Perjodohan Wasiat

Perjodohan Wasiat
Kemarahan Alan


__ADS_3

Mobil memasuki halaman rumah. Berhenti tepat didepan pintu masuk. Alan bergegas turun dari mobil. Ia mengitari mobil dan membuka pintu samping Alana. Wanita itu dengan menundukkan kepala terpaksa turun. Tak berani menatap Alan yang sejak tadi menatapnya dingin.


Alan menarik tangan Alana masuk kedalam rumah. Pria itu tak peduli dengan Alana yang meringis sakit di pergelangan tangannya.


"Pelayan! Pelayan!!" teriak Alan menggelegar seisi rumah. Memanggil para pelayannya.


"Iya Tuan?" Ada 5 orang datang menghampiri Alan. Mereka semua kompak menundukkan kepala. Tak berani menatap sang majikan yang terdengar marah.


"Dimana pengawal istriku? Kenapa kalian semua membiarkannya keluar rumah!? Apa kalian sudah bosan bekerja hah?!! Mau dipecat!!?" teriak Alan.


"Maaf Tuan. Kami semua tidak tahu jika nona keluar. Kami salah, kami lalai, tolong maafkan kami." salah seorang pelayan pria bersimpuh didepan Alan. Memohon pengampunan dari Alan.


"Dimana pengawal istriku?"


"Su-susan tidak terlihat sejak pagi Tuan. Kami berpikir, dia pergi dengan Nona?" ucap pelayan itu.


Alan melirik tajam ke arah Alana. Wanita itu semakin menunduk ketakutan.


"Dimana pengawalmu?" tanyanya dengan nada geram.


Alana diam. Tubuhnya penuh keringat dingin. Ia tidak mau Alan tahu apa yang sudah ia perbuat. Situasinya sudah diluar rencananya. Ia tidak tahu hal gila apa yang akan dilakukan Alan padanya, jika pria itu tahu bahwa ia telah mengurung Susan, pengawalnya dikamar mandi, bisa saja saat ini pria itu membunuhnya? Alana bergidik ngeri.


Melihat Alana diam saja. Alan kembali menatap satu persatu pelayannya. "Baiklah jika kamu tetap bungkam. Mereka yang akan menerima akibatnya. Dengarkan aku baik-baik! Mulai hari ini kalian semua kupecat! Tidak ada pesangon ataupun gaji bulan ini. Silahkan kemasi barang-barang kalian dan pergi dari sini!"


"Tidak! Tolong jangan pecat kami Tuan...Huu.."


"Kami janji akan bekerja dengan baik! Tolong jangan pecat kami..."


"Iya Tuan, tolong maafkan kami. Huu.."

__ADS_1


Rintihan dan teriakan mereka menyayat hati Alana. Alan sungguh kejam, ia sama sekali tidak memperdulikan perasaan mereka. Dia yang berbuat salah, kenapa mereka yang menjadi kena hukumannya. Itu tidak adil. Walaupun dirinya takut mengakuinya, setidaknya jangan melampiaskan pada orang yang tidak bersalah bukan. Dia memang lelaki kejam tak punya hati!!


"Jangan pecat mereka, aku mohon. Aku yang salah. Aku yang kabur dari rumah! Biarkan mereka bekerja. Aku.. Aku akan menerima hukuman darimu. Tapi tolong jangan usir dan pecat mereka!!" Alana memohon pada Alan. Bulir mata tak terasa jatuh diwajahnya. Ia merasa bersalah.


"Dimana pengawalmu?" Alan kembali bertanya keberadaan Susan.


"Dia diatas. Dikamarku." jawab Alana cepat.


"Tunjukkan."


Alana mengangguk dan berlari ke atas. Alan mengikutinya dari belakang. Alana telah sampai didepan kamar, ia buka pintu dan masuk kedalam.


Suara Susan terdengar dari dalam kamar mandi, berteriak kecil meminta tolong. Alana terhenyak, ia tak mengira  membuat Susan menderita seperti itu. Alana cepat-cepat memutar kunci pintu kamar mandi. Dan membukanya.


"Nona!" Susan berteriak senang. Wanita itu langsung bersujud didepan Alana. "Terima kasih sudah membukanya nona. Terima kasih."


"Kamu tidak perlu berterima kasih pada orang yang telah menguncimu." Alan berdiri disamping pintu kamar seraya bersedekap dada.


"Sus, maafkan aku. Tolong maafkan aku. Hiks.." Alana memeluk Susan. Ia akhirnya menumpahkan semua tangisnya pada pengawalnya. Rasa bersalah telah menghantam dirinya. Ia sama sekali tidak punya niat membuat Susan terkunci didalam Kamar Mandi selama itu. Ia harusnya kembali segera setelah pergi. Tapi ia justru kesenangan bersama Abhi dan melupakan Susan disini dalam keadaan terkunci. Sungguh ia merasa bersalah.


"Maaf ya Sus. Aku hanya ingin pergi sebentar. Aku sungguh tidak berniat melakukan itu padamu. Maafkan aku ya....Hiks....." lirih Alana bersedih.


"Iya Non. Yang penting Anda kembali dengan selamat." balas Susan.


"Sudah selesai? Bisa tinggalkan kami." Tukas Alan yang berwajah tak sabar. Pria itu sama sekali tak menurunkan tatapan dinginnya pada Alana.


"Baik pak. Kalau begitu saya permisi."


"Jangan pergi Sus. Kumohon..." bisik Alana seraya menarik tangan Susan agar tetap tinggal. Tak ingin berdua bersama pria yang entah sedang berencana apa kepadanya. Kesalahannya benar-benar besar, tidak mungkin pria itu membiarkan dirinya tanpa dihukum bukan? Alana takut sendiri.

__ADS_1


"Keluar." Perintah Alan kembali. Nadanya sangat mengancam. Seolah tak ingin siapapun membantahnya.


"Ba-baik. Sa-saya permisi." Susan terlihat takut. Ia melepaskan diri dari Alana. "Maafkan saya Non." bisiknya menyesal. Setelah itu ia keluar dari kamar dan menutup pintu.


Alan mulai berjalan mendekati Alana. Tatapannya sungguh tajam, seolah mampu menembus isi kepala Alana. Wanita itu tak berani membalas tatapannya. Yang ia lakukan justru memundurkan langkah perlahan.


"Apa begini karakteristikmu sebenarnya? Selalu menyulitkan orang dan menyiksa mereka?" ujar Alan penuh maksud. Setiap perkataanya penuh dengan sindiran keras.


"A-aku tidak bermaksud melakukannya. Se-semua kulakukan karena terpaksa. Karena kamu mengurungku disini." balas Alana mencari pembelaan diri.


"Mengurung? Sejak kapan aku mengurungmu. Aku selalu bertanya apa kamu mau pergi setiap hari. Aku selalu mengijinkan kemanapun kamu pergi asal mengajak pengawalmu! Dimana salahku?" ucap Alan.


"Ya, Kamu memang mengijinkanku, tapi setelah itu kamu melempar banyak pertanyaan yang membuatku tidak nyaman! Kemarin aku hanya keluar rumah satu jam, kamu serang aku dengan berbagai pertanyaan. Bagaimana jika aku pergi lebih dari itu?" balas Alana. Ia memberanikan diri menatap Alan. Ia tidak salah jika menginginkan kebebasan. Ia bukan wanita yang suka diatur. Ini hidupnya dan Alana berhak mencari kebahagiaannya sendiri.


"Jadi kamu lebih suka pergi bersama pria itu?" tanya Alan berasumsi. Wajah pria tengil itu kembali mengusiknya.


"Hah? Kenapa membahas dia?"


"Jawab saja! Kamu senang bukan bisa pergi dengannya?!"


"Jangan asal bicara ya."


"Aku tidak asal bicara! Sejak kapan kalian saling mengenal? Sejak kapan kamu bermain dengannya dibelakangku?!" Alan semakin meringsek maju. Mengingat pria itu, entah kenapa membuat emosinya naik. Apalagi saat Alana disentuh olehnya. Walaupun hanya sebatas menyentuh tangan.


"Siapa yang main dibelakangmu! Aku tidak berselingkuh dengannya! Ah, untuk apa juga aku menjelaskan dia padamu. Toh kita tidak pernah memiliki perasaan apapun!" balas Alana.


"Tentu aku butuh penjelasan tentangnya! Jika dia merusak pernikahan ini dan memiliki perasaan padamu, tentu dia akan merebutmu dariku! Tidak akan pernah kuijinkan siapapun mengambilmu!" seru Alan.


Alana terdiam. Menelaah semua perkataan Alan. Pria itu berbicara seakan tak rela ia direbut orang. Ia juga tidak mau pernikahan mereka hancur. Padahal bukankah selama ini, tak ada secuil rasa sedikitpun untuknya? Pernikahan ini juga hanya perjodohan orang tua mereka. Apa sebenarnya yang diinginkan pria itu?!

__ADS_1


"Apa tujuanmu? Kenapa kamu takut dia mengambilku? Apa yang sedang kamu rencanakan?!"


__ADS_2