Perjodohan Wasiat

Perjodohan Wasiat
Jalan-jalan


__ADS_3

"Susan! Apa kamu diluar? Bisa kamu masuk?!"


Alana berteriak memanggil pengawal wanitanya. Ia sedang terbaring diatas tempat tidur dengan selimut hampir menutupi seluruh tubuhnya. Mendengar pintu terbuka, buru-buru Alana menutup mata.


"Iya Non, saya disini. Ada apa memanggil saya?" Susan masuk dan berjalan mendekat. Berdiri disamping tempat tidur.


"Susan bisa kamu bantu saya ke kamar mandi. Aku merasa lemas sekali." lirih Alana.


"Nona kenapa? Nona sakit?" Susan terlihat panik.


"Badanku lemas sekali. Bisa bantu aku." Alana berusaha duduk dan melilitkan selimut sampai lehernya. Seolah-olah ia kedinginan.


"Saya bantu. Pelan-pelan." Susan membantu Alana turun dari tempat tidur. Berjalan beriringan dengan Alana. "Apa perlu saya matikan Ac-nya?"


"Tidak perlu. Cepat bawa aku kesana, sudah kebelet nih." Alana mengajak Susan berjalan cepat ke kamar mandi.


Alana ingin masuk kedalam tapi ia tiba-tiba berbalik. "Bisa kamu atur suhu airnya biar hangat. Aku tidak kuat pake air dingin." pinta Alana.


"Baiklah Nona, saya akan atur."


Susan masuk kedalam kamar mandi. Tampak mengotak- atik pengatur suhu air di samping kloset. Alana perlahan bergerak keluar. Ia mundur kebelakang dan segera menutup pintu. Pelan-pelan ia melakukannya saat Susan sibuk didalam. Hingga ia memutar kunci dipintu dan melepasnya sampai pintu itu terkunci dari luar. Alana tersenyum puas. Rencana awalnya telah berhasil.


"Lho Susan, kenapa pintunya tidak bisa dibuka?" Alana pura-pura panik dari luar kamar mandi.


"Nona Alana, kenapa bisa terkunci?!" Susan terdengar kesulitan membuka pintu. Menarik-narik handle maupun mendorong pintu tetap tak membuatnya terbuka.


"Sepertinya rusak. Biar kucarikan bantuan dulu ya. Kamu tetap didalam, tunggu sampai aku datang." seru Alana. Menarik sudut bibirnya keatas. Ia tahu, rencananya meloloskan diri akan berhasil.


"Iya Nona."


Alana segera melepaskan selimut dari tubuhnya. Sejak tadi, Alana telah memakai pakaian untuk berpergian. Ia tenteng tas miliknya dan memakai flatshoes dikaki kecilnya. Ia melirik sekilas pintu kamar mandi.


"Tunggu sebentar disana ya Susan. Maafkan aku. Aku janji akan segera kembali." tutur Alana merasa bersalah. Ia mengorbankan Susan demi kebebasannya. Hari ini ia akan pergi kemanapun ia mau. Sebelum Alan menyadari kepergiannya, Alana harus kembali sebelum pria itu pulang.


Tak butuh waktu lama, Alana berhasil keluar dari rumah. Walaupun ia beberapa kali berbohong pada penjaga agar diijinkan keluar.

__ADS_1


"Aku harus naik apa? Tidak ada kendaraan yang lewat." Alana menoleh kekanan dan kekiri, tak melihat angkutan umum sedikitpun. "Apa aku harus ke jalan Raya? Ah, pasti disana banyak kendaraan yang bisa membawaku pergi. Baiklah..."


Alana berjalan penuh semangat. Ia ingin segera menemukan angkutan umum atau kendaraan lain yang bisa ia tumpangi. Berkeliling kota menjadi tujuannya sekarang.


Tin Tin!!


Suara klakson yang keras dibelakang Alana begitu memekakkan telinga gadis itu. Ia sontak menoleh dengan raut wajah kesal.  Alana terdiam seketika, begitu melihat seseorang turun dari mobil itu.


"Ini beneran kamu Al? Ngapain disini sendirian?"


Abhi mendatangi Alana. Raut wajahnya tampak senang. Dengan pakaian rapi, ia seperti mau pergi ke suatu  tempat.


"Aku mau kesana." jawab Alana seraya menunjuk jalan Raya.


"Ngapain? Dimana wanita yang bersamamu kemarin?" dahi Abhi berkernyit heran.


"D-dia sibuk." ucap Alana beralasan. "Aku mau cari angkutan umum."


"Kenapa cari angkutan umum? Kamu mau kemana?"


"Emb, aku mau jalan-jalan saja." ucap Alana merasa tak nyaman terus dibombardir pertanyaan oleh Abhi.


"Eh?" Alana menatap Abhi. Pria itu terlihat serius, tak ada raut jenaka atau kejahilan diwajah pria itu. Justru senyum tulus untuk membantunya. Alana sejenak diam, berpikir tidak masalahkah ia menerima tawaran pria yang baru saja ia kenal itu?


"Hei, kenapa malah melamun. Ayo. Tenang saja aku tidak akan gigit." canda Abhi seraya berjalan ke mobil dan membukakan pintu samping. Ia memberi kode Alana untuk masuk.


Alana tidak punya pilihan lain, ia mengikuti Abhi dan masuk kedalam mobilnya. Toh, pria itu tetangganya. Tidak akan jadi masalah kan?


Abhi menutup pintu mobil, ia berputar dan masuk kedalam, duduk dibalik kemudi. Ia tampak senang, mencoba menahan senyum saking bahagianya bisa bertemu dengan gadis disampingnya. Tetangga barunya. Ia menoleh pada Alana.


"Jadi kita mau kemana?"


"Emb, disini tempat apa yang Bagus?" Alana balik bertanya, ia bingung harus pergi kemana.


Abhi tertawa kecil, "Kamu kayaknya bukan orang asli kota ini ya. Serius gak tau mau kemana?"

__ADS_1


Alana menggeleng. Wajah polos dan lugu Alana membuat Abhi gemas sendiri. Dalam hati ingin sekali menggoda gadis itu.


"Kalo gitu hari ini aku akan jadi tour guidemu. Akan kuajak kamu berkeliling kota ini. Oke." ujar Abhi.


"Oke." balas Alana. Sepertinya Abhi orang yang bisa dipercaya, pikirnya.


Abhi segera melajukan mobil. Menuju tempat yang sudah ada dalam pikirannya. Merasa senang karena hari ini merasa mendapat jackpot besar. Gadis yang ia tunggu kedatangannya selama 2 hari, sekarang ada disampingnya dan mereka akan pergi bersama.


^


Abhi memenuhi janjinya membawa Alana berkeliling Kota. Ia mengunjungi beberapa destinasi wisata dan tempat perbelanjaan. Mengajaknya makan dan juga nonton. Alana awalnya menolak saat Abhi berniat mentraktirnya makan dan nonton. Tapi pria itu terus membujuknya dan meminta Alana membayar jasanya dikemudian hari. Bisa dibayangkan bukan, jika Abhi bisa kembali keluar jalan-jalan dengan gadis itu lagi? Senangnya bukan main.


"Kita mau kemana lagi?"


Mereka tengah berada didalam perjalanan. Belum tahu kemana ia harus membawa gadis itu. Mungkin ia harus bertanya keinginan sang gadis?


"Aku tidak tahu. Aku sudah kenyang dan semua yang kumau sudah kita datangi. Tempat-tempat itu benar-benar menyenangkan. Nanti aku akan ajak kedua orangtuaku kesana. Mereka pasti senang." seru Alana dengan wajah sumringah. Tersenyum lebar menunjukkan betapa ia sangat menikmati jalan-jalannya hari ini. Semua itu tentu berkat Abhi. "Terima kasih ya."


"Seharusnya aku yang mengatakan itu. Kamu ingat sudah menyelamatkan anjingku, anggap saja ini balasan." balas Abhi.


"Oh ya, aku sampai lupa." Abhi menepuk jidatnya sendiri.


"Eh?" Alana memiringkan kepala menatap  Abhi.


"Anjingnya. Aku belum membelikan seekor anjing padamu. Aku sudah berjanji membelikanmu!" ujar Abhi.


"Ti-tidak perlu. Aku tid-"


"Janji harus ditepati. Aku akan membelikanmu sekarang." ucap Abhi tegas. Ia langsung memutar mobilnya ke jalur lain.


^


Abhi membawa Alana ke PetShop. Disana ada beberapa hewan peliharaan yang dijual. Ada Anjing, kucing, Kelinci dan lain sebagainya. Ada juga makanan dan peralatan untuk memelihara hewan. Disana juga ada dokter hewan yang khusus disediakan pemilik toko. Jika nantinya ada pengunjung yang ingin melakukan check up hewan peliharaannya maupun untuk vaksin.


Alana berjongkok didepan kandang berisi seekor anjing berwarna putih salju berjenis pomeranian. Bulu-bulunya begitu halus, berukuran mungil. Ia terlihat tertarik dengan hewan itu

__ADS_1


"Jadi pilih yang itu?"


Alana mendongakkan kepala seraya tersenyum manis. Ia anggukkan kepala pada Abhi. Wajahnya begitu senang, melihatnya Abhi ikut tersenyum. "Oke, kita beli itu."


__ADS_2