih kan. Yuk Al, lihat kucing disana." Sofia menarik lengan Alan ingin membawanya ke tempat yang ia mau.


"Dia lucu sekali!"


"Iyakah, kamu hebat pilihnya."


Alan mendengar percakapan beberapa orang  dan melihat mereka berjalan ke arahnya. Bersenda gurau  bersama. Pria dan wanita. Sang wanita memegang  seekor anjing. Sedangkan pria berjalan disampingnya tanpa melepas senyum. Alan memperhatikan mereka, sosok wanita itu Alan mengenalnya dengan jelas, dia adalah Alana, istrinya.


"Alana...." panggilnya dengan kedua alis saling bertautan.


Alana menoleh ketika ada seseorang yang memanggilnya. Tubuhnya tiba-tiba terasa kaku. Kedua matanya terbuka lebar saat melihat Alan dihadapannya!


Pandangan pria itu menghujam dalam padanya. Hawa dingin mencekat sekelilingnya dalam hitungan detik. Alana merasa katakutan, ia tak menyangka akan bertemu suaminya disana. Sontak kedua tangan Alana melemas hingga anjing mungil yang berada ditangan terlepas begitu saja.


"Eh Al, anjingnya lari." Abhi mengejar hewan mungil itu dan berusaha menangkapnya.


Alana tidak memperdulikan Abhi, pandangannya masih terpaut satu sama lain dengan Alan. Raut wajah Pria itu berubah dingin seketika. Alisnya saling bertautan. Bibirnya terkatup rapat. Matanya tajam setajam burung elang. Dadanya tampak naik turun. Sepertinya Alan sedang menahan amarah.


"Apa yang kamu lakukan disini?" suara Alan rendah namun sarat akan kegeraman. Tak melepaskan sedikitpun pandangan pada Alana.


"Emb, itu....A-ak.." Alana tergagap. Ia begitu ketakutan.


"Siapa yang mengijinkanmu pergi?!" Alan mulai berteriak, hingga membuat beberapa pengunjung menoleh kearah mereka. Tak terkecuali Abhi.


Melihat Alana dibentak seperti itu, Abhi mendekat. "Kenapa Anda berteriak kepadanya?! Ini tempat umum, jaga sikap Anda!"


Pandangan Alan teralihkan oleh Abhi. Kedua pria itu saling menatap satu sama lain. Alan menilai Abhi sekilas. Pria itu terlalu muda, mungkin lima atau enam tahun lebih muda darinya.

__ADS_1


"Ini bukan urusanmu bocah kecil. Jangan ikut campur!"


"Itu jadi urusanku jika Anda tidak tahu sopan santun! Membentak perempuan bukan hal yang pantas dilakukan ditempat seperti ini. Bahkan Anda tidak mengenalnya!"


"Siapa bilang aku tidak mengenalnya!"


"Kalau Anda mengenalnya pun tidak perlu juga Anda mempermalukannya seperti itu!" seru Abhi tak terima perbuatan Alan kepada Alana.


"Abhi sudah."


Alana menarik tangan Abhi membuatnya mundur beberapa langkah kebelakang. Sontak hal itu menarik perhatian Alan. Ia pandangi tangan Alana yang menyentuh tubuh pria lain. Otaknya terasa mendidih. Semudah itukah wanita bersuami berinteraksi dekat dengan pria lain? Bahkan didepan suaminya sendiri. Benar-benar tidak punya malu, pikir Alan geram.


"Lepaskan tanganmu Alana!"


"Eh?"


Dengan gerakan cepat Alan menarik kasar wanita itu hingga berdiri disampingnya. Alana meringis saat genggaman Alan begitu kuat menyentuh kulit tangannya. "Lepass.."


"Hei! Jangan sakiti wanita itu, brengsek!" Abhi meringsek maju. Namun Alan cepat menahan pria itu.


"Diam kamu! Apa hubunganmu dengannya? Berani sekali kamu mendekatinya!" ujar Alan.


Alan tersenyum smirk, "Dia istriku. Aku lebih berhak darimu."


Deg!


Abhi terpaku. "Is-istri?"


Pria itu mematung. Seolah ia salah pendengaran. Benarkah apa yang pria itu katakan. Alana sudah bersuami? Wanita yang ingin ia jadikan orang spesial dalam hidupnya, sudah memiliki suami?


"Aku tidak perlu mengulangnya. Jadi berhenti mengganggu istri orang. Jika kamu masih punya rasa malu." ujar Alan sarkas.


"Tidak mungkin. Alana... Itu tidak benar kan?" Abhi menatap Alana dengan sendu.


"It-itu benar. D-dia suamiku." suara Alana bergetar.


Deg!

__ADS_1


Saat itu juga, otak Abhi kosong. Ada sesuatu yang terasa menghujam ulu hatinya. Ia benar-benar bingung, sedih tak tahu harus berbuat apa.


"Abhii..."


Bapak Jonathan mendekati pria itu. Berdiri disampingnya. Abhi tampak terkejut, mengira-ngira apa yang dilakukan ayahnya disana. "Pa? Kenapa bisa ada disini?"


"Papa ingin membawamu pulang. Ayo pergi dari sini." Sorot mata Bapak Jonathan datar, namun sarat akan kekecewaan.


"Maaf Pak Jonathan, jadi pria ini adalah putra Anda?" Alan bertanya. Ia juga terkejut dengan kebetulan ini. Laki-laki yang dekat dengan istrinya ternyata adalah anak dari kliennya sendiri.


"Iya Pak Alan. Dia putraku yang kuceritakan padamu. Saya mewakilinya, meminta maaf atas keributan yang terjadi." balas Bapak Jonathan. Menundukkan kepala meminta maaf dengan tulus.


"Tidak masalah Pak Jonathan, saya yang harusnya bisa mengendalikan diri." ucap Alan.


"Hem, kalau begitu kami permisi. Kita bertemu lagi saat penentuan kerja sama. Ayo Abhi!"


"Pa, aku belum selesai.."


"Tidak ada yang perlu diselesaikan. Semua sudah berakhir. Ayo pulang!" tegas Pak Jonathan. Pria itu melangkah pergi menuju pintu keluar. Abhi merasa ayahnya sedang marah padanya. Tidak ada gunanya melawan. Akhirnya ia ikut pergi.


Abhi melihat Alana sekilas. Wanita itu hanya menunduk. Ia tak tahu lagi harus mengucapkan apa. Ia benar-benar tak menyangka dengan status wanita itu yang telah bersuami. Seandainya... Seandainya saja ini mimpi, ia berharap ini mimpi buruk yang tak akan pernah terjadi didunia nyata.


Selepas kepergian Abhi dan ayahnya. Alan memanggil Sofia yang sejak tadi diam berdiri menyaksikan kejadian itu.


"Iya Al, ah maksudku Pak?"


Alana melirik wanita itu. Ia baru tersadar jika wanita yang datang ke pernikahannya tempo hari itu ternyata bersama suaminya. Memangnya ada hubungan apa mereka?


"Bawa berkas hasil pertemuan hari ini ke kantor. Berikan pada Felix." perintahnya.


"Baik Pak. Anda juga akan ke kantor kan?" tanya Sofia.


"Tidak. Aku harus pulang. Kamu naik mobil kantor. Suruh sopir jemput kamu."


Sofia terdiam, ia terlihat kecewa. "Baik Pak."


"Ayo pulang!" Alan tanpa melepaskan tangannya, menarik Alana keluar. Wanita itu ingin menolak, tak ingin mengikuti Alan. Ia tahu, apa yang akan pria itu lakukan padanya. Apalagi jika pria itu tahu, jika dirinya telah mengurung bodyguardnya?! Ah, bagaimana keadaan Susan sekarang? Apa dia baik-baik saja? Alana sudah pasrah, sudah dipastikan, ia akan dapat hukuman besar setelah ini.

__ADS_1


"Masuk!"


Alan memerintahkan Alana masuk ke dalam mobil. Wajahnya dingin sedingin es batu! Alana hanya bisa meringkuk didalam sudut mobil. Membiarkan Alan membawanya pulang kerumah.


__ADS_2